alexametrics
Sabtu, 26 Sep 2020
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Pembelajaran Tatap Muka, Guru Wajib Tes Rapid

Tidak Ada Sanksi Jika Siswa Keberatan Masuk

14 Agustus 2020, 11: 00: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Pembelajaran Tatap Muka, Guru Wajib Tes Rapid

Share this      

Radar Bojonegoro - Tiga sekolah bakal menjalani pembelajaran tatap muka 18 Agustus mendatang. Meski masih uji coba, namun pembelajaran tatap muka itu sekolah harus menyiap kan rapid test dan penerapan protokol Covid-19. Kewajiban rapid test ini untuk guru dan karyawan sekolah. Tiga sekolah meliputi SMAN 1 Bojonegoro, SMKN 1 Bojonegoro, dan SLBN Sumbang Bojonegoro.

Sekolah juga harus berkoordinasi dengan orang tua siswa terkait izin Kepala Cabdisdik Jatim Wilayah Bojonegoro-Tuban Adi Prayitno mengatakan, telah rapat bersama seluruh kepala sekolah dan menunjuk tiga sekolah. ‘’Kami juga telah bersurat ke dinas kesehatan (dinkes) setempat untuk tahapan persiapan selanjutnya,” katanya kemarin (13/8).

Adi menginstruksikan sekolah yang ditunjuk untuk melakukan beberapa tahapan. Mulanya segera melakukan rapid test. Untuk seluruh guru dan karyawan. Sumber dananya bisa menggunakan bantuan operasional sekolah (BOS) reguler. ‘’Memastikan para guru dan karyawan untuk rapid test. Intinya mandiri (sumber dananya),” ujar Adi.

Menurutnya, pemeriksaan ini diperlukan untuk menjamin keamanan dan keselamatan siswa. Belum lagi kondisi fisik pada jenjang usia para guru dan karyawan lebih rentan. Berbeda dengan siswa masih dalam usia muda dengan kekebalan tubuh sedikit lebih kuat.

‘’Nanti misalkan ada yang reaktif dipersilakan istirahat di rumah (para guru dan karyawan di sekolah),” tuturnya. Sehingga sekolah perlu membentuk satgas gugus Covid-19 dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Maksudnya dinkes setempat. Selain menyiapkan sarana prasarana sekolah. Meliputi alat thermo gun, tempat cuci tangan, hand sanitizer, face shield, hingga penyemprotan desinfektan secara berkala.

‘’Prinsipanya baik orang maupun lingkungan sekolah harus steril. Jangan lengah sedikit pun,” lanjut dia. Dari sisi kesiswaan, menurut Adi, siswa bakal masuk ke sekolah secara bergantian. Dalam sehari, per kelas maksimal diisi 25 persen dari jumlah total siswa. Karena jumlah per kelas ada 36 siswa, sehingga setiap harinya ada 9 siswa yang belajar tatap muka.

‘’Untuk yang lainnya bergiliran pada hari berikutnya,” jelasnya. Selain itu, durasi pembelajaran juga tidak selama sebelumnya yakni delapan jam. Dalam uji coba ini hanya diperkenankan maksimal empat jam. Jadwal dan pembagian mata pelajaran disesuaikan serta dipadatkan.

‘’Saya pastikan tidak ada jam istirahat (seperti dulu). Pembelajaran langsung diselesaikan. Jadi siswa harus membawa pembekalan dari rumah dan dilarang mampir baik sebelum maupun sesudah dari sekolah,” terang dia. Tak kalah penting, sekolah juga harus segera berkoordinasi dengan orang tua siswa.

Kaitannya kesiapan dan ketersediaan izin anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka. Kalaupun orang tua dan siswa keberatan, pihaknya tidak memberi sanksi. ‘’Kalau keberatan, kami toleransi dan tetap belajar secara daring. Tapi misalkan orang tua dan siswa menghendaki, nanti membuat surat pernyataan menjadi tanggung jawab bersama,” jelas dia.

(bj/dny/rij/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia