Sabtu, 25 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Absorber Jadi Tontotan Warga

Antisipasi Rusak, Jembatan Dilengkapi Sensor

07 Desember 2019, 07: 44: 01 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

RAKSASA: Warga melihat absorber ketika singgah di Jembatan Timbang, Baureno, kemarin (6/12).

RAKSASA: Warga melihat absorber ketika singgah di Jembatan Timbang, Baureno, kemarin (6/12). (Nurcholis/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Layaknya armada tempur, absorber menjadi tontonan warga setempat ketika singgah di Jembatan Timbang, Baureno. Kemarin pagi (6/12) hingga sore, silih berganti warga berdatangan melihat peranti pengeboran gas yang beratnya mencapai 113 ton tersebut.

Absorber, alat berat untuk produksi gas Lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) itu rencananya hari ini (7/12) melanjutkan pengangkutan. Rencananya singgah di area parkir salah satu rumah makan di Jalan Bojonegoro-Padangan, persisnya di Desa Ngulanan, Kecamatan Dander. 

’’Rencana akan melintasi tiga jembatan lagi. Sebelumnya sudah berhasil melintas di Jembatan Semar Mendem, Kecamatan Baureno,’’ ujar PPK Jalan Nasional di Bojonegoro Kristanto Yuda kemarin (6/12).

Namun, secara keseluruhan pengangkutan di Bojonegoro, akan melintasi lima jembatan. Semua jembatan kini dipasang sensor. Meliputi Jembatan Besuki di Sumberrejo, Jembatan Pacal Kecamatan Kapas, dan Jembatan Jetak di Bojonegoro Kota, serta Jembatan Kalitidu.

’’Paling rawan adalah Jembatan Jetak,’’ ungkap pria asli Semarang itu.

Mengantisipasi hal tak diinginkan, kemarin siang Jembatan Jetak kembali diperkuat. Masih dilakukan penambahan penguat. Sebab, jembatan itu paling tua dibanding jembatan lain di Bojonegoro. ’’Sehingga, harus lebih diperkuat,’’ jelasnya.

Jembatan Jetak dibangun pada 1970-an. Hingga kini belum ada perbaikan secara menyeluruh terhadap jembatan yang membujur barat-timur itu. Perbaikan hanya dilakukan untuk penguatan saja. 

Pada 2018 jembatan itu pernah ambrol bagian tengahnya. Beton bagian bawahnya rusak. Namun, sudah dilakukan perbaikan. 

Menurut Yuda, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan sejumlah jembatan itu. Penguatan dilakukan sudah bagus. Namun, untuk Jembatan Jetak harus ditambah lagi. ’’Kami tidak mau ambil risiko,’’ tegasnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Semua jembatan yang dilintasi alat itu sudah diperkuat jauh sebelumnya. Bahkan, sudah beberapa kali dilakukan penguatan ulang. Setiap jembatan yang dilalui alat itu juga dipasangi sensor. Sehingga, bisa diketahui apakah jembatan masih mampu menahan berat atau tidak. 

’’Kita pasangi sensor agar lebih akurat,’’ jelasnya.

Yuda menjelaskan, saat melintas di Jembatan Semar Mendem kondisi jembatan masih bagus. Tidak mengalami perubahan. Jika jembatan melengkung, maka jembatan itu akan dibongkar total. 

Kekhawatiran kerusakan jembatan cukup beralasan. Sebab, absorber itu memiliki berat 113 ton. Namun, keseluruhan dengan alat pengangkutnya beratnya mencapai 180 ton. Panjang alat itu mencapai 15 meter.

Site Manager PT Rekayasa Industri (Rekind) Zaenal Arifin menjelaskan, perjalanan absorber berjalan lancar. Kemarin, alat sudah singgah di Jembatan Timbang, Baureno. ’’Baik-baik saja,’’ jelasnya.

Menurut Zaenal, medan paling sulit ada di wilayah Bojonegoro Kota. Terutama tikungan-tikungan. Pertama di Bundaran Adipura. Namun, itu tidak sulit. Sebab, tikungannya tidak terlalu tajam. 

’’Yang paling sulit adalah di lampu merah dekat Jembatan Trucuk,’’ jelasnya.

Untuk melintas di tikungan itu, diperlukan waktu lama. Tentu, absorber tidak mudah melintas di kawasan berbelok ke kiri tersebut. ’’Sekitar 15 sampai 20 menit untuk bisa melintas di situ (lampu merah Jembatan Trucuk,’’ ujar pria asal Tuban itu.

Nah, selanjutnya akan melintasi Bundaran Jetak. Untuk melintasi Bundaran Jetak tidak perlu memutar seperti pengendara lain. Namun, langsung belok kanan. ’’Tidak perlu memutari bundaran. Sebab, tidak memungkinkan,’’ jelasnya. 

Sementara itu, sejak pukul 06.00 kemarin, banyak warga berdatangan melihat absorber. Rerata orang tua yang mengajak anaknya melihat peranti gas di JTB tersebut. Bahkan, ada yang sewa Elf dan kereta kelinci.

Menurut Fadli, salah satu siswa SD penasaran ingin melihat absorber. Dia bersama bapaknya. ’’Saya ajak bapak pingin melihat dan bisa foto di sini. Mumpung ini tadi pulang sekolah pagi,’’ katanya ditemui di lokasi.

Saking ramainya yang melihat, sekitar Jembatan Timbang, Baureno layaknya pasar malam. Beragam pedagang kaki lima (PKL) membuka lapak di sekitar lokasi.

(bj/msu/cho/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia