alexametrics
Sabtu, 15 Aug 2020
radarbojonegoro
Home > Tuban
icon featured
Tuban

Keluarga PDP Tolak Pemakaman Sesuai Protap Covid-19

13 Juni 2020, 11: 02: 12 WIB | editor : Nailul Imtihany

RAMAI: Pemakaman PDP asal Kecamatan Rengel yang tidak sesuai protap penanganan Covid-19 kemarin (12/6).

RAMAI: Pemakaman PDP asal Kecamatan Rengel yang tidak sesuai protap penanganan Covid-19 kemarin (12/6).

Share this      

Radar Tuban - Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tuban kem bali direpotkan dengan ulah keluarga pasien dalam pengawasan (PDP) yang bandel. Kemarin (12/6) sekitar pukul 02.30, PDP berinisial SP asal Desa Maibit, Kecamatan Rengel tutup usia.

Namun, pihak keluarga menolak SP dimakamkan secara protap Covid-19 dan memilih dimakamkan secara normal sesuai syariat Islam. Mulai diman dikan, dikafani, dan disalatkan.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Tuban, PDP tersebut masuk ke RSUD dr R Koesma Tuban, Kamis (11/6) dengan diagnosa infeksi paru-paru atau pneumonia. Lima jam setelah dirawat, PDP tersebut meninggal.

Keluarga sempat bersitegang dengan pihak rumah sakit karena menolak PDP dimasukkan ke peti jenazah sesuai protap Covid-19. Akhirnya, pihak rumah sakit mengajukan surat pernyataan yang berisi pihak keluarga siap menerima berbagai konsekuensi bila ada temuan lebih lanjut.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tuban Bambang Priyo Utomo mengatakan berdasarkan hasil diagnosa, PDP tersebut memiliki riwayat penyakit sepsis. Dalam istilah medis, sepsis adalah komplikasi berbahaya akibat infeksi.

Sebagian besar organ vital di tubuhnya termasuk paru-paru sudah terinfeksi parah. Karena itu, SP ditetapkan sebagai PDP oleh rumah sakit. ‘’Sesuai prosedur, dilakukan rapid test. Hasilnya nonreaktif, tapi tetap harus diwaspadai infeksinya,’’ terang dia.

Meski pihak keluarga sudah menandatangani surat pernyataan menerima berbagai konsekuensi, gugus tugas tidak bisa diam begitu saja. Tracing dengan rapid test harus tetap dilakukan. Terutama ke pihak keluarga dan orang-orang sekitar rumah PDP.

Mantan kepala Puskesmas Tambakboyo itu mengaku prihatin dengan tidak kooperatifnya sebagian masyarakat untuk memutus rantai persebaran Covid-19. ‘’Semoga tidak jadi klaster baru,’’ kata dia berharap.

Kemungkinan terburuknya jika PDP tersebut positif Covid-19 adalah keluarga dan orang terdekat tertular karena pe nanganan pasien meninggal tidak sesuai prosedur.

Dokter senior itu menjelaskan, klaster Puskesmas Tambakboyo seha rusnya menjadi pelajaran berharga untuk tidak mere mehkan status PDP. Wakil Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tuban itu berharap kasus serupa tidak terulang lagi. Baik untuk PDP maupun pasien positif.

‘’Kalau seperti ini terus, pandemi tidak akan selesai,’’ tegas dia. Kapolsek Rengel Iptu Tomy Dean Rimbawan ketika dikonfir masi mengaku belum mengetahui proses pemakaman PDP tersebut.

Karena tidak diberlakukan protap Covid-19, pemakaman PDP tidak dikawal petugas dari pihak kepolisian. ‘’Belum monitor karena tidak ikut mengawal (proses pemakaman). Nanti kami cek dulu di lapangan,’’ ujarnya kepada wartawan koran ini. Direktur RSUD dr R Koesma Tuban Saiful Hadi tak bisa dikonfirmasi terkait kabar tersebut.

(bj/yud/ds/nae/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia