Senin, 17 Feb 2020
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan
Kebijakan Pemangkasan Kuota Pupuk Bersubsidi

Petani Terpukul Langsung

20 Januari 2020, 09: 37: 14 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

TERPUKUL LANGSUNG : Seorang petani Lamongan sedang menyemprot tanaman padinya. Mereka akan terpukul dengan dipangkasnya kuota pupuk bersubsidi, karena biaya tanamnya meningkat, sedangkan hasil panennya cenderung tidak pasti.

TERPUKUL LANGSUNG : Seorang petani Lamongan sedang menyemprot tanaman padinya. Mereka akan terpukul dengan dipangkasnya kuota pupuk bersubsidi, karena biaya tanamnya meningkat, sedangkan hasil panennya cenderung tidak pasti. (ANJAR D. PRADIPTA/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan - Pemangkasan kuota pupuk bersubsidi tahun ini benar-benar akan memukul telak petani. Kerugian yang dialami semakin besar dan terancam banyak yang akan memilih untuk menjual lahannya, karena sudah tidak bisa menjadi sumber penghasilan. ‘’Padahal dengan menggunakan pupuk bersubsidi saja (selama ini) petani di Lamongan belum tentu untung, apalagi jatah pupuk bersubsidi dipangkas,’’ tukas petani asal Desa Sendangharjo Kecamatan Brondong, Mat Iskan kemarin (19/1).

Mat Iskan mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan pemerintah itu. Pemangkasan kuota pupuk bersubsidi itu berakibat langsung pada biaya bertani yang menjadi semakin tinggi. Itu berarti kebijakan APBN tidak berpihak kepada petani. Apalagi petani, khususnya di Jawa, rata-rata memilihi lahan sempit, sekitar 0,3 Hektare saja. Sehingga akan sangat merasakan dampaknya. ‘’Pengusaha kemungkinan tidak terlalu terdampak dengan kebijakan tersebut. Tetapi petani kecil yang sangat terpukul,’’ tandasnya.

Dia menjelaskan, selama ini sebagian besar petani tidak bisa menentukan berapa pendapatannya dari hasil pertaniannya, karena lebih sering merugi. Ketika harga pupuk tidak berpihak, dikhawatirkan banyak petani yang frustasi dan memilih menjual lahannya ke investor. “Petani mendengar pemangkasan baru-baru ini. Tapi teknis masih belum ada sosialisasi. Apakah pengurangan subsidi itu artinya pupuk masih ada tapi harga dinaikkan atau produksi pupuk yang berkurang,” terangnya.

Mat Iskan menambahkan, selama alokasi dan kebutuhan pupuk relative masih sama. Hanya distribusinya tidak memenuhi standar. Seharusnya jenis NPK (phonska) lebih banyak. Namun realisasinya jenis Urea yang banyak sehingga hasil pertanian kurang maksimal.

Petani lain asal Sugio Lamongan, Siti Arofah juga menyatakan, pemangkasan pupuk bersubsidi berdampak langsung ke petani. Karena tidak semua petani pemilik lahan. Ada yang sebagai penyewa. Sehingga harus mendapat hasil optimal untuk bisa menyewa lahan kembali. Jika kuota pupuk dibatasi atau dipangkas, berarti modal untuk bertani semakin besar. Sehingga, kemungkinan petani tidak bisa melanjutkan menyewa lahan. “Kalau nggak ada uang buat sewa lahan, otomatis dilepas. Tentu juga berpengaruh pada hasil produksi pertanian di Lamongan,” terangnya.

Petani tambak Desa Kemlagigede Kecamatan Turi, Gatot sedikit berbeda. Menurut dia, masalah permainan pupuk sebenarnya sudah terjadi lama. Apalagi petani tambak kebutuhan pupuknya sangat banyak. Sehingga banyak pemilik modal menjual pupuk dengan harga di atas rata-rata. Asalkan barangnya ada, tetap dibeli petambak. Karena kebutuhan petambak minimal 1,5 Ton per musim per hektare. “Kebutuhan kita cuma jenis Urea dan SP, dengan kebutuhan yang sangat besar. Tapi kalau musim tanam seperti sekarang, sudah menunjukkan kelangkaan,’’ ungkapnya.

Informasi dari kalangan distributor pupuk, kuota pupuk bersubsidi untuk Lamongan dipangkas hingga 50 persen. Misalnya, jenis Urea dari 67 ribu menjadi 34 ribu Ton. Jenis ZA dari 17 ribu menjadi 6 ribu Ton. Jenis SP-36 dari 15 ribu menjadi 6 ribu Ton, phonska dari 39 ribu menjadi 29 ribu Ton. Sedangkan petroganik dari 29 ribu menjadi 6 ribu Ton.

Staf Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Aneka Usaha Lamongan, Yusro Nova tidak membantah adanya pemangkasan kuota pupuk bersubsidi tersebut. Namun dia belum tahu penyebabnya. Karena kuota tersebut ditetapkan kementerian pertanian (kementan). Bahkan informasinya distribusi ke petani ada yang dihentikan. “Kita ada tiga (kelompok) petani. Yakni petani padi, perkebunan, dan tambak. Kemungkinan yang kebutuhannya paling besar nantinya paling terdampak,” terang pegawai perumda yang juga membidangi distribusi pupuk tersebut.

Sementara Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lamongan masih enggan membeberkan alokasi pasti masing-masing kecamatan. Dan ketika dikonfirmasi belum ada jawaban jelas.

(bj/rka/yan/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia