Selasa, 21 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Musim Tanam Mundur, Harga Beras Turun 

15 Desember 2019, 10: 57: 06 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

SEBAGIAN SUDAH TANAM: Petani di lahan pertaniannya. Meski ada petani yang sudah tanam, sebagian petani mengalami masa tanam mundur.INGIN TERUS MENULIS: Subhan menunjukkan buku - buku hasil karyanya sendiri maupun bersama penulis lainnya.RIKA RATMAWATI/RDR

SEBAGIAN SUDAH TANAM: Petani di lahan pertaniannya. Meski ada petani yang sudah tanam, sebagian petani mengalami masa tanam mundur.INGIN TERUS MENULIS: Subhan menunjukkan buku - buku hasil karyanya sendiri maupun bersama penulis lainnya.RIKA RATMAWATI/RDR (Anjar Dwi P/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan -  Musim tanam petani mundur. Jika biasanya awal Desember mulai tanam, maka kini belum bisa dilakukan karena lahan pertanian masih mengering. 

‘’Kalau estimasi kita, Desember awal bisa tanam, tapi mundur karena musim kemarau lebih panjang,” kata Sekretaris Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lamongan, Anton Sujarwo. 

Menurut dia, musim tanam dimulai ketika sudah ada hujan. Saat ini, intensitas hujan belum tinggi. Akibatnya, kondisi embung dan waduk belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air pertanian. 

Anton memerkirakan musim tanam mundur hingga awal Januari. Namun, dia mengklaim kondisi cadangan beras di Lamongan aman. Beberapa petani di wilayah bantaran Bengawan sudah panen. Jika beras itu untuk konsumsi warga Lamongan, maka dipastikan cukup sampai panen Maret depan. Jika beras dijual ke tengkulak luar kota, maka diperkirakan kebutuhan masih mengandalkan luar kota untuk beberapa jenis. 

Kasi Irigasi Dinas PU Sumber Daya Air Lamongan, Lutfi, menjelaskan, waduk dan embung sebenarnya mulai terisi. Namun, masih 50 persen karena intensitas hujan belum tinggi. Cadangan air itu mulai digunakan mengisi lahan pertanian warga. Namun, belum optimal. Idealnya satu embung bisa mencukupi sekitar 8 hektare lahan pertanian. Karena volume masih kurang, maka hanya bisa mencukupi setengahnya. “Agak mundur memang dari rencana tapi ini sudah biasa,” jelasnya. 

Sementara  itu, Basuki, salah satu pedagang beras mengatakan, cadangan beras di pasar masih aman. Khususnya kualitas kw premium dan medium yang paling tinggi permintaannya. Bahkan ada penurunan harga. Sebelumnya harga beras kualitas premium dibanderol Rp 8.700 per kilogram (kg). Sekarang Rp 8.500 per kg. Sedangkan jenis medium harganya Rp 8 ribu per kg, lebih murah dari sebelumnya Rp 8.500 per kg. 

Turunnya harga beras itu karena pasokan dari luar kota cukup banyak. “Kita ada kiriman dari Bojonegoro dan Nganjuk. Kalau beras produksi Lamongan harganya tinggi sebab kualitasnya lebih baik,” ujarnya. (rka/yan) 

(bj/rka/yan/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia