Senin, 09 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Penanaman Tabebuya Menunggu Hujan

20 November 2019, 13: 29: 50 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

BARU SETAHUN: Pohon tabubeya mulai mengembang di jalan raya turut Desa Sukowati, Kecamatan Kapas.

BARU SETAHUN: Pohon tabubeya mulai mengembang di jalan raya turut Desa Sukowati, Kecamatan Kapas. (Nurcholis/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Pohon tabebuya tampaknya menjadi pilihan yang bakal ditanam di musim hujan ini. Rencana pohon hias lainnya, yaitu penanaman pohon pule dan sepatu dea. 

Namun, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro masih mempelajari rencana penghijauan. Sebab, pemilihan pohon juga harus tepat guna. Termasuk melihat kondisi wilayah Bojonegoro.

Kepala DLH Bojonegoro Hanafi mengatakan, penghijauan tak hanya menanam pohon hias saja. Tapi, juga menanam pohon peneduh di beberapa titik poros kecamatan. 

Selain itu, juga reboisasi terhadap ratusan pohon yang tumbang atau ditebang akibat dampak proyek trotoar sekaligus drainase di jalan protokol wilayah kota. “Penanaman pohon menunggu turun hujan dulu. Kalau tanahnya sudah gembur. Sebaliknya, ketika panas seperti sekarang dipaksakan untuk menanam, nanti pohonnya justru mati,” katanya kemarin (19/11).

Hanafi memastikan, masih berkonsultasi dengan bupati dan mempelajari terlebih dahulu lokasi titik penanaman pohon. Diperkirakan ke depannya ada kawasan tertentu yang khusus ditanami pohon hias. Ada juga ditanami pohon peneduh. Contohnya, pohon tabebuya sudah ditanam di pinggir Jalan Raya Bojonegoro-Babat turut wilayah Desa Sukowati, Kecamatan Kapas, sejak tahun lalu. 

“Kalau pohon penghijauannya ada beberapa titik di wilayah Kecamatan Purwosari, Tambakrejo, Balen, Sugihwaras, dan Kedungadem,” terangnya.

Manajer Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur Wahyu Eka Setyawan mengungkapkan, bahwa pemilihan pohon penghijauan harus banyak pertimbangan. Jangan hanya memperhatikan keindahan pohon saja, tetapi melihat fungsi pohon. 

Menurut dia, melihat kondisi wilayah Bojonegoro yang memiliki industri pengeboran migas seharusnya memilih pohon-pohon yang bisa menyerap racun. Dan pohon yang mampu menyumbang banyak oksigen sekaligus mengurangi polusi. 

Misalnya, menurut Wahyu, seperti pohon angsana atau trembesi. Terkait pohon-pohon yang ditebang akibat proyek trotoar harus segera dilakukan reboisasi. “Untuk Bojonegoro sendiri harus memperhatikan sekaligus merencanakan tata ruang wilayah agar bisa memiliki ruang terbuka hijau lebih dari 30 persen,” tutur pria asal Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban itu.

(bj/gas/rij/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia