Sabtu, 25 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

24 Jam Pantura Macet Total

29 November 2019, 15: 33: 34 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

MACET TOTAL: Kemacetan di jalur pantai utara (pantura) Tuban yang memicu kendaraan berat tak bergerak sedikit pun. Kondisi kemacetan dipotret kemarin (28/11) sekitar pukul 11.00.

MACET TOTAL: Kemacetan di jalur pantai utara (pantura) Tuban yang memicu kendaraan berat tak bergerak sedikit pun. Kondisi kemacetan dipotret kemarin (28/11) sekitar pukul 11.00. (Yudha Satria A/Jawa Pos Radar Tuban)

Share this      

TUBAN, Radar Tuban – Sejak Rabu (27/11) malam hingga kemarin (28/11) sore, jalur pantai utara (pantura) Tuban lumpuh total. Pemicu utamanya, perbaikan jalan nasional mulai Desa Purworejo –- Desa Socorejo, keduanya di Kecamatan Jenu. 

Pantauan Jawa Pos Radar Tuban, sepekan sebelumnya kendaraan di jalur nasional tersebut terpantau padat, karena perbaikan jalan di sekitar Pelabuhan Semen Indonesia (SI). Puncak kemacetan terjadi Rabu malam. Itu terpantau mulai kilometer (km) 10--11 jalan Tuban – Bulu, persisnya di Desa Beji, Kecamatan Jenu hingga km 32-33 Desa Margosuko, Kecamatan Bancar. Total kemacetan sepanjang 22 km. 

Kasatlantas Polres Tuban AKP Ricky Tridharma menjelaskan petugas sudah berupaya mengurai kemacetan sejak kemarin pagi. Salah satu upaya adalah memberhentikan sementara proyek perbaikan jalan. Proyek nasional tersebut terpaksa dihentikan karena kendaraan berat sudah menumpuk di seluruh titik kemacetan. 

Agar penumpukan kendaraan tidak kian panjang, petugas kepolisian membuat rekayasa lalin dengan mengalihkan sejumlah kendaraan ke jalur tengah melalui Kecamatan Merakurak. Sebagian bus dialihkan ke jalur selatan melalui wilayah Kecamatan Jatirogo. Petugas juga meminta seluruh kendaraan lebih tertib ketika  melintas di sekitar proyek perbaikan jalan. ‘’Kami akan menentukan jam operasional perbaikan jalan agar tidak terjadi kemacetan lagi,’’ tegasnya. 

Terpisah, Sekretaris Dinas Perhubungan Tuban Gunadi mengatakan, faktor utama kemacetan adalah perbaikan jalan sepanjang 2 km di jalan nasional. Pemicu lain adalah beroperasinya truk Semen Indonesia Logistik (Silog) yang meningkat menjelang akhir tahun. Kondisi tersebut memicu jalan di sekitar pelabuhan semakin penuh sesak. ‘’Kami sudah meminta truk semen agar menyesuaikan jam operasionalnya,’’ tegas dia.

Pemicu kemacetan berikutnya, terang Gunadi, terkait aktivitas di sekitar Pasar Glondonggede akibat kendaraan umum yang kurang tertib ketika menaikkan dan menurunkan penumpang. 

Setelah dipetakan lebih jauh, kata mantan camat Grabagan itu, kemacetan juga dipicu karena sejumlah pengemudi kendaraan berat yang ketiduran saat kendaraannya berhenti di tengah jalan. ‘’Minimnya kesadaran pengemudi untuk tertib berlalu lintas juga memicu jalur pantura lumpuh selama beberapa jam,’’ tutur dia. Gunadi menambahkan, Forum Lalu Lintas Tuban sudah berkoordinasi untuk memperlancar arus lalu lintas. 

Kemarin sore, kendaraan berat terpantau mulai berjalan. Meski masih padat, setidaknya kendaraan tidak berhenti di titik-titik tertentu.

Akumulasi dari Menumpuknya Problem

WARTAWAN koran ini yang tinggal di Bulu mencoba memotret kemacetan jalur pantai utara (pantura). 

Kemarin (28/11) sekitar pukul 07.00, motor yang dikendarai penulis dari Bulu hanya mampu melaju dengan kecepatan maksimal 20 kilometer (km) per jam. 

Itu pun menyusuri bahu jalan dan sisa-sisa aspal. Benar-benar menyiksa. Dari Bulu hingga Desa Purworejo, Kecamatan Jenu yang biasanya cukup ditempuh sekitar 30 menit, sekarang lemot menjadi 60 menit. 

Kemacetan tersebut benar-benar menyiksa pengguna jalan, khususnya awak kendaraan berat. Sebagian besar mematikan mesinnya. Setelah turun, mereka istirahat di sekitar kendaraannya. Selebihnya nongkrong di warung dan rumah-rumah warga.

Kemacetan kemarin merupakan akumulasi   dari menumpuknya problem lalu lintasi di sepanjang jalur pantura. Sejak sepekan terakhir, sejumlah titik jalan di km 25-26, ditambal-sulam. Perbaikan tersebut memaksa pemberlakuan sistem buka-tutup pada arus lalu lintas. 

Bersamaan pekerjaan tersebut juga berlangsung peningkatan jalan di wilayah Kecamatan Jenu. 

Rabu (27/11) malam terjadi kemacetan pada dua jalur yang dipicu dari perbaikan dan peningkatan jalan tersebut. 

Kemacetan paling parah terlihat di Desa Beji, Kecamatan Jenu hingga Pelabuhan Semen Gresik di Desa Socorejo, Kecamatan Jenu. 

Dari barat, kemacetan mulai Desa Margosuko, Kecamatan Bancar hingga pelabuhan semen. Bibit-bibit kemacetan tersebut nyaris tidak terurai dan cenderung dibiarkan. 

Puncaknya terjadi  kemarin (28/11) pagi. Kendaraan dari timur maupun barat bergerak merayap. Kondisi tersebut diperparah dengan keluar-masuknya kendaraan dari Pelabuhan Semen Gresik plus aktivitas masyarakat sekitar Pasar Tambakboyo yang menggunakan bahu jalan dan tepi badan jalan. 

Kemacetan tersebut benar-benar melumpuhkan sendiri ekonomi. Mobil penumpang umum (MPU) Bulu-Tuban banyak yang tidak beroperasi. Mereka tidak mau dirugikan karena ''duitnya terbakar'' sia-sia selama  kendaraannya berhenti. Kalaupun nekat beroperasi, cost biayanya dipastikan lebih mahal karena harus menempuh jalur alternatif yang lebih jauh. 

Sementara bus antar kota antar provinsi (AKAP) terpaksa harus bersabar. Mereka tak punya pilihan lain. Dalam kondisi tersebut, para calon penumpang di sepanjang jalur pantura tercecer menunggu bus dan mobil penumpang umum (MPU). Itulah kemacetan. Merugikan semuanya!.

(bj/yud/zak/ds/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia