Sabtu, 25 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal
Kerugian Negara di Kasus Dana Hibah Pilkada 2

BPK Hitung Ulang

06 Desember 2019, 13: 44: 00 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

JALANI PEMERIKSAAN LAGI: Irwan Setiyadi (kanan), tersangka dugaan penyelewengan dana hibah Pilkada Lamongan 2015, di gedung kejari setempat kemarin.

JALANI PEMERIKSAAN LAGI: Irwan Setiyadi (kanan), tersangka dugaan penyelewengan dana hibah Pilkada Lamongan 2015, di gedung kejari setempat kemarin. (Anjar Dwi P/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan – Empat anggota tim Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI melakukan pemeriksaan ulang untuk memastikan kerugian negara atas dugaan kasus penyelewengan dana hibah Pilkada Lamongan 2015.

‘’Hari ini (kemarin) terkait pemeriksaan. Kejaksaan hanya memfasilitasi tempat saja karena memang ada surat dari BPK terkait perhitungan total kerugian negara,’’ tutur Kasi Pidsus Kejari Lamongan, Yugo Susadi, kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (5/12).

Selain tersangka Irwan Setiyadi, BPK juga memeriksa mantan Sekretaris KPUK Lamongan M Muhadjir bersama saksi lainnya. Di antaranya Kasubbag Teknis KPUK Lamongan Awinoto, Kasubbag Keuangan Miftakhul Huda, dan Bendahara APBN Iwan.

‘’Semuanya dipanggil. Hari ini (kemarin) terakhir,’’ ujar penyidik berkacamata tersebut. 

Dugaan penyelewengan dana hibah Pilkada 2015 muncul setelah ada temuan dari inspektorat KPU RI Rp 1,2 miliar. Sedangkan pada awal pemeriksaan BPK, juga ada temuan kerugian negara mencapai Rp 960 miliar. 

Yugo menjelaskan, awal pemeriksaan BPK dulu merupakan investigasi umum dan kurang terperinci. ‘’Ini lebih terperinci lagi. Dikhawatirkan ada tambahan yang dalam investigasi awal tidak diketemukan,’’ tuturnya. 

Pemeriksaan BPK juga untuk mengantisipasi kekurangan data ketika kasus tersebut masuk di persidangan. Bakal lebih menyulitkan lagi ketika BPK tidak mengetahui rinci terkait kerugian negara. ‘’Mereka tidak ingin waktu di persidangan karena pertanyaan atau investigasinya kurang lengkap,’’ katanya. 

Dalam kasus ini, kejari sudah menetapkan satu tersangka, Irwan Setiyadi. Tersangka sempat melakukan perlawanan melalui penasihat hukum (PH) dengan mengajukan praperadilan. Namun, Pengadilan Negeri (PN) Lamongan menolak praperadilan tersangka. 

Masa tahanan Irwan diperpanjang penyidik hingga Minggu (15/12). Yugo menyatakan, jika nanti masa perpanjangan habis, maka bisa diajukan perpanjangan hukuman lagi selama 30 hari. 

‘’Karena kan ancaman hukumannya di atas lima tahun,’’ katanya. 

Yugo menjelaskan, pihaknya bakal melakukan pemeriksaan terhadap Irwan yang didampingi penasihat hukum, Senin (9/12). Hasil dari pemeriksaan BPK nantinya juga bisa menjadi bahan untuk melengkapi berkas penyidik. 

‘’Mudah-mudahan sebelum tanggal 15 Desember nanti sudah bisa dinaikkan ke tahap dua,’’ harapnya. 

Wartawan koran ini belum mendapatkan konfirmasi dari empat anggota tim BPK RI. Ketika meminta izin untuk bertemu, mereka masih fokus memeriksa. Salah satu anggota tim yang keluar dari toilet,  juga belum mau dikonfirmasi. 

‘’Belum bisa Mas karena pemeriksaan belum selesai,’’ ujar pria paro baya tersebut sembari bergegas masuk ke ruang penyidikan Kejari Lamongan.

(bj/ind/yan/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia