alexametrics
Sabtu, 26 Sep 2020
radarbojonegoro
Home > Tuban
icon featured
Tuban

Aturan Jam Malam Diperpanjang, Hajatan Maksimal Jam 21.00

16 September 2020, 13: 30: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

KEMBALI DIBATASI: Pemotretan model rias manten yang dilakukan perias di salah satu hotel selama pandemi.

KEMBALI DIBATASI: Pemotretan model rias manten yang dilakukan perias di salah satu hotel selama pandemi. (YUDHA SATRIA A/RDR.TBN)

Share this      

Radar Tuban – Setelah dua pekan diterapkan, aturan jam malam diperpanjang. Pembatasan aktivitas masyarakat maksimal jam 21.00 itu berlaku mulai tadi malam hingga dua pekan kedepan. Seluruh aktivitas masyarakat dilarang dilakukan melebihi jam yang ditentukan.

Diperpanjangnya aturan jam malam disampaikan ketua Satgas yang juga Bupati Tuban Fathul Huda saat operasi yustisi Senin (14/9) lalu. Ditindaklanjuti dengan penerbitan SE Nomor 300/ 4741/414.012/2020 tentang Perpanjangan Penerapan Jam Malam yang ditandatangani Bupati Tuban Fathul Huda, kemarin (15/9) sore.

Lalu bagaimana nasib hajatan masyarakat? Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Tuban Sulistyadi mengatakan hajatan masyarakat boleh diselenggarakan. Asalkan tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) dan tidak melebihi jam 21.00.

‘’Hajatan tetap menyesuaikan aturan jam malam, sebelum jam 9 malam harus selesai,’’ kata Didit, sapaan akrabnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Tuban, kemarin (15/9). Dia memastikan aturan jam malam berlaku untuk semua kegiatan. Baik manten, kegiatan adat seperti manganan atau sedekah bumi, dan lainnya. Termasuk jika ada hajatan yang mengundang wayang tetap diperbolehkan asal diseleng garakan pagi atau siang. ‘’Kalau ada wayang akan lebih bagus diselenggarakan siang, di atas jam 9 malam tanpa aktivitas,’’ tegasnya.

Mantan Camat Tuban ini menyampaikan pengawasan hajatan masyarakat dilakukan oleh Satgas kecamatan. Satgas yang terdiri dari pihak kecamatan, polsek, dan koramil tiap wilayah memiliki wewenang penuh untuk membuyarkan acara yang melanggar prokes dan aturan jam malam.

‘’Hajatan boleh, tapi kalau tidak taat protokol kesehatan dan jam malam akan dibubarkan tim gugus tugas kecamatan maupun kabupaten,’’ kata mantan camat Parengan itu.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Satpol PP Tuban Heri Muharwanto menegaskan aturan jam malam juga berlaku untuk rutinitas lain. Seperti di kafe, tongkrongan, dan rumah makan. Terkait pelaksanaan teknis sekaligus sanksi yang diberikan, kata Heri, masih dibahas Satgas Kabupaten.

‘’Sementara sanksi pembinaan dan peringatan, tapi jika disertai pelanggaran prokes bisa sanksi sesuai aturan,’’ tuturnya. Heri mengatakan sanksi prokes tetap berlaku bagi seluruh penyelenggara hajatan masyarakat. Tamu hajatan yang melanggar aturan bermasker dan jaga jarak dikenai sanksi sosial atau denda Rp 100 ribu.

Sementara pemilik hajatan bisa dikenai sanksi denda Rp 300 ribu hingga penutupan lokasi hajatan. ‘’Aturan ini akan diperketat, apalagi saat ini Tuban masuk zona rawan dengan penularan yang masih tinggi,’’ ujarnya.

(bj/yud/wid/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia