alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Sensus Penduduk, Temukan 57 Tunawisma di Emperan Toko

17 September 2020, 14: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

DATA PENDUDUK: Petugas BPS ketika mendata seorang kakek tunawisma tidur di emperan toko persisnya di Jalan Trunojoyo, Bojonegoro.

DATA PENDUDUK: Petugas BPS ketika mendata seorang kakek tunawisma tidur di emperan toko persisnya di Jalan Trunojoyo, Bojonegoro. (M. IRVAN/RDR.BJN)

Share this      

Radar Bojonegoro - Pukul menunjukkan 22.00, tim petugas medis berpencar mencari gelandangan tidur di emperan toko. Tim empat regu itu berpencar dan didampingi petugas satpol PP. Hasilnya, menemukan 57 tunawisma tersebar di wilayah Bojonegoro.

Pencarian tunawisma ini mulai perbatasan Kecamatan Babat, Lamongan, hingga Kabupaten Ngawi. Jawa Pos Radar Bojonegoro mengikuti salah satu mobil menuju Taman Bengawan Solo (TBS), Rabu malam (15/9). Di taman sepajangan aliran Bengawan Solo itu, petugas sensus menyisir setiap tempat diperkirakan menjadi berisitirahat para tunawisma.

Namun, menemukan keberadaan tunawisma tidak mudah. Beberapa tempat dituju ternyata hanya gelap tanpa penghuni. Hingga akhirnya telihat lelaki gondrong berpakaian lusuh nyenyak tidur di salah satu tempat duduk. Petugas membangunkan pria bertopi itu. Bingung, terlihat jelas di wajah pria mengaku bernama Sadar. Menurut dia, keberadaannya di TBS menunggu istri berbelanja. Namun ketika ditanya kepemilikan KTP, sadar berdalih tertinggal di rumah.

“Nunggu istri, belanja di pasar dengan anak-anak,” ujarnya. Seteleh mendata Sadar, petugas melanjutkan menyisir pertokoan di Jalan Jaksa Agung Suprapto hingga Jalan Trunojoyo. Salah satu emperan toko ditemui kakek bertelajang dada bersiap tidur. Kakek mengaku berasal dari Kabupaten Tuban itu setiap malam beristirahat di depan toko itu sejak 2004.

“Punya Pak,” ungkapnya ketika ditanya kepemilikan KTP. Lalu mencari ditumpukan barang miliknya terbungkus keresek. Bahkan harus merusak ikatan keresek yang susah dilepas. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro Firman Bastian mengatakan, pendataan bagi tunawisma dilakukan di akhir kegiatan sensus penduduk. Bertepatan ketika malam sensus jatuh 15 September.

“Disebut dengan census night,” ungkapnya. Firman menurunkan empat tim terdiri dari 20 petugas sensus mendata penduduk tidak termasuk dalam satuan lingkungan setempat (SLS). Menyusuri emperan toko, tepi sungai, pasar, terminal, stasiun, dan ruang publik lainnya. “Tim satu wilayah barat, dua dan tiga kota, serta tim empat wilayah timur,” ujarnya.

Firman mengaku hasil sensus dilakukan sejak pukul 21.00 hingga 06.00 pagi, terdata 57 gelandangan dan orang gila tersebar di wilayah Bojonegoro. Dari mulai perbatasan Kecamatan Babat hingga Kabupaten Ngawi. “Ada yang memiliki KTP, ada tidak. Terjauh ber-KTP NTT,” ungkapnya. Menurut dia, dalam sensus terdapat tunawisma berpindah-pindah tempat. Tidak sesuai perkiraan awal. Sehingga menyulitkan pendataan.

“Ditemui di tempat lain, bukan tempat yang diperkirakan,” jelasnya. Firman menambahkan sensus dilakukan sepuluh tahun sekali itu untuk mengetahui jumlah penduduk di suatu wilayah. Baik memiliki tempat tinggal maupun tidak. “Kemarin malam penduduk tidak memiliki tempat tinggal didata,” tuturnya.

(bj/rij/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia