alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Tak Bisa Diolah, Sampah Diapers Kian Bahayakan Ekosistem Air

09 Oktober 2020, 16: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Tak Bisa Diolah, Sampah Diapers Kian Bahayakan Ekosistem Air

(ISTIMEWA/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Pengolahan sampah diapers atau popok sekali pakai menjadi permasalan yang belum bisa atasi karena belum bisa diolah. Padahal penggunaannya semakin marak. Sekitar tiga sampah diapers diproduksi setiap bayi perharinya.

Kepala Bidang Persampahan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupetan Bojonegoro Sholeh Fatoni mengatakan masih terdapat masyarakat membuang sampah di sungai. Salah satunya sampah diapers. Masyarakat belum bisa sadar bahaya sampah bagi lingkungan, terutama ekosistem.

“Sadar sampah itu tidak bagus jika di dalam rumah, tapi masih belum sadar kalau sampah berbahaya bagi lingkungan,” ujarnya. 

Menurut Fatoni sampah plastik khususnya diapers berbahaya bagi ekosistem air. Karena bahan diapers berbentuk butiran, seperti makanan ikan. Namun ketika dimakan sulit dicerna ikan. Membuat ikan mati kelapan meski perusnya penuh.

“Bahan diaper kalau di air seperti makanan ikan, tapi karena dari plastik, sulit dicerna ikan,” jelasnya.

Pihaknya mengaku belum memiliki data terkait jumlah sampah diapers diproduksi tiap harinya. Namun sebenarnya bisa dilihat dari data balita berusia 1-3 tahun. Sehari minimal tiga diaper akan dipakai.

“Belum bisa kira-kira, belum ada yang mengukur dan mendata,” terangnya.

Fatoni menerangkan sampah diapers belum bisa diolah atau didaur ulang. Untuk mengatasinya hanya dikubur. Dan butuh waktu sekitar 80-100 tahun agar bisa terurai. Karena merupakan senyawa plastik.

“Saat ini diapers cukup dikubur dulu mas, atau dipakai sebagai media tanam pot karena menyimpan air,” ungkapnya.

Fatoni mengaku sampah diapers yang dibuang ke sungai masih terkendali. Selebihnya kebanyakan dibuang dengan sampah dari rumah tangga. Kemudian di TPA di kubur.

Namun untuk mengurangi permasalahan sampah di sungai. Tidak hanya sampah diapers, pihaknya memberikan pengetahuan tentang bahayanya sampah plastik bagi kehidupan air. Juga pemberian peralatan kebersihan untuk warga sekitar. 

“Memang perlu waktu dan kerja sama, terutama di daerah yang aliran sungainya berada di belakang rumah,” jelasnya.

Afni Afifah salah satu ibu muda mengatakan setiap hari menggunakan dua hingga tiga diapers. Dan sampah diapers selalu di kubur. Karena belum boleh di bakar. 

“Kepercayaan orang dulu sebelum tumbuh gigi belum boleh dibakar,” ungkapnya. (irv)

(bj/rij/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia