Jumat, 21 Feb 2020
radarbojonegoro
icon featured
Features
Feri S, Stoper Persela di Liga 1 2020 (2)

Sedih Teringat Perjuangan Ortu Belikan Sepatu

09 Januari 2020, 21: 10: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

MASIH BERTAHAN: Feri S ketika musim Liga 1 2019 berlatih di Stadion Surajaya Lamongan

MASIH BERTAHAN: Feri S ketika musim Liga 1 2019 berlatih di Stadion Surajaya Lamongan (ANJAR DWI P/RDR.LMG)

Share this      

Ketika pamannya mendirikan SSB Sagarung Jaya di desanya, Feri senang. Dia menggunakan sepatu sekolah ketika berlatih sepak bola.

INDRA GUNAWAN, Radar Lamongan

Feri teringat saat orang tuanya belum mampu membelikannya sepatu untuk menendang si kulit bundar. ‘’Waktu itu ya menggunakan sepatu seadanya, yang penting bisa berlatih sepak bola,’’ ujarnya. 

Meski dengan keterbatasan, orang tuanya mendukung Feri menggeluti sepak bola. Bahkan, dia akhirnya diberi orang tuanya  uang Rp 100 ribu untuk membeli sepatu sepak bola. Meski hanya cukup untuk membeli sepatu murahan, itu menjadi hal yang berharga baginya. 

Setahun digunakan di lapangan rumput, sepatu tersebut mulai rusak. Feri hanya bisa menambal sepatunya karena tak mampu membeli sepatu baru.

Dia mencoba merengek kepada ibunya agar dibelikan sepatu bola baru. Ibunya saat itu hanya menyanggupi karena tidak memiliki uang. 

''Akhirnya dibelikan juga. Tapi kadang saya cukup sedih kalau mengingat-ingat perjuangan orang tua,’’ imbuh Feri. 

Pada 2014, Feri gagal mengikuti seleksi di salah satu klub di Jateng. Dia lalu memutuskan ikut ke akademi sepak bola milik Hariyadi. Setelah itu, Feri dilirik Persik Kuningan. Setahun berikutnya, saat kompetisi dibekukan, Feri hanya mengikuti kompetisi antarkampung (tarkam). 

Titik balik perjalanan karirnya terjadi pada 2016. Feri mampu membawa PS TNI juara Liga 1 U-21, serta mendapatkan kesempatan masuk ke TNI-AD.

Setahun berikutnya, Feri gabung dengan tim PSBL Langsa, serta membela Aceh United pada 2018. Dirinya lalu diminta untuk mengikuti seleksi di Persela. Setelah uji coba dengan Persibo Bojonegoro, Nil Maizar tertarik merekrutnya. 

''Waktu itu belum bilang ke ortu kalau ikut seleksi di Persela. Setelah diterima baru bilang. Mereka menangis bahagia karena di desa memang belum ada pemain yang bisa masuk di tim Liga 1,'' tutur Feri.

(bj/ind/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia