alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Rencana Hibah Rumah Burung Hantu Gagal Dilaksanakan

14 Oktober 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Rencana Hibah Rumah Burung Hantu Gagal Dilaksanakan

Share this      

Radar Bojonegoro - Meninggalnya empat warga Desa Tambahrejo, Kecamatan Kanor patut menjadi atensi semua pihak. Kaitannya melahirkan solusi konkret membantu para petani melawan hama tikus. Metode menggunakan burung hantu menjadi salah satu solusi terdepan.

Sedianya, metode tersebut diterapkan para petani di sejumlah wilayah. Contohnya kelompok tani (poktan) di Desa Semenpinggir, Kecamatan Kapas. Namun, masih belum semua petani menerapkan ataupun memahami metode pengendalian hama tikus menggunakan burung hantu atau kukuk beluk.

‘’Pemasangan rumah burung hantu (rubuha) ini sudah setahun lalu. Ada sekitar 10 rubuha,” kata Sutrisno, petani asal Desa Semenpinggir kemarin (13/10). Lanjut petani juga tergabung kelompok tani (poktan) desa setempat itu, setiap petak sawah sudah terjangkau burung hantu untuk menumpas populasi hama tikus. Saat ini, areal persawahannya ditanami padi. Sebelumnya usai memanen kacang hijau.

‘’Cukup membantu (mengen dalikan hama tikus). Karena yang dimakan itu organ dalam tikus. Jadi butuh makanan (tikus) banyak,” ujarnya. Menurut dia, pengendalian secara alami dirasa lebih membantu. Seperti menggunakan burung hantu hingga ular. Namun, terkait ular, permasalahannya kerap diburu orang karena ditakutkan menjamah permukiman sekitar.

‘’Misalkan tidak ke rumah-rumah warga, sebenarnya ular juga bisa ikut membantu,” tutup dia. Di sisi lain, sedianya Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro telah mengalokasikan anggaran hibah pengadaan rumah burung hantu (rubuha) kepada sejumlah poktan. Tahun ini maupun tahun sebelumnya.

Merujuk data di website APBD. BPKAD.id setempat, tahun ini telah dipasang anggaran Rp 172,9 juta. Hibah rubuha kepada 23 poktan desa pada 10 kecamatan. Setiap poktan dialokasikan Rp 7,5 juta. Namun, hibah rubuha tahun ini ternyata gagal.

Kepala Disperta Bojonegoro Helmy Elisabeth membenarkan bahwa pemkab telah mengalokasikan anggaran hibah pengadaan rubuha. Sayangnya, rubuha urung direalisasikan usai merebaknya pandemi Covid-19.

‘’Tahun ini alokasi rubuha tidak direalisasikan karena refocusing anggaran untuk Covid-19. Tapi, mulai 2014 sampai 2019 ada 306 unit rubuha tersebar di beberapa kecamatan,” katanya kemarin.

Menurut dia, pasca musibah empat petani tewas di Desa Tambahrejo, sosialisasi bahayanya pengendalian hama tikus menggu nakan setrum listrik akan digalakkan. Juga imbauan metode yang aman dan cukup efektif.

Namun, ketika disinggung memungkinkan atau tidaknya membuat regulasi larangan menggunakan setrum listrik? Helmy masih belum bisa membeberkan. Pihaknya masih akan mengkaji lagi kemungkinan bentuk regulasinya. ‘’Ini sedang kami bahas juga. Apakah regulasinya itu perda, perbup atau cukup perdes,” ujar dia.

(bj/dny/rij/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia