Jumat, 21 Feb 2020
radarbojonegoro
icon featured
Features
Keluarga Tuna Netra Geluti Seni Campursari

Tergugah LIhat Teman Jepang Nyanyikan Tembang Jawa

06 Februari 2020, 19: 35: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

CINTA BUDAYA LOKAL: Sebagian pemain alat musik campursari di Desa Pataan mengalami cacat fisik.

CINTA BUDAYA LOKAL: Sebagian pemain alat musik campursari di Desa Pataan mengalami cacat fisik. (GAMAL A/RDR.LMG)

Share this      

Keterbatasan fisik, tak menghalangi langkah Sukari dan keluarga besarnya untuk melestarikan kesenian daerah. Mereka bertahan di campursari, meski digempur orkes dangdut yang terus bermunculan.

M Gamal Ayatullah , Radar Lamongan, Lamongan 

Embun masih membasahi pinggir jalan di Desa Pataan, Kecamatan Sambeng. Beberapa warga berjalan sambil membawa alat pertaniannya. Mereka ingin melihat tanaman padi setelah malam harinya diguyur hujan.

Di jalan perkampungan, kemarin (5/2) terdengar alunan gending Jawa sekitar pukul 06.30. Suara gong ikut memecah suasana di desa tersebut. Gending Jawa itu dinyanyikan dari grup campursari  yang ada di Desa Pataan. Enam anggota grup kesenian ini mengalami cacat fisik tuna netra. Mereka masih satu lingkup keluarga. Sedangkan tujuh anggota kesenian lainnya normal. Mereka bertetangga.

‘’Silakan Mas, masuk kalau ingin melihat latihan saya bersama – sama ini. Tapi hanya sebagian saja anggotanya, yang lainnya masih sibuk ke sawah,’’ tutur Sukari, 57.

Dia menjadi pemukul alat demung. Sukari lalu memerkenalkan anggota campursari yang ada. Dia menunjuk Miyati, 60, yang memegang alat musik peking. Miyati merupakan kakak keduanya Sukari.

Sementara Pawan, 34, yang menjadi sinden, keponakannya Sukari dari kakak pertamanya yang sudah meninggal dunia. Pemain lainnya, Supardiono, 38, anak pertamanya Miyati. Dia  memegang saron dan suling. Nur Ainah, 37, istrinya Supardiono juga dilibatkan dalam grup kesenian ini. Dia menjadi sinden. Kemudian Sukar, 57,  bagian menabuh kendang.

‘’Semua yang saya sebutkan tadi Mas, mengalami sama seperti saya, tuna netra sejak lahir dan masih keluarga. Mungkin sudah keturunan,’’ tuturnya.

Setiap minggu, Sukari menjadwalkan latihan dua kali. Meskipun tidak ada tanggapan hajatan orang, latihan itu tetap dilakukan. Sebab, kesenian itu sudah mendarah daging di keluarganya.

Sukari belajar campursari sejak 1980. Dia belajar dari kakeknya. Meski secara otodidak, Sukari mampu menguasai alat musik yang dipegangnya. Mereka saling mengingatkan apabila ada nada yang kurang tepat.

‘’Kalau semua, dulunya hanyalah pemain panggilan bagi penabuh alat gamelan campursari ini. Namun pada tahun 2016 memberanikan diri untuk membuat sendiri, satu lingkup keluarga,’’ ceritanya.

Awalnya, mereka meminjam alat musik apabila mendapatkan tawaran mengisi acara pada hajatan orang. Eksistensi mereka akhirnya mendapatkan perhatian dari Dinas Sosial Lamongan. Alat musik tradisional lengkap diberikan kepada grup campursari ini. Banyaknya grup – grup campursari maupun orkes dangdut, tak menyurutkan langkah Sukari dkk untuk memertahankan budaya dan kearifan lokal.

Sementara itu, Pawan tertarik belajar menjadi sinden setelah melihat teman satu kampus dari Jepang yang menyukai gending Jawa capil gunung. Awalnya, dia menyukai lagu Jepang dan nostalgia barat. Sementara temannya itu menyukai lagu – lagu Jawa. Melihat temannya belajar melantunkan tembang, hatinya tergugah untuk ikut belajar lagu Jawa.

‘’Dulu sering Mas, latihan di rumah. Namun tak pernah saya hiraukan karena lagunya bikin kantuk,’’ kenangnya.

Pawan kemudian latihan gending Jawa bersama pamannya. Awalnya dia mengalami kesulitan karena sebelumnya menyukai lagu luar negeri. Apalagi, lagu Jawa sering membutuhkan suara tinggi.

‘’Yang lebih susah, pengaturan napas dan panjang pendeknya suara pada saat bernyanyi,’’ ujarnya.

Hingga kini, dia merasa susah menyanyikan lagu Pangkur dan Ojok Dipleroki. Pawan berharap generasinya nanti tidak meninggalkan gending Jawa, agar tidak punah.

(bj/mal/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia