alexametrics
Sabtu, 08 Aug 2020
radarbojonegoro
Home > Features
icon featured
Features

Amunisi Sehat Ramadan saat Pandemi

Oleh: Rahmat Junaidi 

26 April 2020, 15: 43: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Amunisi Sehat Ramadan saat Pandemi

(freepic)

Share this      

Sahabat semua hari ini sudah memasuki puasa Ramadan. Bulan dinanti manusia beriman karena kemuliannya. Tapi, Ramadan kita masih diuji adanya ujian- ujian duniawi, termasuk diuji masih adanya wabah pandemi Covid-19 ini. Jadinya ujian kesabaran terasa bertambah, bukan hanya ujian melawan hawa nafsu, tapi ujian tetap beraktivitas normal disela-sela keterbatasan akibat pandemi. 

Hal ini tantangan terbesar harus dihadapi sehari-hari selama sebulan penuh. Pada kenyataannya, Ramadan penuh kebaikan ini, orang justru mengendorkan aktivitas dan produktivitasnya. Lemas ketika siang akibat berpuasa dan bangun dini hari untuk sahur, sering membuat aktivitas menjadi agak terhambat.

Sebenarnya banyak orang justru ingin menjadi Ramadan bulan berbuat banyak kebaikan kepada semua. Masalahnya, jika aktivitas akan dimaksimalkan, mereka takut puasanya terancam. Jadi bagaimana agar bisa terus beraktivitas normal? Mari kita coba sampaikan beberapa hasil riset di bidang kesehatan, khususnya konsumsi mendukung gizi aktivitas saat berpuasa.  

Puasa Ramadan baiknya tidak dijadikan alasan mengurangi aktivitas seperti hari-hari biasa. Meski puasa, aktivitas dan kesibukan bekerja juga dapat berjalan seperti biasa. Begitu pula rasa lemas dan letih. Dari beberapa pengalaman dan hasil riset terdapat kiat-kiat mungkin bisa kita ambil manfaatnya dari pandangan kesehatan masyarakat 

Mungkin Anda pernah membaca atau  mendengar riset terkait sebagian besar manusia bisa bertahan selama dua minggu tanpa makan tapi terus minum. Atau, bertahan seminggu tanpa minum. Jadi, kalau hanya berpuasa selama 13-14 jam, tubuh tak akan terganggu. Hanya, tubuh kita akan sedikit kesulitan mendapatkan pasokan energi. Meski tidak berlaku sama bagi setiap kondisi manusia

Saat beraktivitas normal, energi kita pakai berasal glukosa sebagian besar dari pemecahan karbohidrat. Namun, karena kita berpuasa tubuh terpaksa memakai energi cadangan sebagai pengganti pasokan makanan biasa dikonsumsi. 

Energi cadangan itu berasal dari hari, diolah dari protein dan jaringan lemak. Sayangnya, proses penggunaan sumber energi cadangan ini menyebabkan penumpukan asam laktat di otot. Walhasil, timbul rasa lelah dan capek saat berpuasa. 

Rasa capek dan lelah semakin menjadi-jadi justru ketika memperbanyak tidur dan bermalas-malasan. Saat kita beraktivitas normal (bukan aktivitas berat), tubuh terangsang mengeluarkan hormon anti-insulin berfungsi melepaskan gula darah dari “gudangnya”. Karena itu, jika kita bermalas-malasan saat berpuasa, tubuh justru akan makin kekurangan energi karena kadar gula dibiarkan menurun drastis.

Siapkan Amunisi Optimal

Kondisi tubuh saat kita berpuasa Ramadan sebenarnya tidak berbeda dibanding saat hari normal. Jika hari biasa kita makan besar sebanyak dua kali (siang dan malam), begitu pun saat puasa (waktu berbuka dan sahur). Hanya waktu makannya saja berbeda. Menu saat sahur sangat penting terhadap ketersediaan sumber energi beraktivitas ketika siang. Karena itu, harus dipilih menu mampu mempertahankan kestabilan kadar glukosa dalam darah.

Perhitungan kebutuhan kalori harian bisa dijadikan tolak-ukur. Meski kebutuhan kalori tiap orang berbeda-beda, rerata perempuan dewasa butuh sekitar 1.900 kalori/hari sementara kaum pria sekitar 2.500 kalori/hari.

Satu lagi mesti diingat, jangan langsung tidur setelah sahur. Jika langsung tidur, kita berpotensi mengalami refluk esofagus. Makanan beserta asam lambung bakal kembali naik ke kerongkongan, malah terkadang mencapai saluran pernapasan. Karena itu, sebaiknya sahur dilakukan menjelang imsak, sehingga usai sahur kita bisa salat subuh dan  beraktivitas lainnya. 

Saat makan sahur adalah saat kita mengonsumsi menu makanan yang baik. Hal itu akan disempurnakan jika ditambah satu kebaikan, yakni mengonsumsi susu. Konsumsi susu saat sahur akan bermanfaat karena menambah asupan energi dan gizi lain, terutama protein dan kalsium.

Mengonsumsi susu, semakin terasa penting karena kebanyakan orang jarang bisa makan sahur dengan menu dan porsi ideal. Maklum, ketika sahur mata kita biasanya masih mengantuk. Hal ini membuat nafsu makan menurun dan kita makan sekadarnya saja meski menu terhidang di meja makan sangat komplet. 

Selain mengenyangkan lebih lama, susu membantu makanan masuk diserap perlahan-lahan tubuh. Apalagi zat-zat di dalam susu bersahabat dengan metabolisme tubuh manusia. Penyerapan perlahan dapat menjaga kadar insulin dalam darah agar tidak terlalu banyak keluar. 

Sehingga penyerapan gula darah tidak terlalu dan dapat membuat rasa kenyang lebih lama. Sangat dianjurkan minum segelas susu ketika sahur. Tapi, tidak semua jenis susu dianjurkan atau bermanfaat dalam mendongkrak vitalitas tubuh saat berpuasa. Yang dianjurkan adalah susu murni dan susu rendah lemak. Susu murni telah disterilkan juga masuk kategori ini. Susu ini tidak mengandung gula dan pengawet tapi rasanya tetap segar.

Jadi meski bulannya penuh ujian, kita tetap harus aktif mengisinya dengan berbagai aktivitas kebaikan. Tetap sehat dan tetap semangat, meski saat ini kita pada era pandemi virus korona ini. Kita harus yakin dengan firman Allah SWT pada surat Al-Baqarah akhir ayat 184, yang artinya “ Berpuasalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui“.

*Pengamat Kesehatan Masyarakat tinggal di Desa Ngumpakdalem Dander Bojonegoro 

(bj/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia