alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Satreskrim Polres Bojonegoro Tetapkan Dua Tersangka Jebakan Tikus Maut

14 Oktober 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

SUMBER LISTRIK: Tim inafis satreskrim melakukan olah TKP dan mengecek saluran listrik di salah satu rumah warga.

SUMBER LISTRIK: Tim inafis satreskrim melakukan olah TKP dan mengecek saluran listrik di salah satu rumah warga. (NURCHOLISH/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Petani yang memasang jebakan tikus listrik harus segera membong karnya. Ternyata, Satreskrim Polres Bojonegoro menetapkan dua tersangka terkait empat petani sekeluarga tewas kesetrum jebakan tikus di Desa Tambahrejo, Kecamatan Kanor.

Dua tersangka, yakni berinisial S dan T. Hingga kemarin siang (13/10) kedua tersangka warga Desa Tambahrejo, masih menjalani pemeriksaan. Hanya, tersangka belum dilakukan penahanan.

Selain penetapan tersangka, kepolisian memastikan larangan memasang jebakan tikus listrik. Kapolres Bojonegoro AKBP M. Budi Hendrawan menjelaskan, bahwa tim penyidik satreskrim telah memeriksa setidaknya lima saksi usai olah tempat kejadian perkara (TKP).

Setelah itu, dilakukan gelar perkara. Akhirnya, menetapkan dua tersangka berinisial S dan T. “Penyidik sudah tetapkan dua tersangka. Keduanya juga masih menjalani pemeriksaan, belum dilakukan penahanan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (13/10).

Kapolres menjelaskan, bahwa tersangka S selaku pemilik sawah. Sedangkan, tersangka inisial T yang memberi izin kepada S mengambil arus listrik dari rumahnya untuk keperluan jebakan tikus.

Kedua tersangka dijerat pasal 359 KUHP tentang barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain meninggal dunia. Ancaman hukuman paling lama lima tahun penjara atau pidana kurungan paling lama satu tahun.

“Iya, tersangka dijerat pasal 359 KUHP,” ujar perwira asli Bojonegoro ini. Penetapan tersangka, sekaligus menyita sejumlah barang bukti. Seperti bambu penyangga kawat jebakan tikus, beberapa sandal korban, dan hasil visum dari tim inafis serta dokter.

Hasilnya yang menyatakan ada luka bakar pada beberapa bagian tubuh korban. Kapolres menegaskan, bahwa dilarang memasang jebakan tikus beraliran listrik di sawah. Karena membahayakan masyarakat. Jajaran polsek pun diminta agar berkoordinasi dengan pemerintah desa mencegah pemasangan jebakan tikus beraliran listrik.

“Biar bagaimanapun tidak boleh memasang jebakan tikus beraliran listrik. Kan bukan sekali ini saja jatuh korban jiwa. Jadi tetap dilarang. Solusi lain mengusir atau membasmi hama tikus juga ada seperti disemprot sarangnya atau pakai umpan racun tikus,” tegas Budi sapaannya.

Adapun empat korban meninggal dunia akibat jebakan tikus beraliran listrik terdiri atas Parno, 55, Riswati, 50, serta dua anaknya, Jayadi, 32, dan Arifin, 21. Sementara itu, Humas PLN Bojonegoro Hekso Wisoto juga menegaskan dan melarang keras pemasangan jebakan tikus beraliran listrik. Karena taruhannya nyawa seseorang.

Hekso mengatakan, berdasar UU Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, setiap instalasi listrik apapun harus ada sertifikat laik operasi (SLO). Jadi, tidak bisa asal-asalan menarik kabel dari rumah untuk jebakan tikus.

“Kami juga ada petugas P2TL (penertiban pemakaian tenaga listrik) untuk menghindari terjadinya pelanggaran dalam pemakaian listrik,” tambahnya. Hekso menjelaskan pertolongan pertama ketika ada orang tersengat listrik wajib mematikan induk aliran listrik tersebut. Bukan dengan cara langsung menolong korban, karena apabila induk listrik belum diputus, tentu berpotensi orang yang menolong ikut tersengat listrik.

“Sebelum memberikan pertolongan pada korban tersengat listrik harus dipastikan sumber atau induk arus listrik itu telah diputus atau dimatikan terlebih dahulu,” pungkasnya.

(bj/rij/gas/cho/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia