alexametrics
Senin, 30 Mar 2020
radarbojonegoro
Home > Bojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Kualitas Baku Mutu Air Menurun

Waspada Gunakan Air Bengawan

DLH Belum Pastikan Asal Pencemaran

06 Desember 2019, 13: 27: 05 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

MENGHITAM: Penambang pasir di kawasan TBS Bojonegoro, Rabu (4/12). Terlihat air bengawan menghitam diduga karena pencemaran. Hasil uji lab, kandungan air di bawah baku mutu.

MENGHITAM: Penambang pasir di kawasan TBS Bojonegoro, Rabu (4/12). Terlihat air bengawan menghitam diduga karena pencemaran. Hasil uji lab, kandungan air di bawah baku mutu. (Nurcholis/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Berubahnya warna air Bengawan Solo yang menghitam memastikan kualitas air melampaui ambang batas. Tentu, cukup mengkhawatirkan dan masyarakat diminta hati-hati memanfaatkan air bengawan.

Kepastian itu setelah kemarin (5/12) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro menerima hasil uji laboratorium. Hasilnya, kualitas airnya menurun. Sampel air yang diambil minggu lalu, itu dipastikan biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD) melampaui ambang batas. 

“Saya perlu koordinasi dulu nanti dengan dinkes (dinas kesehatan). Tapi, yang terpenting masyarakat lebih berhati-hati memanfaatkan air bengawan,” kata Kepala DLH Hanafi kemarin.

Menurut Hanafi, masyarakat sebaiknya waspada dan mengolah terlebih dahulu air bengawan sebelum dikonsumsi. Karena menurutnya, ia tak punya kewenangan mengeluarkan pernyataan air bengawan bisa dikonsumsi atau tidak. Pihaknya masih perlu berkoordinasi dengan dinkes setempat.

Disinggung penyebab berubahnya warna air bengawan? Hanafi tidak berani berkomentar. Namun, menurutnya tidak disebabkan limbah dari wilayah Bojonegoro. Ia menerima informasi bahwa Gubernur Jawa Timur juga telah berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Tengah beserta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo menanggapi tercemarnya air bengawan. 

Sementara itu, pengambilan sampel air Bengawan Solo dilakukan dua kali pada 7 dan 25 November 2019. Adapun empat titik sampel air diambil. Di antaranya wilayah Desa Payaman, Kecamatan Ngraho; Jembatan Malo; Taman Bengawan Solo (TBS); dan Sungai Kadungrejo, Kecamatan Baureno. Hasil uji laboratorium baru saja keluar itu sampel 7 November 2019.

BOD merupakan jumlah oksigen terlarut diperlukan oleh mikroorganisme untuk mengurai bahan organik di dalam air. Sedangkan, COD merupakan jumlah kebutuhan senyawa kimia terhadap oksigen untuk mengurai bahan organik. “Diketahui baku mutu BOD dan COD-nya yang paling melampaui ambang batas di wilayah Desa Payaman, Kecamatan Ngraho,” ujar pria yang sebelumnya menjabat kepala dinas pendidikan (disdik) itu.

Ambang batas BOD maksimal 3 mg/L, sedangkan COD maksimal 25 mg/L. Sedangkan, hasil uji laboratorium di Sungai Kadungrejo, Kecamatan Baureno kandungan BOD 7,77 mg/L dan COD 23,78. Di TBS, kandungan BOD 6,27 mg/L dan COD 24,70 mgh/L. 

Di Jembatan Malo kandungan BOD 8,64 mg/L dan COD 27,77 mg/L. 

Kemudian di Desa Payaman, Kecamatan Ngraho, kandungan BOD 7,25 mg/L dan COD 32,31 mg/L.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinkes Bojonegoro Fitri Munira Pitaloka juga belum berani berkomentar. Pihaknya mengatakan, masih akan berkoordinasi dengan DLH setempat.

PDAM Jernihkan Air di Empat Titik

PENJERNIHAN air harus dilakukan secara optimal menyusul air bengawan yang menghitam. Sebab, air Sungai Bengawan Solo juga sebagai sumber air untuk kebutuhan perusahaan daerah air minum (PDAM). 

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur PDAM Bojonegoro Joko Siswanto mengatakan, berupaya memperbaiki kualitas air yang bersumber dari Sungai Bengawan Solo. Karena ia juga mengakui banyak keluhan terkait keruhnya air PDAM. Media yang digunakan untuk menjernihkan air di instalasi pengolahan air (IPA). Seperti lumpur, poly aluminium chloride (PAC), tawas, dan sebagainya.

“Saat ini kami kan sudah ada empat IPA di Kanor, Padangan, Purwosari, dan Trucuk. Semuanya kami optimalkan menambah media untuk menjernihkan air bengawan. Saat ini kami pastikan mulai membaik airnya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Disinggung terkait hasil uji laboratorium sampel air bengawan, pihaknya belum menerima surat tembusan secara resmi. PDAM sudah menerima informasi dari Perum Jasa Tirta bahwa berubahnya warna air bengawan itu disebabkan oleh limbah dari hulu.

Sementara itu, Anggota Komisi C DPRD Bojonegoro Hidayatus Sirot menilai PDAM harus lebih responsif menanggapi keluhan masyarakat. Pria yang juga tinggal di wilayah Kecamatan Kanor itu merasakan sendiri bahwa memang air PDAM sejak sebulan lalu kondisinya keruh. Bahkan, ketika dimanfaatkan untuk mandi cenderung licin. 

“PDAM harus koordinasi serta konsultasi dengan dinas-dinas terkait, karena pelanggan PDAM tentu menyesalkan kondisi air yang hingga kini belum membaik,” ungkap politikus asal Kecamatan Kanor itu.

(bj/gas/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia