Jumat, 21 Feb 2020
radarbojonegoro
icon featured
Peristiwa
Dampak Penyebaran Virus Korona

Kuliah di Tiongkok, Mahasiswa Asal Paciran Pulang

05 Februari 2020, 09: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

SUDAH PULANG: Iffa (kiri) bersama keluarganya di Kecamatan Paciran

SUDAH PULANG: Iffa (kiri) bersama keluarganya di Kecamatan Paciran (IFFA MARATUS SHOHIBUL BIRRI FOR RADAR LAMONGAN/RDR.LMG)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan – Iffa Maratus Shohibul Birri, mahasiswa S2 Tianjin Foreign Studies University sempat tidak diketahui keberadaannya, masih di Tiongkok atau ikut rombongan karantina. Senin (3/2), mahasiswa asal Desa Jetak, Kecamatan Paciran itu berhasil dikonfirmasi.

‘’Alhamdulillah sudah di rumah. Kemarin (Minggu) malam tiba. Yang di Natuna diperuntukan untuk anak-anak Wuhan,'' tutur Iffa.

Dia menjadi mahasiswa kedua di Tiongkok yang pulang ke kampung halamannya. Sebelumnya, mahasiswi Jiangsu Shiping College, Tiongkok, Nurul Hikmawati lebih dulu pulang.

Pihak Puskesmas dan Pemerintah Kecamatan Solokuro masih intens memantau kondisi kesehatan Nurul setelah empat hari pulang dari Negeri Tirai Bambu itu. Kondisi mahasiswa asal Desa Takerharjo tersebut terpantau sehat.

‘’Ini tadi kami berkomunikasi dengan bidan desa. Katanya kondisi Nurul makin sehat,’’ tutur Camat Solokuro Sami’an kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (3/2).

Menurut dia, Nurul tidak mengalami sakit demam, batuk, dan flu. Bahkan, lanjut Sami’an, Nurul terbilang cukup aktif ketika diajak komunikasi.  ‘’Kalau di rumah masih mengenakan masker, hingga pemeriksaan selama 14 hari dari dokter dan bidan setempat,’’ imbuh Sami’an.

Seperti diberitakan, 243 Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Tiongkok dipulangkan dan kini menjalani masa karantina di Natuna karena menyebarnya virus korona. ‘’Secara psikologis, Nurul terlihat normal dan terlihat tidak tertekan setelah pulang dari Tiongkok,’’ katanya.

Sami’an menyatakan, tetangga Nurul tidak menunjukkan gelagat penolakan. Sebab sejak awal, pihaknya bersama dokter puskesmas setempat memberikan edukasi terhadap warga sekitar. Yakni, Nurul sudah melalui pemeriksaan dan tidak terdeteksi virus korona.

‘’Ya ketika ke sana kita memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar,’’ ujar Sami’an.

Dia juga masih memantau kondisi satu mahasiswa lain asal Desa Payaman bernama Humaidi Sahid. Mahasiswa S2 di salah satu universitas di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok itu ikut menjalani masa karantina selama 14 hari di Natuna.

‘’Iya memang ada dua warga kami yang berkuliah di China (Tiongkok). Semoga semuanya diberikan kesehatan,’’ harap Sami’an.

Kepala Puskesmas Solokuro Suprapto membenarkan bahwa Nurul setiap hari dipantau pihak puskesmas. ‘’Tadi dicek oleh bidan desa dalam kondisi masih normal. Suhu normal, nadi normal, dan tensi normal. Keadaannya juga normal,’’ katanya. 

Pihaknya akan intens memantau selama 14 hari dan mendampingi pola makan bergizi bagi Nurul. Selain itu, selama pemantauan, Nurul masih disarankan untuk mengenakan masker. Suprapto memastikan kondisi psikologis Nurul cukup bagus paska pulang dari Tiongkok.  ‘’Alhamdulillah berkat perhatian pemda, juga melalui puskesmas dan kecamatan. Sehingga psikologisnya bagus,’’ imbuhnya. 

Suprapto juga sudah mendapatkan info bahwa ada mahasiswa asal Payaman masih menjalani karantina. Paskakarantina nanti, pihaknya juga akan melakukan pemantauan.  ''Iya infonya ikut karantina di Natuna. Nanti juga akan dipantau tim dari puskesmas setelah dari Natuna,'' ujarnya.

Masa karantina di Natuna dijadwalkan selama 14 hari. ‘’Informasi yang kami terima, selama masa inkubasi keluarga dilarang bertemu. Tapi masih diperbolehkan berkomunikasi melalui ponsel,’’ tutur Sartono, ayah Ayu Winda Puspitasari kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Dia menyadari bahwa putrinya wajib menjalani masa inkubasi selama hampir setengah bulan. Hal itu merupakan peraturan dari World Health Organization (WHO). Sartono berharap putrinya langsung dipulangkan setelah melalui masa karantina.

‘’Kalau nanti sudah steril, kami berharap bisa langsung dipulangkan,’’ kata pria yang sehari-hari berdagang di Pasar Baru Lamongan tersebut.

Dia masih mengingat perjuangan putri keduanya tersebut dalam menempuh pendidikan di Tiongkok. Winda selalu mendapatkan beasiswa sejak menempuh pendidikan S1 hingga empat bulan menjalani pendidikan S2 di salah satu universitas di Wuhan.

‘’Komunikasi terakhir dengan anak saya, katanya kuliahnya nanti sementara sistem jarak jauh melalui internet, hingga situasi di Wuhan sudah dinyatakan aman dari virus korona,’’ imbuhnya.

Bagaimana bila nanti Winda ingin kembali ke Wuhan untuk melanjutkan pendidikan? Sartono mengaku tak keberatan. Asalkan situasi di sana sudah dinyatakan benar-benar steril dari virus korona.

‘’Keluarga sih tidak apa-apa kalau memang sudah dinyatakan aman. Tinggal nanti anaknya seperti apa,’’ tukasnya.

Selain Ayu Winda, ada mahasiswa lain asal Lamongan yang mengikuti karantina di Natuna. Yakni, Humaidi Sahid dan Pramesti Ardiya Cahyani. Serta satu mahasiswa berkuliah di luar Kota Wuhan, Siti Mizabul Ijabah, juga ikut dikarantina. Hingga kini, Muhammad Nurul Khozin Az Zumar belum diketahui masih berada di Tiongkok atau ikut dalam rombongan karantina tersebut.

‘’Informasi dari putri saya (Winda), dua mahasiswa asal Lamongan lainnya yang kuliah Wuhan, juga dipulangkan. Tapi untuk yang lainnya saya tidak tahu,’’ tutur Sartono.

Mat Suwarsono juga berharap putrinya Siti Mizabul Ijabah bisa lolos dari inkubasi. Sehingga bisa dikembalikan keluarga setelah masa inkubasi selesai dilakukan.

‘’Harapan kita, setelah anak-anak dinyatakan sehat, bisa langsung dikembalikan kepada keluarga masing-masing dengan selamat,’’ ujar Suwarsono.

Pria yang sehari-hari menggantungkan hidup sebagai petani tersebut memantau kondisi anaknya melalui sejumlah rekaman video. Dia mengaku merasa tenang karena putrinya dan rombongan WNI lain yang dikarantina di Natuna, kondisinya terlihat cukup baik. 

(bj/ind/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia