alexametrics
Sabtu, 08 Aug 2020
radarbojonegoro
Home > Tuban
icon featured
Tuban

Selama Pandemi, Banyak Anak Menjadi Korban Kekerasan Seksual

22 Juli 2020, 12: 30: 59 WIB | editor : Nailul Imtihany

Selama Pandemi, Banyak Anak Menjadi Korban Kekerasan Seksual

Share this      

Radar Tuban - Apakah anak cukup aman dengan tetap di rumah selama pandemi virus korona?  Fakta tersebut kemarin (21/7) dikupas dalam web-seminar (webinar) bertema Menangkap Momentum HAN 2020 sebagai Starting Point Memviralkan Gerakan Perlindungan Anak oleh Para Pihak. 

Angka yang dikupas fasilitator nasional sistem perlindungan anak Winny Isaini pada seminar online yang diselenggarakan Pemprov Jatim dan Unicef tersebut cukup mencengangkan. Dibeberkan dia, jumlah kasus anak korban kekerasan di Jatim hingga Juli cukup tinggi. ''Terbanyak kekerasan seksual. Angkanya mencapai 234 kasus,'' kata dia. 

Angka tertinggi berikutnya disusul kekerasan psikis 80 kasus dan  kekerasan fisik 75 kasus. Kekerasan terhadap kelompok umur di bawah 16 tahun itu, kata dia, seperti fenomena gunung es. Artinya, kasus yang tidak terekam jauh lebih banyak. Terlebih, selama pandemi virus korona, banyak layanan yang off, sehingga beberapa daerah tidak melaporkan kasusnya.

Berpengaruhnya peningkatan kekerasan seksual pada anak-anak seiring diterapkannya kebijakan stay at home atau berdiam diri di rumah dijabatkan Winny secara konkret. Selama Januari―Juli, lokasi kejadian terbanyak di rumah 50 persen. Tempat lain 27 persen, fasilitas umum 16 persen, dan sekolah 7 persen.

Selain kasus anak, direktur Lembaga Perlindungan Anak Tulungagung itu juga mengupas meningkatnya dispensasi menikah di bawah 16 tahun. Merujuk sumber Pengadilan Agama Jatim, pada 2016 keluar 8.087 dispensasi. Tertinggi Kabupaten Malang  372 dispensasi, Kabupaten Banyuwangi 285  dispensasi, Kabupaten Bojonegoro 164  dispensasi, dan Kabupaten Tuban 150

dispensasi.

Winny mengatakan, lima komponen memiliki andil besar dalam perlindungan anak. Kelima komponen tersebut, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan media masa. ''Khususnya media, harus berkolaborasi dengan instansi terkait (DP3A) untuk mendukung gerakan perlindungan anak di Indonesia,'' tegas dia.

Naning Pudjijulianingsih, CP Specialist Unicef Kantor Perwakilan Wilayah Jatim mengatakan, mustahil Indonesia maju kalau anak-anaknya tidak terlindungi semua aspeknya. Mulai kesehatan, pendidikan, dan terlindungi dari kekerasan.

Menurut Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan Provinsi Jatim Andriyanto, untuk melindungi anak, informasi yang disajikan media harus masif dan mudah dipahami orang tua. ''Ini penting. Media berperan mengedukasi,'' ujar dia.

Senada disampaikan Wahyoe Boediwardhana, wartawan The Jakarta Post East Java. Dikatakan dia, kepercayaan masyarakat saat ini justru lebih kepada media, bukan kepada pemerintah, guru atau lainnya. Menurut  Wahyoe, informasi dan semua payung dari pemerintah tidak akan sampai dengan maksimal ketika media tidak bergerak.

(bj/ds/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia