Jumat, 21 Feb 2020
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Bisa Berpengaruh Program Petani Mandiri

Pupuk Diprediksi Hanya Cukup Sampai Mei

17 Januari 2020, 13: 01: 47 WIB | editor : Amin Fauzie

Pupuk Diprediksi Hanya Cukup Sampai Mei

(AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Potensi kelangkaan pupuk bersubsidi harus segera ditangani. Sebab, bisa memicu keresahan para petani. Serta, kemungkinan berpengaruh terhadap program petani mandiri (PPM) karena bantuan berupa pupuk.
Sebab, pengurangan kuota pupuk bersubsidi cukup drastis. Tahun ini, Bojonegoro hanya dijatah pupuk bersubsidi 83 ribu ton. Padahal, tahun lalu dijatah 180 ribu ton. Ancaman kelangkaan pupuk terjadi pada semester kedua. Sebelum ada pengurangan kuota saja, di beberapa tempat sempat terjadi kekurangan pupuk bersubsidi.
‘’Kami akan mengajukan tambahan ke kementerian (Kementerian Pertanian, Red),’’ kata Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro Sally Atyasasmi kemarin (16/1).
Menurut Sally, sebelum ke Kementerian Pertanian, komisi C DPRD meminta dinas pertanian (disperta) menghitung kebutuhan riil. Sehingga, data diajukan nanti diharapkan bisa terpenuhi dan kekhawatiran kelangkaan pupuk tak terjadi.
Sesuai prediksinya, 83 ribu ton pupuk bersubsidi dengan berbagai jenis itu hanya bisa mencukupi hingga Mei. Padahal, di akhir tahun, mulai Oktober hingga Desember mendatang, sudah memasuki musim tanam lagi. ‘’Rencana kami awal Februari akan ke kementerian,’’ janjinya.
Pengajuan tambahan itu, kata Sally, harus segera dilakukan, mumpung masih awal tahun. Meskipun kuota pupuk bersubsidi di masing-masing provinsi dan kabupaten/kota sudah ditentukan, pihaknya tetap berharap ada penambahan untuk Bojonegoro.
Minimal ada pergeseran kabupaten atau kota lain kelebihan kuota. Sehingga, bisa diarahkan ke Bojonegoro, karena sektor pertanian juga menjadi program prioritas Bupati Bojonegoro.
‘’Kalau pupuk bersubsidi berkurang, bisa berdampak program petani mandiri,’’ tegas politikus Gerindra ini.
Sementara itu, Kepala Disperta Helmy Elisabeth mengatakan, program petani mandiri (PPM) tetap berjalan. Namun, dengan adanya pengurangan kuota ini akan menjadi salah satu kendala. Sebab, realisasi PPM bukan uang, sebaliknya berbentuk pupuk bersubsidi dan benih pertanian.
‘’Akan kami kaji lagi, apakah boleh memakai pupuk yang tidak bersubsidi,’’ jelasnya.

(bj/msu/rij/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia