Senin, 27 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Oknum Pengacara Divonis 2 Tahun, Korban Menangis dan Kecewa

27 November 2019, 17: 04: 16 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

OKNUM PENGACARA: Kunardi berjalan usai menjalani sidang di PN kemarin. Dia divonis dua tahun penjara.

OKNUM PENGACARA: Kunardi berjalan usai menjalani sidang di PN kemarin. Dia divonis dua tahun penjara. (Bhagas Dani/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Ketika Ketua Majelis Hakim Djauhar Setyadi mengetuk palu tanda sidang berakhir dan memvonis Kunardi dua tahun pidana penjara, tiga korban justru kecewa. Terdakwa oknum pengacara ini terbukti memalsukan surat akta jual beli (AJB) tanah berupa sawah seluas 4.282 meter persegi di Desa Kunci, Kecamatan Dander.

Tiga korban merupakan tetangga terdakwa. Yaitu Puji Astutik, Hartinah, dan Guntur, meluapkan kekecewaan usai sidang di Pengadilan Negeri (PN) Bojonegoro kemarin (26/11), karena vonis yang diberikan terdakwa dinilai ringan. 

Bahkan, Puji Astutik meluapkan kekecewaannya hingga meneteskan air mata. “Kalau hanya dua tahun vonisnya itu tidak adil. Ibu saya itu lho demi mendapatkan sawah itu berjualan onde-onde jarang tidur selama bertahun-tahun, sampai akhirnya sakit stroke empat tahun. Dan kini sudah meninggal,” ujarnya sesenggukan sembari menyeka air matanya menggunakan tisu.

Ia menambahkan, sawah yang dibeli ibunya itu diwariskan kepada adiknya, Pujianto yang kondisinya cacat sejak lahir. Pria akrab disapa Tutik itu merasa vonis yang tepat bagi terdakwa di atas lima tahun. 

Vonis pidana penjara dua tahun ini lebih rendah dibanding tuntutan jaksa penuntu umum (JPU), yakni tiga tahun pidana penjara. Vonis 2 tahun ini setelah terdakwa terbukti melanggar pasal 266 KUHP tentang pemalsuan.

Hartinah, korban lainnya merasa vonis yang diterima terdakwa masih kurang tinggi. Karena proses ia bisa membeli tanah itu berusaha setengah mati menjadi pembantu rumah tangga selama lebih dari 20 tahun. Karena ia merasa terdakwa telah menyusahkan rakyat kecil sepertinya. Ia pun masih berharap bisa mendapat sawahnya lagi.

“Semua Allah yang menentukan, kami sebagai manusia akan terus berusaha,” ujarnya ditemui di PN setempat.

Hal sama dikatakan Guntur. Seharusnya terdakwa dihukum dengan pidana penjara maksimal tujuh tahun. Karena menurutnya, terdakwa ini sangat mengerti hukum, tapi malah mempermainkan hukum sendiri. “Seandainya aku yang jadi hakim, tentunya hukuman lebih tinggi dari itu,” katanya.

Sementara itu, Sunaryo Abumain, penasihat hukum terdakwa mengatakan, menyerahkan keputusan selanjutnya kepada kliennya. Ia belum bisa menjawab apakah akan melakukan upaya hukum berupa banding atau menerima putusan.

“Kami nanti akan koordinasi dulu dengan keluarga klien dulu. Kami gunakan hak untuk pikir-pikir selama tujuh hari,” katanya.

Perlu diketahui, majelis hakim menilai hal-hal yang memberatkan terdakwa ialah merugikan orang lain dan meresahkan masyarakat. Sedangkan, hal-hal yang meringankan, terdakwa belum penah dipidana dan selama persidangan telah kooperatif.

Terkait materi putusan, terdakwa diketahui menggunakan data palsu mengurus AJB tanah. Setelah diurus terdakwa, terbitlah AJB Nomor 446/2013 pada 21 Maret 2013 di PPAT Eni Zubaidah. Lalu terbit sertfikat tanah nomor 32 yang semula bernama Sastrosentono berubah menjadi nama terdakwa sendiri. 

Diketahui identitas Sastrosentono sampai dengan meninggal dunia tinggalnya di alamat Desa Kunci, RT 15/RW 02,  Kecamatan Dander. Namun di AJB tertera alamat Desa Kunci, RT 11/RW 02, Kecamatan Dander, dan foto yang tertera nama Sastrosentono adalah foto Mul Untung, mertua terdakwa. 

Selanjutnya, sertifikat itu digunakan terdakwa sebagai tambahan atas jaminan terhadap pinjaman di Bank PNPM sebesar Rp 100 juta. Namun, terdakwa belum bisa melakukan pembayaran pelunasan  di Bank PNPM tersebut. Sehingga, dari pihak bank mengambil langkah lelang terhadap objek dari sertifikat atas nama terdakwa sendiri.

Karena itu, sertifikat tanah itu dieksekusi oleh pihak bank dan telah ada pihak pemenang lelang  atas nama Arif Handoko. Sehingga, para penggarap/pemilik tanah, yakni Puji Astutik, Hartinah, dan Guntur mengalami kerugian.

(bj/gas/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia