alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Dalang Kasus Pemerkosaan Dituntut Denda dan Penjara 10 Tahun

01 Oktober 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

BABAK GENTING: Empat terdakwa saat ditanya Kapolres Bojonegoro. Kemarin, mereka menjalani sidang tuntutan di PN setempat.

BABAK GENTING: Empat terdakwa saat ditanya Kapolres Bojonegoro. Kemarin, mereka menjalani sidang tuntutan di PN setempat. (BHAGAS DANI PURWOKO/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Sidang pemerkosaan dengan korban siswi berusia 15 tahun asal Kecamatan Sumberrejo memasuki babak genting. Empat pemerkosa asal Kecamatan Kanor, menjalani sidang tuntutan kemarin (30/9). Empat pemuda mendapat tuntutan berat.

Jaksa penuntut umum (JPU) Lyna Primasari membacakan tuntutan dengan seksama. Namun, dari empat pemuda tersebut, jaksa berjilbab ini memberi tuntutan berbeda. Disesuaikan dengan bobot peran empat terdakwa. Tim JPU menuntut Ahmad Sahroni pidana penjara selama 10 tahun. Terdakwa berusia 25 tahun itu juga dituntut pidana denda Rp 10 juta subsider kurungan enam bulan.

Sedangkan tuntutan terhadap M. Abdul Aziz, M. Roem Assidiq, dan Luqman Khotibi, yakni pidana penjara selama delapan tahun. Juga pidana denda Rp 10 juta subsider pidana kurungan enam bulan.

Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro Arfan Halim menjelaskan, alasan tuntutan terhadap Ahmad Sahroni lebih tinggi dari tiga temannya karena menjadi otak dari tindakan pemerkosaan.

Ahmad Sahroni berkenalan dengan korban melalui Facebook. Lalu mengajak korban keluar jalan-jalan. Selanjutnya, Ahmad Sahroni baru mengajak ke tiga temannya tersebut untuk bersama-sama melakukan pemerkosaan secara bergantian di semak-semak turut Desa Piyak Kecamatan Kanor.

“Tuntutan yang kami berikan sesuai peran mereka masing-masing. Ahmad Sahroni ini lebih tinggi tuntutannya karena berkenalan, lalu mengajak korban jalan-jalan dan diperkosa,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Humas Pengadilan Negeri (PN) Bojonegoro Isdaryanto mengatakan, berdasar tuntutan JPU, perbedaan bobot tuntutan karena peran empat pemuda ini berbeda. Ahmad Sahroni sebagai dalang utama memiliki ide untuk melakukan tindakan bejat itu.

Sementara, Ahmad Sahroni mengajak ketiga temannya tersebut. “Iya informasinya ada perbedaan peran tiap terdakwa, tuntutan lebih tinggi karena ide awal berasal dari dia (Ahmad Sahroni),” katanya.

Isdaryanto menjelaskan, berkas berita acara pemeriksaan (BAP) keempat terdakwa juga dipisah menjadi dua. Satu terdakwa Lukman Khotibi disendirikan berkas BAP-nya. Sebab, Lukman Khotibi diduga melakukan pencabulan. Berbeda dengan tiga temannya yang melakukan persetubuhan.

“Benar, berkasnya jadi dua. Sama-sama melanggar UU Perlindungan Anak, tapi beda pasal. Pencabulan itu pasal 82, sedangkan persetubuhan itu pasal 81,” jelasnya. Perlu diketahui, kronologi kejadian pemerkosaan menimpa siswi 15 tahun itu berawal ketika tersangka Ahmad Sahroni berkenalan dengan korban melalui Facebook, 8 Juni lalu.

Obrolan berlanjut melalui WhatsApp dan tersangka merayu korban agar mau diajak jalan-jalan. Tersangka juga mengiming-imingi uang Rp 3 juta kepada korban. Akhirnya korban baru saja lulus SMP itu bersedia bertemu dengan tersangka akrab disapa Roni itu di SPBU Medalem, Sumberrejo sekitar pukul 19.50.

Tersangka akhirnya berboncengan dengan korban jalan-jalan di sekitar Kecamatan Sumberrejo. Lalu, tersangka menghubungi ketiga temannya yakni Abdul Aziz, Luqman Khotibi, dan Roem Assidiq saat di perjalanan.

Ketika sudah di TKP, korban ditarik dan diajak ke semak-semak di tanggul tepi Sungai Bengawan Solo turut Desa Piyak, Kecamatan Kanor sekitar pukul 22.00. Selanjutnya, keempat tersangka melakukan pemerkosaan terhadap korban secara bergantian. Lalu korban diantar pulang tersangka Abdul Aziz.

(bj/rij/gas/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia