Sabtu, 25 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal

Yakin Tersangka Tunggal, Lengkapi Berkas Pembunuhan

03 Desember 2019, 07: 30: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

DITAHAN: Kapolres AKBP Budi Hendrawan (kanan) ketika menunjukkan BB kepada tersangka Andris S.

DITAHAN: Kapolres AKBP Budi Hendrawan (kanan) ketika menunjukkan BB kepada tersangka Andris S. (Nurcholis/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Penyidik Satreskrim Polres Bojonegoro sudah yakin, Andris Setiawan sebagai tersangka tunggal dugaan pembunuhan Aidatul Izah, 20. Karena itu, penyidik fokus menyelesaikan berkas berita acara pemeriksaan (BAP).

Kapolres Bojonegoro AKBP Budi Hendrawan menegaskan, sudah tidak ada pengembangan lebih lanjut dugaan pembunuhan terhadap korban janda hamil itu. Berdasarkan hasil penyidikan, tersangkanya tunggal.

“Hanya tunggal tersangkanya. Tidak ada tersangka lain,” tegas mantan Kasubdit Gakkum Dirlantas Polda Jatim tersebut kemarin (2/12).

Penyidik satreskrim serius melengkapi berkas BAP perkara ini. Korban merupakan janda yang hamil 24 minggu. Sedangkan, tersangka berusia 19 tahun dan masih duduk kelas XII SMK. Keduanya menjalin asmara hingga terjadi pembunuhan.

“Masih pemberkasan BAP. Dan perlu koordinasi dengan jaksa terlebih dahulu. Perkiraan sebelum tahun baru sudah selesai berkas BAP,” kata Kasatreskrim Polres AKP Rifaldhy Hangga Putra.

Disinggung pemeriksaan tersangka, akankah dilakukan tes kejiwaan berupa uji kebohongan? Kasatreskrim belum bisa memastikannya. Menurutnya, hingga saat ini semua keterangan dari tersangka dan saksi sudah jelas.

Dan tidak ada indikasi tersangka lain yang ikut menghabisi nyawa janda yang hamil 24 minggu tersebut. “Ya kalau nanti diperlukan tentu akan kami laksanakan. Tapi untuk sementara ini, sepertinya kami tidak menggunakannya (uji kebohongan),” jelas Rifaldhy.

Sementara itu, perlu diketahui, hukuman berat bakal diterima Andris Setiawan. Tersangka dijerat pasal berlapis, yakni pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana subsider pasal 338 KUHP tentang pembunuhan. Ancaman hukumannya bisa pidana mati, penjara seumur hidup, atau penjara maksimal 20 tahun.

Motif pembunuhan tersebut disebabkan rasa kesal tersangka kepada korban yang kerap kali meminta pertanggungjawaban atas kehamilannya. Padahal, berdasarkan pengakuan tersangka, janin yang dikandung oleh korban bukan hasil hubungan badan dengan tersangka.

Akhirnya, korban meregang nyawa usai dicekik lehernya menggunakan tali tampar di area waduk Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander, Minggu malam (24/11) lalu.

(bj/gas/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia