Jumat, 21 Feb 2020
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Awas Pasang Maksimum - Banjir Rob

11 Januari 2020, 15: 13: 35 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

POTENSI GELOMBANG TINGGI: Nelayan di pantura Lamongan diimbau tidak melaut jauh karena bulan panumbra yang terjadi hari ini (11/1) memicu terjadinya pasang air laut maksimum.

POTENSI GELOMBANG TINGGI: Nelayan di pantura Lamongan diimbau tidak melaut jauh karena bulan panumbra yang terjadi hari ini (11/1) memicu terjadinya pasang air laut maksimum. (Anjar Dwi P/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan – Satpolairud Polres Lamongan terus meng-update informasi potensi alam di perairan laut dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Gerhana bulan panumbra yang terjadi hari ini (11/1) memicu terjadinya pasang air laut maksimum. 

‘’Jadi mulai kemarin sudah kita sampaikan kepada masyarakat di sekitar pesisir adanya pengaruh yang disebabkan oleh gerhana bulan panumbra,’’ tutur Kasatpolairud Polres Lamongan AKP Winardi kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (10/1).

Dilansir dari akun instagram resmi LAPAN RI, setiap gerhana matahari dan gerhana bulan, gaya pasang surut bulan diperkuat oleh matahari. Karena posisinya yang hampir segaris, akibatnya terjadi pasang maksimum atau pasang tertinggi. 

‘’Informasi yang kami terima, pasang air laut akibat fenomena alam tersebut bisa mencapai 1,4 meter (m),’’ ujar Winardi saat dikonfirmasi via ponsel. 

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga mengingatkan potensi banjir rob di perairan laut akibat fenomena ini. Informasi dari BMKG menyebutkan bahwa gerhana bulan panumbra juga dapat memicu terjadinya banjir rob. 

‘’Tetap harus waspada. Semoga saja tidak terjadi di perairan laut di Lamongan,’’ harap Winardi.  

Selain kewaspadaan terhadap pasang maksimum dan banjir rob, musim baratan ini menimbulkan angin kencang dan gelombang tinggi. Berdasarkan informasi dari BMKG, gelombang di perairan laut mencapai 2,5 m.

‘’Sudah kita sampaikan kepada nelayan melalui rukun nelayan (RN) agar tak melaut hingga akhir minggu ini. Nanti awal minggu depan akan kita update lagi prakiraan dari BMKG,’’ kata Winardi. 

Dia memastikan nelayan dengan kapal yang biasa beroperasi di Perairan Masalembu sudah menghentikan aktivitas melaut. Sedangkan, nelayan kecil dengan alat tangkap bubu dan wuwu masih berani untuk melaut. 

‘’Karena jaraknya kan tidak terlalu jauh dari bibir laut. Apalagi, mereka hanya memasang dan mengambil alat tangkapnya saja, tidak berhari-hari di laut,’’ jelas Winardi.

(bj/ind/yan/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia