Sabtu, 25 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Tunggu Uji Potensi Gas Tadi Malam

29 November 2019, 15: 57: 32 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

DIBERI GARIS POLISI: Sumur milik Ninik, warga Desa Pasi, Kecamatan Glagah, mengeluarkan bau gas.

DIBERI GARIS POLISI: Sumur milik Ninik, warga Desa Pasi, Kecamatan Glagah, mengeluarkan bau gas. (Anjar Dwi P/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

Berita Terkait

LAMONGAN, Radar Lamongan – Hingga kemarin (28/11) pita garis polisi masih melingkari sekitar sumur air pengeboran yang mengeluarkan bau seperti gas amoniak di Desa Pasi, Kecamatan Glagah. Sumur di rumah Ninik itu mengeluarkan semburan dan berbau aneh sejak Rabu (27/11) sore.

“Awalnya saya mau mencari sumber air ternyata dua kali muncul semburan dengan bau menyengat itu, kata Ninik. 

Kasi Tanggap Darurat BPBD Lamongan, Muslimin, menuturkan, pihaknya mendapatkan informasi dari warga ada semburan gas yang berawal dari pengeboran untuk air bersih. Sumur itu pernah dilakukan pengeboran sedalam 90 meter (m). 

Kemudian dilakukan perluasan sekitar 21 meter di titik yang sama. Ternyata keluar semburan air dengan campuran lumpur dan pasir. Warnanya agak coklat. Baunya menyengat. Jika didekatkan dengan korek api, maka bisa menyala.

Ketika petugas sampai ke lokasi, lanjut dia, kondisinya sudah terdapat bau menyengat dan berpotensi adanya senyawa gas.

“Kita langsung lapor ke dinas terkait untuk dilakukan analisa menyeluruh,” jelasnya. Kabag Perekonomian Pemkab Lamongan, Shofiah Nurhayati, mengatakan, semburan itu terjadi karena air dan lumpur yang keluar terdorong oleh gas di bawahnya. Pemilik sumur melakukan pengeboran berdiameter 4 inch supaya mendapatkan kapasitas air lebih besar. Sebelumnya, beberapa tahun lalu dilakukan pengeboran berdiamter 2 inch.

Hipotesa awalnya saat didatangi tim Pertamina EP itu, lanjut dia, gas yang ada dominan gas metan dengan tekanan di atas 10 ppm dan H2S kisaran 2-3 ppm. Gas itu biasa disebut gas rawa. Biasanya, pada waktu tertentu akan habis. Namun, perlu dilakukan uji potensi selanjutnya untuk memastikan.

Pemasangan garis pengamanan polisi dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal tidak diinginkan. Jaraknya, 6 meter dari titik pengeboran. Menurut dia, petugas dari Pertamina EP masih mendalami kandungan gasnya. Mereka sudah menyiapkan pipa paralon setinggi 6 meter untuk membantu mengecilkan tekanan sampai 3,2 ppm.

Sebab, kandungan gas metan di atas 10 ppm berpotensi terbakar. Sofi memastikan, situasi di sekitar sumur masih aman. Sebab, sekitar pukul 17.00 dipasang paralon setinggi enam meter. Selain itu, lubang di sekitar yang belum kedap, ditutup rapat. Sehingga gas hanya keluar melalui pipa yang di atasnya atap. Setelah itu, diukur di teras rumah pemilik sumur.

Ada empat parameter pokok, O2 (oksigen) 20,9 situasi aman. CO2 paling atas (karbondioksida) di dalam udara apabila oksigen berkurang maka CO2 naik. H2S (asam sulfida) mengiringi gas alam. Kalau pengeboran potensi gas, maka gas alamnya juga tinggi. CH4 (gas metan) 0.0 kandungan paling ringan. Kandungannya 0 karena tidak terjadi kebocoran. H2S juga aman, sehingga warga sekitar berada pada zona aman.

“Rencananya tim pertamina EP akan melakukan uji potensi gas lagi pada (tadi) malam hari. Karena biasanya tekanan gas malam hari itu mengumpul,” tuturnya.

Menurut dia, untuk melihat potensi gas, perlu diteliti lagi. Kemungkinan butuh waktu satu minggu. Sumur itu masuk wilayah SKK Migas. Sehingga menunggu kelanjutan dari uji yang dilakukan. Hingga berita ini ditulis, hasil uji potensi gas belum diketahui.

(bj/rka/yan/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia