Sabtu, 25 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Cerita Pemain Lama Badut Sulap di Lamongan

Oleh: Audina Hutama P

04 Desember 2019, 15: 37: 11 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

HARUS SUKA ANAK: Hendra Setiawan mencoba menarik perhatian anak - anak dengan trik sulapnya saat tampil pada Final dan Awarding Lomba Mewarnai di Media Koran Jawa Pos Radar Lamongan Senin (2/12). 

HARUS SUKA ANAK: Hendra Setiawan mencoba menarik perhatian anak - anak dengan trik sulapnya saat tampil pada Final dan Awarding Lomba Mewarnai di Media Koran Jawa Pos Radar Lamongan Senin (2/12).  (Anjar Dwi Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

Sedikit orang yang menekuni jasa hiburan badut sulap. Salah satunya, Hendra Setiawan. Sepuluh tahun membadut, Hendra kini mendulang omzet Rp 20 juta per bulan.

Acara Final dan Awarding Lomba Mewarnai di Media Koran Jawa Pos Radar Lamongan Senin (2/12) semakin semarak dengan kehadiran badut sulap yang menghibur para peserta. Hendra Setiawan, 36, berhasil menarik perhatian anak-anak dengan tingkah lucunya saat memeragakan beragam trik sulap. 

Pria yang tinggal di perbatasan Kabupaten Lamongan dan Bojonegoro ini mengaku sudah sepuluh tahun terakhir menekuni jasa hiburan badut sulap.

‘’Setelah resign sebagai distributor koran di Surabaya, saya diajari kakak yang juga punya usaha badut sulap. Selama setahun saya hanya jadi badut karakter. Sambil belajar dari kakak sama lihat di youtube. Tahun 2010, sudah mulai berani show sebagai badut sulap di Surabaya,’’ kenangnya kemarin (3/12).

Setelah menikah, setahun kemudian, Hendra hijrah ke kampung halaman sang istri. Wilayah Kabupaten Lamongan yang belum ada jasa hiburan badut sulap membuatnya bersemangat. Promosinya waktu itu, show gratis setiap hari ke TK yang ada di Kecamatan Babat dan Kedungpring. Dia memertunjukkan keahliannya bermain sulap kepada anak – anak sembari membagikan kartu nama. Gayung bersambut.

‘’Awalnya diundang guru-guru untuk mengisi acara ulang tahun. Lalu mengisi acara di khitanan juga. Seiring waktu sering dapat panggilan show. Istilahnya saya yang pertama kali babat alas hiburan badut di Lamongan,’’ klaimnya.

Hendra sempat merasakan adanya perbedaan animo penonton di daerah perkotaan dan pedesaan. Di perkotaan, penonton dinilai mudah merasa jenuh karena mereka sering menyaksikan pertunjukan serupa. Sementara di pedesaan, penonton mudah terhibur dan bisa menikmati pertujukan hingga akhir. Sebab, hiburan badut sulap terbilang jarang.

‘’Mereka tertarik dengan story telling dan trik-trik sulapnya. Sehingga saya juga harus selalu belajar hal-hal yang baru. Badut itu harus bisa lucu, interaktif, dan mendidik audiens,’’ tuturnya.

Hendra akhirnya dijadikan jujugan mereka yang ingin menjadi badut. Dia menghitung ada delapan orang yang belajar padanya dan kini juga membuka jasa hiburan badut sulap. Dia berbagi trik agar penonton yang didominasi anak-anak dapat menikmati jalannya pertujukan yang bisa berdurasi hingga dua jam.

‘’Membangun komunikasi dengan tingkah lucu biar anak-anak tertawa. Bisa dengan diajak bermain atau diberi tebak-tebakan. Misalnya masih ada audiens yang kaku atau nakal harus dihadapi dengan sabar dan memberi edukasi. Seperti saat awarding kemarin ada yang lempar-lemparan, triknya salah satu anak diajak naik ke atas panggung,’’ jelasnya.

Agar show berjalan sukses, Hendra juga dibantu tim yang terdiri atas empat orang. Mereka berperan sebagai badut karakter, dekorator, dan menyiapkan berbagai macam perlengkapan seperti kostum, make up, dan alat-alat sulap yang dibuat sendiri. 

Dia juga sering bekerja sama dengan penyanyi, player organ tunggal, dan penari ular bagi klien yang membutuhkan hiburan tambahan. Setiap bulan, Hendra mendapat job show 30 hingga 40 kali. Total omzet yang didapatkannya Rp 20 juta per bulannya.

‘’Tidak setiap hari. Karena ada satu hari show-nya di tiga lokasi, apalagi saat musim khitanan. Paling jauh pernah show di Pati, Blora, Mojokerto, dan Malang. Perayaan tahun baru nanti sudah ada jadwal show di salah satu hotel Mojokerto,’’ jelasnya.

Selain anak-anak, Hendra juga pernah diminta menghibur di acara perayaan ulang tahun nenek berusia 80 tahun di Bojonegoro. Namun baginya, show yang berkesan adalah Final dan Awarding Lomba Mewarnai di Pendapa Lokatantra Pemkab Lamongan dua hari lalu. Banyak penonton yang terpukau sehingga berebut mendekat kepadanya untuk berinteraksi.

Saat ditanya terkait prosprek jasa hiburan badut sulap ke depannya, Hendra menjawab dengan optimistis.

‘’Selama masih ada anak-anak, badut masih akan dibutuhkan. Menjadi badut itu panggilan hati. Kalau tidak suka anak-anak akan sulit menjalaninya. Karena yang dihadapi anak-anak,’’ jelasnya. (*/yan)

(bj/din/jar/yan/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia