alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Bupati: Stop Gunakan Jebakan Tikus Beraliran Listrik

Instruksikan Semua PPL Datangi Petani

15 Oktober 2020, 13: 30: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Bupati: Stop Gunakan Jebakan Tikus Beraliran Listrik

(AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Tragedi tewasnya empat petani di Desa Tambahrejo, Kecamatan Kanor, menjadi perhatian serius pemangku kebijakan. Bupati Bojonegoro Anna Mu’awanah menginstruksikan dinas pertanian (disperta) serta petugas penyuluh lapangan (PPL) untuk memastikan di lapangan tak ada lagi jebakan tikus beraliran listrik.

Selain itu, pemkab dalam jangka panjang akan membuat kebijakan pertanian hayati. Termasuk mengalokasikan penganggaran rumah burung hantu (rubuha) untuk menekan hama tikus.

‘’Sudah perintahkan disperta dan PPL, memastikan tak ada lagi jebakan tikus dari listrik,’’ kata Bu Anna kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (14/10). Bu Anna menjelaskan, kejadian di Desa Tambahrejo, Kecamatan Kanor, diharapkan menjadi korban terakhir dari kejadian jebakan tikus beraliran listrik. Sehingga, setelah takziah ke rumah duka bersama forkopimda setempat, dilanjutkan menentukan langkah taktis untuk jangka pendek dan jangka panjang.

Jangka pendek, menurut Bu Anna, dengan memastikan tak ada lagi jebakan tikus beraliran listrik terpasang. Sehingga, PPL diminta aktif dan segera bergerak ke lapangan melarang petani memasang jebakan beraliran listrik.

Sementara, jangka panjang, menurut Bu Anna, harus disiapkan regulasi pertanian hayati, ramah lingkungan, dan membasmi hama dengan predator. Dalam konteks hama tikus, disiapkan rumah burung hantu.

‘’Tahun depan siapkan anggaran rubuha,’’ tandas Bu Anna. Kepala Dinas Pertanian Bojonegoro (Disperta) Helmy Elisabeth memastikan mulai hari ini (kemarin, Red) dan selanjutnya tak ada lagi petani di Bojonegoro memasang jebakan tikus beraliran listrik.

Sesuai pemetaan sementara, di Kecamatan Kanor dan Sumberrejo selama ini paling banyak petani memasang jebakan membahayakan itu. Setelah kejadian memakan empat korban jiwa di Desa Tambahrejo, dipastikan tak ada lagi ke depan petani memasangnya.

‘’Sesuai pemetaan kami, di Kecamatan Sumberrejo dan Kanor itu terbanyak memasang jebakan tikus beraliran listrik,’’ ujar mantan kepala dinas sosial itu. Helmy menyadari langkah diambil petani itu atas dasar kegelisahan petani menghadapi hama tikus.

Sesuai teorinya, membasmi hama itu perlu kekompakan kelompok tani (poktan). Karena dengan membasmi hama secara serentak itu akan lebih maksimal hasilnya dibanding hanya beberapa petani, sedangkan petani lainnya membiarkan saja.

’’Prinsipnya membasmi hama itu harus serentak,’’ ujarnya. Khusus hama tikus, menurut Helmy, bisa dilakukan dengan berbagai langkah. Prinsipnya dengan memasang predator tikus, yakni burung hantu.

Sesuai kalkulasinya, setiap burung hantu mampu memangsa sekitar 20 tikus. Dan, wilayah peredarannya bisa mencapai 5 hektare. ‘’Tolong para petani ikut menjaga burung hantu, agar tikus terkendali,’’ ucapnya.

(bj/rij/msu/ai/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia