alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarbojonegoro
Home > Lamongan
icon featured
Lamongan

Hanifah Nila Wardani, Blogger Profesional Asal Kecamatan Tikung

Pernah Jadi Akuntan di Perusahaan Asing

14 Oktober 2020, 17: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

UPLOAD MALAM HARI: Hanifah Nila Wardani, ibu rumah tangga yang menjadi blogger profesional.

UPLOAD MALAM HARI: Hanifah Nila Wardani, ibu rumah tangga yang menjadi blogger profesional. (AUDINA HUTAMA PUTRI/RDR.LMG)

Share this      

Radar Lamongan - Aktivitas sehari-hari Hanifah Nila Wardani tidak berbeda jauh dengan ibu rumah tangga (IRT) pada umumnya. Setiap pagi hingga sore, perempuan 32 tahun ini mengasuh dan mendampingi anak-anaknya yang sedang mengikuti pembelajaran daring maupun mengaji. Saat malam, Hanifah mulai disibukkan dengan pekerjaannya sebagai blogger dan influencer.

‘’Makanya untuk menyelesaikan job satu tulisan butuh waktu dua hari. Kita juga butuh review dari klien. Terutama untuk koreksi keyword supaya masuk Google. Karena pekerjaan sebagai blog sifatnya dadakan. Materi dan konten-konten lainnya pokoknya selalu saya prepare malam hari. Upload-nya juga malam hari,’’ tuturnya kemarin (13/10).

Hanifah sudah mengenal blogging sejak 2010 menggunakan domain multiply. Setahun kemudian, dia memilih untuk vakum nge-blog karena fokus bekerja sebagai akuntan di salah satu perusahaan asing di Gresik.

Setelah melahirkan anak pertamanya, perempuan yang tinggal di Kecamatan Tikung ini memutuskan untuk resign dari pekerjaannya tersebut. Meskipun menjadi IRT, Hanifah tetap melanjutkan hobinya menulis di blog. Dari blog itu juga, dia berusaha menjaring pertemanan dan mendapatkan jalan rezekinya.

‘’Ada salah satu blogger cerita kalau bisa nulis artikel nanti bisa dapat sekian ratus ribu dari kerjasama dengan brand atau ikut agency. Tahun 2017 ada undangan event launching produk gadget. Kita diminta review di blog dan instagram. Saat itu fee yang saya dapatkan Rp 350 ribu,’’ kenangnya.

Semula, Hanifah tidak pernah berfikir akan menekuni profesi sebagai blogger dan influencer. Lambat laun, rekan-rekannya sesama blogger semakin bertambah. Dia pun juga kerap dihubungi oleh beberapa agency yang meminta bantuannya untuk campaign sebuah brand.

Seiring waktu, pihak agency dan klien juga meminta para blogger untuk mereview brand-nya dengan media sosial (medsos) yang lain. Hanifah sering mendapat job untuk me-review brand properti, susu anak-anak, dan suplemen kesehatan.

‘’Ada paket bundling-nya sekarang. Rata-rata fee-nya antara Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu. Apalagi selama pandemi banyak orang yang lebih banyak buka sosmed. Strategi marketing brand saat ini lebih banyak mengalihkan biaya promosinya melalui media massa dan media sosial dibanding bikin event,’’ jelasnya.

Menurut Hanifah sebelum agency dan klien brand menggunakan jasa blogger, mereka akan mengevaluasi dulu jumlah page view di blog dan jumlah insight di akun instagram. Untuk blog kualifikasinya adalah jumlah viewer minimal 100 dalam sebulan. Sedangkan untuk instagram, jumlah insight-nya minimal dua persen dari jumlah follower seluruhnya. Saat ini jumlah follower Hanifah mencapai 11.600 orang.

‘’Kalau jumlah viewer blog bisa dilihat pakai Google Analytic. Kalau instagram dilihat dari tingkat engangement-nya. Kita antarsesama komunitas blogger saling melakukan blog walking untuk menambah viewer dan saling follow instagram. Kunci bertahan di profesi ini adalah menjaga hubungan yang baik antar sesama,’’ ujarnya.

Agar blog dan instagramnya tetap dikunjungi pembaca, Hanifah kerap menyelipkan konten-konten organik atau murni kreativitasnya sendiri. Seperti membuat infografis tentang tips berbisnis, berbagi quotes inspiratif, atau mereview buku.

Menurut ibu dua anak ini, justru konten organiklah yang mampu mendulang banyak viewer dan meningkatkan engangement dibanding konten tentang brand. ‘’Saya pernah nulis tentang review sebuah buku, ternyata angka page view-nya nyampai 400 hingga 500. Sehingga kita perlu sekali memperhatikan konten-konten di media kita agar bisa mendongkrak angka viewer,’’ ujarnya.

Meskipun Hanifah telah memiliki banyak jejaring komunitas dan agency blogger, dia tidak ingin terikat pada satu komunitas dan agency. Hanifah memilih untuk menjadi blogger dan influencer independen. ‘’Saya masih ada rasa ingin meningkatkan penjualan (tulisan) secara alami lewat pengalaman personal,’’ tuturnya.

(bj/yan/din/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia