alexametrics
Sabtu, 08 Aug 2020
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Belajar di Rumah, Siswa Tetap Beli Seragam

Kepala Sekolah Pastikan Tidak Memaksa

24 Juli 2020, 12: 30: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Belajar di Rumah, Siswa Tetap Beli Seragam

Share this      

Radar Bojonegoro - Siswa jenjang SMA/SMK di Kota Ledre masih membeli seragam meski metode pembelajaran berbasis daring. Namun, di sejumlah sekolah masih belum semua siswa membeli seragam. Hal itu pun patut dimaklumi oleh sekolah. Jangan sampai memaksa dan terkesan membe bani siswa serta orang tua di tengah pandemi Covid-19. Sebab, pandemi ini juga berpengaruh pada aspek ekonomi orang tua.

Kepala SMAN 1 Bojonegoro Sumarmin menga takan, seragam menjadi identitas dan kebutuhan personal siswa. Sekolah menyediakan seragam di koperasi. Namun, pihaknya membebaskan siswa membeli seragam di mana saja. ‘’Anak-anak bisa membeli di luar sekolah,” katanya kemarin (23/7).

Menurut dia, rerata siswanya masih banyak yang belum membeli seragam. Karena memang kondisinya sekarang masih belum pembelajaran tatap muka di sekolah. Baru sekadar membeli seragam batik. ‘’Karena seragam batik di setiap sekolah berbeda. Sesuai ciri khas sekolah masing-masing,” ujar mantan kepala SMAN 1 Baureno itu.

Kepala SMAN 1 Dander Mashadi menambahkan umumnya seragam sekolah setiap siswa harus sama. Sebab menjadi identitas. Misalnya bet (logo) sekolah hingga seragam khusus. Seperti seragam batik maupun lainnya. ‘’Apalagi suatu saat kan anak-anak tetap masuk (ke sekolah belajar tatap muka). Memang jadi kebutuhan pribadi siswa,” ungkap dia.

Setiap sekolah pun menyediakan seragam di koperasi. Namun tidak semuanya terbeli. Tidak semua siswa membeli dan tidak semua jenis seragam dibeli. Cukup membeli seragam yang tidak dipunyai saja. Juga diperbolehkan membeli di luar sekolah.

‘’Kalaupun beli di sekolah, tidak harus membeli satu paket. Karena kondisi orang tua siswa juga seperti ini (krisis akibat Covid-19), cukup membeli seragam sesuai kebutuhan,” ujar mantan kepala SMAN 2 Bojonegoro itu. Mashadi mencontohkan, siswa banyak yang belum membeli seragam pramuka. Sedangkan untuk batik sekolah baru membeli karena identitas setiap sekolah. Dan prinsipnya koperasi sekolah menyediakan seragam sepanjang tahun.

‘’Jadi kapanpun bisa beli. Apalagi kondisinya seperti ini, lebih fleksibel. Berbeda dengan tahun lalu masuknya serentak, jadi orang tua berupaya membeli semuanya,” lanjutnya. Kepala SMKN 5 Bojonegoro Yudi Pramono mengatakan, seragam menjadi kebutuhan personal siswa hingga setingkat SMA.

Berbeda dengan mahasiswa yang menggunakan pakaian bebas rapi. Prinsipnya seragam itu menjadi kebutuhan wajib. ‘’Karena seragam itu mengandung banyak unsur edukatif. Melatih kedisiplinan, ketertiban, hingga kerapian,” tandasnya.

Namun, tidak ada unsur pemaksaan bagi siswa untuk membeli seragam. Dan proses pembelian dilakukan di koperasi sekolah. Adapun, koperasi sekolah itu sifatnya menawarkan. Tujuannya agar tidak terjadi perbedaan corak warna pada seragam siswa dalam satu sekolah. ‘’Di Permendikbud Nomor 75 sudah tertera tentang peran orang tua dalam pendidikan. Jadi kalaupun orang tua keberatan juga tidak masalah. Terpenting memakai seragam,” ujar mantan kepala SMKN 1 Bojonegoro itu. 

(bj/dny/rij/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia