Jumat, 21 Feb 2020
radarbojonegoro
icon featured
Tuban
Inovator Sistem Tanam Alur Lahan Tambang

Inovasi untuk Menghijaukan Lahan Pasca Tambang Lebih Efisien

13 Februari 2020, 08: 34: 26 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

SANG INOVATOR: Mudjito bersama Manager of Land Reclamation Semen Indonesia Eko Purnomo dan Rektor Unirow Tuban Supiana Dian Nurtjahyani yang siap mengaplikasikan sistem tanam alur.

SANG INOVATOR: Mudjito bersama Manager of Land Reclamation Semen Indonesia Eko Purnomo dan Rektor Unirow Tuban Supiana Dian Nurtjahyani yang siap mengaplikasikan sistem tanam alur. (YUDHA SATRIA ADITAMA/JAWA POS RADAR TUBAN)

Share this      

Reklamasi lahan bekas tambang yang sebelumnya menggunakan metode lama membutuhkan biaya sangat mahal. Prihatin dengan hal tersebut, Mudjito, 67, membuat sistem tanam alur yang menghemat biaya lebih murah hingga 70 persen. Inovasi ini sudah teruji dengan diterapkan di lahan reklamasi Semen Indonesia (SI) pabrik Tuban.

MESKI usianya tak lagi muda, semangat Mudjito patut diapresiasi. Di usianya yang hampir menginjak kepala tujuh, dia masih aktif melakukan penelitian tentang sistem tanam alur lahan pasca tambang. Sejak 1997, bapak tiga anak ini rutin meramu berbagai formula agar reklamasi lahan pasca tambang bisa lebih hemat biaya.
‘’Kalau ditotal, saya sudah membuat lebih dari 150 tabel rumus reklamasi sesuai kebutu­han lahan yang berbeda-beda,’’ kata dia.
Insinyur yang tinggal di Desa Bogorejo, Kecamatan Merakurak ini bukan orang baru di dunia penelitian tambang. Sekitar 23 tahun hidupnya diisi dengan melakukan berbagai penelitian tentang metode yang tepat untuk lahan reklamasi. Penelitian awalnya, mengha­silkan konsep Revegetasi Lahan Pasca Tambang Batu Kapur Melalui Alur M (Mudjito). Teori yang ditulis 55 halaman itu diterbitkan ke buku berjudul Mencari Terobosan dalam Pembangunan Pertanian di Kabupaten Tuban pada 2001.
Berkat inovasinya tersebut, Mudjito pernah mendapatkan penghargaan Penyuluh Berpres­tasi dari Menteri Pertanian Bungaran Saragih. Penghargaan diserahkan pada saat acara Pekan Nasional Agribisnis di Tasikmalaya, Jawa Barat pada 2002.
Saat ini, Mudjito tengah proses menyelesaikan buku keduanya. Dia membocorkan, buku kedua untuk melengkapi teori dan konsep dari buku pertama. ‘’Buku ini tidak akan saya bawa mati, semua yang saya tulis akan saya serahkan kepada negara,’’ tegasnya.
Inovasi yang diciptakan Mudjito juga pernah mendapatkan juara harapan Tuban Berinovasi (Tubernova) 2019 yang diselenggarakan Pemkab Tuban. Insinyur lulusan Universitas Sunan Bonang (Unang) ini mengatakan, ber­bagai prestasi tersebut adalah upaya agar penelitian yang dia lakukan mendapat perhatian dari pemerintah daerah, provinsi, maupun pusat.
‘’Inovasi ini saya serahkan untuk menghijaukan negara yang akan dinikmati anak cucu kita. Semoga bisa segera memiliki payung hukum atau minimal jadi peraturan daerah (Perda) Tuban,’’ harap dia.
Inovasi mantan Camat Bangilan ini terbilang baru di dunia reklamasi pasca tambang. Sistem tanam alur yang diciptakan terbukti menghemat biaya reklamasi sekitar 70 persen. Pada lahan pasca tambang milik SI pabrik Tuban misalnya. Dulu untuk reklamasi satu hektare lahan, SI membutuhkan 3 ribu meter kubik top soil dengan biaya Rp 250 juta per hektarenya. Dengan sistem tanam alur Mudjito, reklamasi satu hektare lahan hanya membutuhkan top soil 1.470 meter kubik, dengan biaya sekitar Rp 175 juta.
Pada 2002, inovasi Mudjito diujicoba untuk di­aplikasikan di lahan greenbelt Semen Indonesia pabrik Tuban. Uji coba yang me­manfaatkan 270 meter lahan reklamasi tersebut terbukti sukses. Dengan top soil yang minim, pohon jati, mahoni, dan nangka yang ditanam dengan sistem tanam alur masih bertahan hidup hingga sekarang.
‘’Bisa dicek, tidak ada satupun pohon yang mati, hanya ada pohon yang hilang karena ditebang orang tidak bertanggung jawab,’’ jelas dia.
Mudjito menjamin seluruh inovasi penelitian yang dia lakukan sudah sesuai dengan undang-undang dan peraturan gubernur. Dia mem­bocorkan, ide sistem tanam alur tersebut salah satunya didapat dari pengamatannya di tebing Desa Guwoterus, Kecamatan Montong. Di dinding tersebut, banyak pohon yang bisa hidup hanya dengan top soil terbatas. ‘’Lo­gikanya, di tebing saja pohon bisa hidup hingga 75 tahun. Apalagi di lahan reklamasi? Pasti lebih bisa,’’ kata dia.
Manager of Land Reclamation Semen In­donesia Eko Purnomo mengatakan konsep yang dibuat Mudjito sangat membantu dunia pertambangan Indonesia. Selama ini biaya reklamasi yang sangat tinggi menjadi salah satu masalah dalam reklamasi. Dengan sistem tanam alur yang dibuat Mudjito, akan ada banyak perusahaan yang diuntungkan. Apa­lagi yang bersentuhan dengan tambang seperti perusahaan semen.
‘’Tahun ini SI harus menyelesaikan reklamasi 3 hektare, rencananya akan dimulai meng­gunakan sistem tanam alur,’’ ungkapnya.
Saat ini, kata Eko, SI tengah menggandeng Mudjito dan Rektor Unirow Tuban Supiana Dian Nurtjahyani untuk merumuskan sistem tanam alur yang lebih hemat. Ditargetkan, biaya reklamasi lahan per hektare harus bisa lebih murah. Dengan budget Rp 120 juta per hektare. Dengan inovasi yang diciptakan Mudjito, Eko optimistis lahan pasca tambang SI bisa segera dihijaukan kembali.

(bj/yud/wid/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia