alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarbojonegoro
Home > Lamongan
icon featured
Lamongan

Siswa SMA Negeri 1 Lamongan Buat Papan Komposit Berbahan Ampas Tebu

25 September 2020, 15: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

SENANG: Shevita Nurhalisa, Bilgis Laily Pratama, dan Sabrina Naswa Anastasya, menunjukkan papan komposit produksi mereka yang berhasil meraih prestasi di World Invention Competition (WICE) 2020 di Kuala Lumpur, Malaysia.

SENANG: Shevita Nurhalisa, Bilgis Laily Pratama, dan Sabrina Naswa Anastasya, menunjukkan papan komposit produksi mereka yang berhasil meraih prestasi di World Invention Competition (WICE) 2020 di Kuala Lumpur, Malaysia. (ISTIMEWA/RDR.LMG)

Share this      

Radar Lamongan - Shevita Nurhalisa, 16, Bilgis Laily Pratama, 16, dan Sabrina Naswa Anastasya, 16, berbahagia. Karya mereka, papan komposit berbahan dasar sekam padi, ampas tebu, dan serat siwalan mampu bersaing di ajang World Invention Competition (WICE) 2020 di Kuala Lumpur, Malaysia (18/9).

‘’Iya Mas, kemarin baru saja diumumkan mendapatkan juara 2 WICE 2020,’’ tutur Shevita Nurhalisa. Ide membuat papan kompo sit muncul setelah dia melihat banyak sekam padi terbuang sia – sia di beberapa desa saat panen raya. Selain itu, limbah tebu juga berserakan di sekitar tempat penggilingan penjual es.

‘’Jadi papan komposit tak hanya dari kayu akan tetapi dari limbah yang ramah lingkungan,’’ tuturnya. Proses pembuatan papan komposit dimulai dengan menghaluskan sekam. Selain itu, ampas tebu dan serabut siwalan digunting sepanjang 1 sentimerer (cm). Setelah itu dilakukan pencampuran lem sterofoam dan diaduk menjadi satu.

Selanjutnya, dilakukan pencetakan dengan ukuran panjang 20 cm, lebar 15 cm, dan ketebalan 1,5 cm. ‘’Kalaupun sudah dicetak, dilakukan pengeringan selama kurang lebih 2 minggu lamanya,’’ ujar siswi kelas XI SMAN 1 Lamongan tersebut.

Menurut dia, bahan-bahan tersebut sangat mudah dicari di lingkungan sekitar dibandingkan bahan aslinya, serpihan kayu. Selain itu, perbandingan harganya cukup jauh. Namun, Shevita tidak menyebutkan secara detail nilai rupiah perbandingannya.

‘’Papan buatan saya ini juga bisa menahan beban berat kurang lebih 80 kilogram. Tentunya nyaman saat digunakan,’’ tuturnya. Menurut Shevita, papan buatan dirinya bersama temannya lebih ringan dibandingkan papan di pasaran.

Selama proses pembuatan, dia merasakan kesulitan setelah bahan tercampur. Bahan – bahan yang tercampur tak bisa merata dengan baik. Apalagi pencetakan juga hanya menggunakan bahan manual. Hasil cetakan tak bisa bagus

(bj/yan/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia