alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarbojonegoro
Home > Lamongan
icon featured
Lamongan

KPUK Teledor, Ambil Nomor Pengundian, Satu Calon Tidak Ada Angkanya

25 September 2020, 13: 30: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

HASIL PENGUNDIAN NOMOR URUT: Dari kiri, pasangan Kartika Hidayati – Sa’im mendapatkan nomor 3, Suhandoyo - Astiti Suwarni bernomor urut 1, dan Yuhronur Efendi – Abdul Rouf bernomor urut 2.

HASIL PENGUNDIAN NOMOR URUT: Dari kiri, pasangan Kartika Hidayati – Sa’im mendapatkan nomor 3, Suhandoyo - Astiti Suwarni bernomor urut 1, dan Yuhronur Efendi – Abdul Rouf bernomor urut 2. (ANJAR DWI P/RDR.LMG)

Share this      

Radar Lamongan – Kinerja Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Lamongan mendapatkan sorotan. Sebab, pengambilan nomor urut pasangan calon (paslon) di Sport Center Lamongan (SCL) kemarin (24/9) terjadi sejumlah insiden.

‘’Kurang cermat karena terjadi hal yang tidak semestinya. Teknis banget dan sangat mendasar. Artinya bukan sebuah permasalahan rumit. Sampai terjadi kekeliruan kan ya tidak layak lah,’’ tutur Ketua Komisioner Bawaslu Lamongan Miftakhul Badar kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Sesuai rowndown acara, calon wakil bupati (cawabup) masingmasing mengambil nomor urut. Bacabup yang mendapatkan nomor terkecil, menjadi nomor urut pertama bagi cabup pasangannya mengambil nomor urut. Pengambilan nomor urut bacabup direncanakan menggunakan bola ping-pong. Namun, lanjut Badar, pihaknya menemukan bahwa nomor urut di bola ping-pong tersebut kelihatan.

‘’Melihat kondisi itu, kita memanggil LO masing-masing paslon. Praktis LO juga keberatan. Ya sudah diganti secara dadakan menggunakan lot di dalam sedotan. Jumlahnya sama lima,’’ ujar Badar.

Dia mengaku menawarkan kepada masing-masing LO untuk mengecek lima nomor urut di kertas tersebut. Namun, masing-masing LO sudah percaya tidak akan terjadi kekeliruan. ‘’Kan elementer banget itu. Orang yang standar, tidak butuh orang pintar ini, jelas tidak akan keliru,’’ imbuh Badar.

Semula, fishball tempat nomor urut bagi cawabup di atas panggung. Karena terlalu sempit, Badar menyarankan dipindah ke bawah. Selanjutnya, tiga cawabup maju dan mengambil dimulai Astiti Suwarni (Astried), Sa’im, dan Abdul Rouf.

‘’Ketiganya kan membuka bersamaan. Pak Saim ini kan kebingungan, karena tidak ada nomornya,’’ imbuh Badar. Dia mengatakan, dirinya mengecek kertas milik Astried yang mendapatkan nomor dua, serta Rouf mendapatkan nomor urut lima. Sedangkan kertas yang diambil Sa’im tidak terdapat nomor urut, melainkan sebuah tulisan.

Pihak KPUK Lamongan berupaya meminta kertas tersebut. Namun, Sa’im tidak memberikan karena merasa sebagai barang bukti potensi pelanggaran. Selanjutnya, Badar meminta kertas tersebut dan memfoto tulisan di kertas tersebut.

‘’Tulisannya tulisan tangan, tidak print-print-an. Pak Sa’im bilang, pelanggaran ini. Akhirnya minta diulang. Ini kan persoalan elementer. Tidak butuh orang pintar, juga bisa,’’ ujarnya. Akhirnya, kata Badar, dilaksanakan pengundian ulang oleh masingmasing cawabup. Bawaslu meminta agar persiapan nomor urut bagi cawabup dilakukan di depan.

Tiga cawabup akhirnya mendapatkan nomor urut masing-masing. ‘’Melihat pengalaman pertama, nomor urut yang besar bagi cabup, harus di bawah ke belakang dibuka dulu dan dipastikan benar dan sesuai,’’ imbuh Badar.

Dia mengatakan, KPUK Lamongan kurang keteletian dan ketertiban. Artinya, lanjut dia, konteks tertib yakni berusaha memastikan segala sesuatunya berurutan. Sedangkan, ketelitian itu memastikan segala sesuatunya sudah siap seluruhnya.

‘’Sepertinya proses itu kelupaan. Semalam itu sudah dikasih saran, katanya sudah ditindaklanjuti sampai tadi pagi (kemarin),’’ ujar Badar. Dia menilai, kesalahan teknis tersebut berpotensi menurunkan public trust terhadap penyelenggara pilkada Lamongan.

Menurut dia, salah satu potensi kerawanan dalam konteks sosial politik di Lamongan itu yakni dalam hal kesalahan teknis seperti itu. ‘’Sebenarnya persoalan sepele, tapi nanti kalau dipersoalan serius, akan dianggap jelek. Karena orang sudah tidak percaya. Yang terbuka saja begitu, apalagi yang tertutup,’’ katanya.

Dia menilai, ini bukan kesalahan teknis pertama yang dilakukan KPUK Lamongan. Ketika flash back, lanjut dia, saat pleno rekapitulasi perseorangan, KPUK melakukan hal yang hampir sama.

‘’Terjadi kesalahan berita acara, waktu itu kan paslon perseorangan sudah memenuhi syarat minimal dukungan, tapi di situ belum dikasih kesimpulan. Akhirnya diperbaiki,’’ tukasnya.

Selain itu, tutur dia, dalam daftar pemilih sebelumnya, terdapat sejumlah masalah yang belum terselesaikan. Hingga akhirnya, tutur Badar, dilakukan pleno ulang daftar pemilih sementara (DPS). ‘’Yang pertama di Mahkota, dan yang kedua di KPU,’’ kata Badar.

Selain itu, dia menilai saat penetapan penerimaan pencalonan masih terdapat sejumlah BA yang keliru. Namunn, akhirnya diperbaiki. Badar mengatakan, menilik dari insiden kesalahan teknis saat pengundian nomor urut, telah dibahas jauh hari sebelum pelaksanaan.

‘’Saya pikir persiapannya boleh jadi sudah bagus, pada waktu pelaksanaannya kurang teliti dan kurang tertib. Dari insiden tadi itu ada pelanggaran administratif, tapi langsung dibetulkan seketika,’’ kata Badar.

Dia meminta penyelenggara pemilu harus mengintrospeksi diri agar ke depan memperbaiki. Sehingga, kesalahan teknis tidak terulang lagi. Terutama harus lebih teliti, dan tidak menyepelekan hal sekecil apapun. ‘’Mumpung ini masih ada waktu tahapan pilkada,’’ katanya.

Ketua Komisioner KPUK Lamongan Mahrus Ali mengklaim, teknis pelaksanaan kegiatan pengundian nomor merupakan wilayah event organizer (EO). ‘’Ingin saya kemarin, bola dibelah diisi nomor. Tapi bola ping-pong ditulisi di luar. Jelas dikomplain. Akhirnya dipindah model lot,’’ katanya.

Pihak EO mengklarifikasi, jelas dia, fishball tempat nomor pengundian cawabup, sebelumnya digunakan acara lainnya. Sehingga, terjadi adanya cawabup yang menerima kertas di luar nomor yang disiapkan.

‘’Di desain kita sudah bagus. Intinya pihak EO bilangnya tempat fishball itu pinjam, setelah digunakan untuk acara apa gitu. Tentunya semuanya, artinya bagaimana ada acara itu harus kita lebih teliti lagi,’’ kata Mahrus Ali.

(bj/yan/ind/jar/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia