Senin, 27 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Sekitar 20.000 Warga Meriahkan Milad 107

Busyro Muqqodas: Korupsi adalah Radikalisme Politik

25 November 2019, 16: 30: 55 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

BERI SEMANGAT: Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas memberikan arahan dan pesan kepada ribuan warga saat memeriahkan Milad 107 Muhammadiyah di GOR Dabonsia kemarin (24/11).

BERI SEMANGAT: Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas memberikan arahan dan pesan kepada ribuan warga saat memeriahkan Milad 107 Muhammadiyah di GOR Dabonsia kemarin (24/11). (MOCHAMAD NURKOZIM/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Radikalisme bukan hanya soal umat. Tapi, juga terjadi radikalisme politik. Wujudnya apa? Yakni, korupsi yang semakin menggila sekarang ini. ’’Jadi bukan radikalisme umat. Tapi, radikalisme politik,’’ kata Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Busyro Muqoddas saat peringatan Milad 107 Tahun Muhammadiyah di GOR Dabonsia Bojonegoro kemarin (24/11). 

Mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu mengatakan, wujud radikalisme politik berupa korupsi ini yang seharusnya menjadi perhatian serius. ’’Karena ini sangat membahayakan negara,’’ katanya.

Selain berupa korupsi, radikalisme politik juga diwujudkan pada kebiasaan tidak jujur dan berbohong pada rakyat. ’’Juga menuduh yang tidak-tidak,’’ jelasnya.

Busyro melanjutkan, tahun depan akan dilaksanakan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Jangan sampai pilkada itu dilaksanakan dengan caya yang tidak benar. Yakni dengan cara menyogok atau menyuap.  

’’Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengingatkan pada keluarga besar Muhammadiyah untuk mencegahnya. Jangan sampai pemilihan nanti ada main sogok, suap, atau riswah. Orang yang menyogok, penerima sogok, atau calonnya akan masuk neraka,’’ tegasnya.

Diapun yakin kalau Muhammadiyah itu banyak yang tidak jujur, maka tidak mungkin bisa seperti PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) Bojonegoro ini. ’’Juga PDM lainnya,’’ ujar pria asal Jogjakarta ini. 

Busyro berterima kasih pada Banser NU yang ikut membantu kelancaran kegiatan itu. Nanti, pada acara-acara yang dilaksanakan NU, Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) tanpa diminta akan membantu. ’’Ini adalah ukhuwah islamiah,’’ jelas pria kelahiran 1952 itu.

Menurut Busyro, apa yang dilakukan PDM adalah bukti nyata. Bahwa Muhammadiyah adalah gerakan yang bersifat kultural pendidikan. Islam rahmatan lilalamin. ’’Sebaliknya, Muhammadiyah menghindari sikap-sikap garis keras. Padahal, Islam itu agama yang penuh kelembutan. Kepada siapa saja,’’ jelasnya.   

Muhammadiyah memiliki aset yang sangat besar. Menurut dia, banyak orang bertanya mengenai itu. Apalagi mengenai biaya pembangunan amal usaha Muhammadiyah itu. ’’Semua itu 99 berasal dari karakter orang-orang Muhammadiyah. Yakni,  memberi, memberi, dan memberi. Bukan meminta apalagi korupsi,’’ tegasnya. 

Dihadari Sekitar 20.000 Warga

Pidato Busyro ini menjadi pamungkas serangkaian acara milad Muhammadiyah Bojonegoro. Sejak pukul 06.00, warga Muhammadiyah menggemuruhkan perayaan ke-107 ini. Tak kurang sekitar 20.000 warga gemuruh dan tumplek blek. ’’Saya dapat laporan demikian,’’ kata Ketua Panitia Milad 107 Muhammadiyah PDM Bojonegoro Sholihin Jamik.

Dimulai dari pawai taaruf dari seluruh warga Muhammadiyah se-pimpinan daerah di Ponpes Al Rosyid. Serta puluhan grup drum band yang dimiliki lembaga pendidikannya. Puluhan ribu warga pawai dari pesantren yang diasuh KH Alamul Huda hingga GOR Dabonsia.  Pawai pun mengular. Yang depan finis, yang belakang belum berjalan.

Yang menarik, pawai itu diamankan bersama petugas dari polres, dishub, Kokam Muhammadiyah, dan Banser NU. 

Sementara itu, ribuan siswa PAUD dan TK ABA se-Kabupaten Bojonegoro menggelar senam masal di depan panggung outdoor GOR Dabonsia. Tak hanya anak-anak, emak-emak pengurus Aisyiah, guru-guru, dan orang tua siswa ikut senam memadati depan GOR itu.

Puluhan stan expo amal usaha Muhammadiyah, UKM, dan bisnis dijubeli pengunjung.

Sementara, GOR Dabonsia terpaksa ditutup dua jam sebelum acara, karena dipenuhi warga. Mulai lantai dasar hingga tribunnya. Mereka yang tak kebagian kursi, terpaksa lesehan dan delosoran di pinggir-pinggir arena.

Selain Busyro Muqoddas, milad ini juga dihadiri Bupati Bojonegoro Anna Mu’awanah, Sekretaris Pimpinan Wilayah Jatim Tamhid Masyhudi, Pengurus PDM Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Nganjuk, dan Blora. Juga Forpimda Bojonegoro dan beberapa ormas dan partai politik. 

Panggung dengan latar videotron berukuran 8x2 meter pun diisi berbagai performance dari amal usaha Muhammadiyah dan grup Nasyid Acapella Awan Voice.

(bj/zim/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia