Sabtu, 25 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal
Andris Setiawan Bawa Tampar dari Rumah

Pelajar Sendirian Habisi Nyawa Pacarnya

Korban Janda Hamil 24 Minggu Dicekoki Arak

30 November 2019, 15: 43: 23 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

DIDUGA TERENCANA: Andris Setiawan dengan tangan diborgol dikawal dua petugas kepolisian. Tersangka berusia 19 tahun ini masih pelajar SMK.

DIDUGA TERENCANA: Andris Setiawan dengan tangan diborgol dikawal dua petugas kepolisian. Tersangka berusia 19 tahun ini masih pelajar SMK. (Nurcholis/Jawa POs Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Andris Setiawan, termasuk pelajar yang tega. Pelajar SMK berusia 19 tahun itu sudah menyiapkan pembunuhan terhadap Aidatul Izah,  20, pacarnya sendiri. 

Dugaan pembunuhan berencana ini, setelah diketahui sejak dari rumah sudah membawa tali tampar untuk menjerat korban berstatus janda hamil.  Tersangka belum lulus SMK ini ditangkap anggota tim Buser Satreskrim Polres Bojonegoro Selasa malam (26/11). Atau 1x24 jam setelah korban ditemukan tewas mengenaskan di waduk di Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander. 

Tersangka ditangkap di warung martabak turut wilayah Desa Ngumpakdalem Selasa malam (26/11). Kepolisian memastikan Andris Setiawan sebagai tersangka tunggal. 

BEBER BARANG BUKTI: Kapolres AKBP Budi Hendrawan didampingi Kasatreskrim AKP Rifaldy bertanya kepada tersangka saat rilis kemarin.

BEBER BARANG BUKTI: Kapolres AKBP Budi Hendrawan didampingi Kasatreskrim AKP Rifaldy bertanya kepada tersangka saat rilis kemarin. (Nurcholish/ Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Kapolres Bojonegoro AKBP Budi Hendrawan menerangkan, motif tersangka membunuh korban yang merupakan janda hamil 24 minggu itu karena kesal dimintai pertanggungjawaban. Serta sering dimintai uang oleh korban. Namun, tersangka yang ketika malam membantu berjualan martabak itu merasa janin tersebut bukan hasil hubungan badan tersangka dengan korban.

Karena tersangka kali pertama mengenal korban melalui Facebook pada Juli 2019, lalu sudah kondisi hamil. Setelah mengenal, korban dan tersangka menjalin asmara serta sudah dua kali berhubungan badan pada Juli dan November 2019.

Korban selalu curhat serta meminta solusi terkait kandungannya kepada tersangka yang masih kelas XII SMK, bahkan juga berencana hendak mengaborsi janinnya. “Karena sudah kesal dengan korban, tersangka akhirnya merencanakan untuk membunuh korban,” tutur perwira yang belum seminggu ini bertugas di Polres Bojonegoro.  

Kapolres menjelaskan kronologi pembunuhan itu bermula ketika korban menjemput tersangka di rumahnya sekitar pukul 18.30 Minggu (24/11). Keduanya keluar berdua berboncengan menggunakan motor Beat milik korban. Tersangka mengajak korban ke waduk di Desa Sumodikaran yang merupakan tempat kejadian perkara (TKP). Namun sebelum ke TKP, tersangka membeli minuman keras (miras) jenis arak.

Saat di TKP, tersangka dan korban sempat berhubungan badan. Kondisi korban hanya menggunakan celana dalam serta mengenakan kaus dan jaket. Usai berhubungan badan, korban mengeluh lagi soal kandungannya dan meminta pertanggungjawaban tersangka sambil minum arak. 

Namun, saat itu tersangka tidak ikut minum arak. Ketika korban mulai mabuk, tersangka melancarkan aksi kejinya menghabisi nyawa korban.

“Tersangka menjerat atau mencekik leher korban menggunakan tali tampar yang sejak keluar rumah sudah dibawa di sakunya. Jadi memang tersangka sudah merencanakan tindakan tersebut,” ujar perwira kelahiran Kecamatan Kepohbaru,  Bojonegoro, ini. 

Setelah korban mulai tak sadarkan diri, tersangka sempat mengecek hidung korban guna memastikan bahwa korban sudah tak bernyawa.  Kekesalan tersangka berlanjut, sempat memberi bogem mentah ke wajah (hidung dan bibir) korban sekali. Ketika sudah tak bernyawa, tersangka hanya mampu menyeret mayat korban sejauh 2 meter dari lokasi pembunuhan. 

“Selanjutnya, tersangka kabur dengan mengendarai motor milik korban menuju ke salah satu masjid. Lalu menguhubungi salah satu temannya untuk menjemput,” ujar perwira berpangkat dua melati di pundaknya itu.

Tak butuh waktu lama, setelah mayat korban ditemukan warga setempat sekitar pukul 12.00 pada Senin (25/11), polisi mampu menangkap tersangka pada Selasa malam (26/11). Banyak petunjuk yang didapat polisi usai melakukan pemeriksaan visum serta otopsi mayat korban. 

Termasuk para saksi-saksi yang diperiksa juga menguatkan dugaan bahwa Andris Setiawan merupakan pembunuh Aidatul Izah.

Adapun penangkapan tersangka di tempat pemuda itu bekerja, yakni salah satu warung martabak di Desa Ngumpakdalem. Teman yang menjemput tersangka saat diperiksa juga menerangkan bahwa tersangka saat dijemput itu terlihat panik dan napasnya terengah-engah. Anehnya lagi, saat di masjid itu tersangka justru membawa motor korban.

“Lalu saat dilakukan penggeledahan juga ditemukan bahwa HP miliki korban dibawa tersangka,” terang mantan Kasubdit Gakkum Dirlantas Polda Jatim tersebut.

Disinggung terkait adanya tersangka lain, kapolres menegaskan bahwa tersangka pembunuhan hanya satu orang. Sebelumnya telah diperiksa sekitar enam saksi yang merupakan teman-teman korban maupun tersangka. Hingga akhirnya, petunjuk-petunjuk itu menguatkan bahwa pembunuh korban merupakan pacarnya sendiri.

Informasi dihimpun, hasil otopsi juga ditemukan luka bekas cekikan di leher korban. Juga korban yang hamil 24 minggu dan diketahui janinnya lelaki.

Akibat perbuatannya, hukuman berat bakal diterima Andris Setiawan.  Tersangka dijerat pasal berlapis, yakni pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan. Ancaman hukumannya bisa pidana mati, penjara seumur hidup, atau penjara maksimal 20 tahun.

Sementara itu, tersangka saat diinterogasi kapolres tak banyak berbicara. Tersangka hanya mengatakan bahwa dirinya sangat menyesal telah melakukan perbuatan keji tersebut.

Cabdisdik Terkejut, DPRD Soroti Peran Dinas Terkait

KASUS pembunuhan janda hamil berusia 20 tahun bernama Aidatul Izah sangat menyedot perhatian masyarakat, terutama sektor pendidikan. Kali pertama di Kota Ledre ada kasus pembunuhan dengan tersangka masih pelajar. 

Pelaku yang sudah ditetapkan sebagai tersangka tersebut diketahui berusia 19 tahun, namun masih duduk di bangku kelas XII SMK, yakni Andris Setiawan.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdisdik) Jawa Timur di Bojonegoro Adi Prayitno mengatakan, secara pribadi dirinya sangat terkejut ketika mengetahui tersangka pembunuhan merupakan pelajar salah satu SMK di Kecamatan Dander. Ia pun menyampaikan keprihatinannya terkait meninggalnya korban. 

Padahal saat ini terus digalakkan pendidikan karakter. Namun, ternyata harus tercoreng dengan adanya kasus tersebut.

“Karena itu, kami pun mengimbau kepada seluruh guru, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, serta siswa, agar senantiasa terus meningkatkan pendidikan karakter,” tegasnya.

Terpisah, salah satu aktivis Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bojonegoro Nafidatul Himah menilai, tingginya persentase kekerasan yang terjadi di Bojonegoro menunjukkan bahwa betapa rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya melindungi dan memperhatikan pergaulan anak-anak. Menurutnya, hal tersebut merupakan ancaman serius dan perlu mendapat penanganan yang serius dari pemerintah. 

Meski sebenarnya pemerintah sudah punya lembaga strategis, yaitu satuan tugas (satgas) perlindungan perempuan dan anak (PPA), tetapi harus segera bergerak dan bertindak supaya kejadian serupa tidak terjadi lagi. Selain itu, ia mendesak agar pemerintah juga harus segera mengesahkan peraturan daerah (perda) perlindungan perempuan dan anak sebagai payung hukum.

“Guna melindungi perempuan dan anak dari kekerasan yang makin tahun makin marak terjadi,” terangnya.

Dia melihat perilaku siswa atau anak masa kini sudah bergeser jauh. Ada pergeseran moral siswa yang mana ada kemungkinan kontribusinya mulai dari pendidikan dasar yang tidak lagi memperhatikan pembentukan karakter anak. 

Jadi, seharusnya sistem pendidikan menggalakkan pembentukan karakter, spiritual dalam bentuk etika moral, serta attitude agar siswa tahu bagaimana harus berprilaku dan juga contoh perilaku yang baik dari bapak ibu gurunya.

Hal serupa diungkapkan oleh salah satu politisi perempuan dari Partai Gerindra, Sally Atyasamsi, bahwa kasus pembunuhan tersebut sangat membuatnya miris. Ia menyorot peran dinas pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan keluarga berencana (DP3AKB) harus lebih ditingkatkan lagi. Karena secara garis besar, Sally menilai kondisi korban yang hamil ini tak punya banyak pilihan. Hanya ada dua pilihan, yakni mengaborsi atau meminta pertanggungjawaban pasangan.

Sedangkan, di luar sana tentu tak sedikit kasus-kasus yang sama dialami oleh korban. Kehamilan yang tidak direncanakan itu seharusnya juga diberikan perhatian. Para perempuan yang sedang mengalaminya, idealnya harus tahu berkonsultasi di mana mengenai kondisi kehamilannya tersebut. Semisal hendak diaborsi karena korban perkosaan atau apabila hendak diadopsi orang lain ketika bayi telah lahir.

“Saya merasa masyarakat belum terinformasi dengan baik terhadap peran DP3AKB yang seharusnya bisa menjadi tempat untuk berkonsultasi ketika ada perempuan yang mengalami kehamilan tidak direncanakan,” tegas Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro. 

Jadi, ia berharap, jangan sampai kasus seperti ini terulang kembali. Upaya-upaya preventif seperti memperbanyak kanal-kanal konsultasi bagi perempuan maupun anak itu penting. Setidaknya, mampu meminimalisasi kekerasan terhadap perempuan maupun anak.

Sementara, Anggota Komisi C DPRD Bojonegoro Hidayatus Sirot menyorot, perlu ditingkatkannya pola komunikasi antara guru dan siswa. Sehingga, setidaknya masalah-masalah para siswa ini diketahui oleh gurunya. Kemudian bisa juga mengajak komunikasi para orang tua siswa agar bisa dilakukan pencegahan sejak awal. Karena ia melihat, kasus pembunuhan tersebut cukup mengejutkan karena seorang yang masih siswa SMK berani menghabisi nyawa orang lain. 

“Kami tentu ikut prihatin, semoga ke depannya guru-guru ini mampu menjalin kedekatan yang baik dengan para siswanya, sekaligus tak lepas dari pengawasan serta pola asuh orang tua,” pungkasnya. 

(bj/gas/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia