Jumat, 21 Feb 2020
radarbojonegoro
icon featured
Tuban
H. Setiajit, SH MM, Membawa Secercah Harapan

Turunkan Tim Teknis, Bantu Obat-obatan Pertanian

23 Januari 2020, 12: 43: 36 WIB | editor : Amin Fauzie

TURUN KE SAWAH: Setiajit (kanan) bersama Kepala Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek Rasdan dan tim teknis melihat langsung kondisi tanaman jagung yang diserang ulat kemarin (22/1) sore.

TURUN KE SAWAH: Setiajit (kanan) bersama Kepala Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek Rasdan dan tim teknis melihat langsung kondisi tanaman jagung yang diserang ulat kemarin (22/1) sore. (Istimewa)

Share this      

Ulat grayak Spodotera frugiperda meluluhkan asa sebagian besar petani jagung di Desa Wolutengah, Kecamatan Kerek. Mereka tak berdaya memberantas ganasnya ulat yang migrasi dari Amerika Serikat tersebut, meski sudah menyemprotkan pembasmi hama berdosis tinggi hingga cara-cara tradisional.
Hama yang mewabah sejak mulai musim tanam pada awal Januari tersebut tak hanya mengancam puso masal 1.228 hektare (ha) lahan jagung di desa setempat. Namun, juga mencekik petaninya untuk mengembalikan kredit usaha rakyat (KUS) untuk biaya tanam.
Adalah H. Setiajit, SH, MM, kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral Pemprov Jatim yang membawa secercah harapan bagi petani setempat. Mulanya, ketika menghadiri tasyakuran dan istighotsah kubro memperingati dua tahun berdirinya Ponpes Jabal Nur di desa setempat, Sabtu (18/1) malam, dia mendengar jeritan masyarakat setempat terkait serangan hama ulat.
Malam itu juga dia menjanjikan mendatangkan tim teknis dari provinsi untuk mengecek dan membawa obat-obatan pada Senin (20/1) atau selang sehari kemudian.
Seperti yang dijanjikan, tim tersebut benar-benar turun ke desa yang berjarak sekitar 35 kilometer (km) dari pusat kota kabupaten tersebut  untuk mengecek pada Senin. Pada hari yang sama, Setiajit melaporkan kondisi tersebut kepada atasannya Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Belakangan diketahui wabah ulat tersebut tidak hanya menyerang Wolutengah, tapi juga desa-desa lainnya.
Karena problem tersebut cukup serius berdasarkan temuan sementara tim teknis, mantan Pjs bupati Jombang tersebut juga melaporkan kepada Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal TNI (Purn) Dr H. Moeldoko, S.IP. ''Dalam waktu dekat ketua umum HKTI dan menteri pertanian akan kunjungan bersama ke sini,'' ujar Setiajit kepada perwakilan petani
di Balai Desa Wolutengah kemarin (22/1) sore.
Di hadapan petani Wolutengah yang sebagian besar sudah kehilangan asa, Setiajit juga memberi harapan kalau rusaknya tanaman jagung akibat hama ulat masih bisa diselamatkan. ''Saya tidak ingin saudara-saudara jatuh miskin. Petani masih bisa panen!'' tegas dia yang mengajak seluruh petani yang hadir untuk serius memberantas bersama-sama. Kalaupun terpaksa puso, birokrat senior kelahiran Desa Tegalrejo, Kecamatan Merakurak itu mengupayakan bantuan bibit jagung.
Ketika datang ke Balai Desa Wolutengah, Setiajit juga membawa bantuan obat pemberantas hama ulat sebanyak 20 dos atau 4 kwintal untuk 6 kelompok tani.
Setelah menyerahkan bantuan obat pembasmi hama tersebut, Setiajit
membonceng motor Sunarto berpelat nomor S 2163 GD menuju tegalan jagung terdekat. Sunarto adalah petugas Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Pengamat Hama Penyakit (POPT-PHP) Kecamatan Kerek dan Montong pada Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Laboratorium Pengamat Hama dan Penyakit Tanaman Pangan dan Hortikultyra Dinas Pertanian Provinsi Jatim.
Sebelumnya, kepada petani yang hadir di balai desa, Sunarto menerangkan ulat yang memakan daun jagung hingga pangkalnya tersebut berbeda dengan hama ulat pada umumnya. Menurut dia, penanggulangan Spodotera frugiperda relatif sulit.
Berdasarkan pengamatannya, pertumbuhan ulat tersebut sangat cepat. Seekor ngengat betina mampu bertelut 6・0 kali selama masa hidup sekitar 2・ minggu. Sekali bertelur jumlahnya 100--300 butir. ''Itu berarti, satu ulat mampu berbiak menjadi 2.000 ・.000 ekor,'' terang dia.
Berbeda dengan hama pada umumnya, ulat tersebut bersembunyi pada pagi hingga siang hari dan baru keluar pada malam. Karena itulah, pemberantasan efektif dengan menyemprotkan cairan pembasmi hama harus pada sore hari menjelang ulat keluar.
Kepala Desa Wolutengah Rasdan dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada Setijit karena begitu totalitas mengawal usulan desanya. Dikatakan dia, dengan dorongan dan giringnya, tim teknis dan bantuan obat-obatan pertanian bisa turun ke Wolutengah. ''Mewakili seluruh masyarakat Wolutengah, kami menyampaikan terima kasih,'' kata dia.

(bj/ds/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia