Senin, 09 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

Satpol ''Berangus'' Baliho-Gapura Penolakan Kilang

06 November 2019, 20: 21: 30 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

ASPIRASI WARGA: Gapura penolakan kilang minyak di Dusun Pomahan, Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu ketika masih berdiri Senin (4/11).

ASPIRASI WARGA: Gapura penolakan kilang minyak di Dusun Pomahan, Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu ketika masih berdiri Senin (4/11). (Yudha Satria Aditama/Jawa Pos Radar Tuban)

Share this      

TUBAN, Radar Tuban – Dikhawatirkan memprovokasi masyarakat luas, Satpol PP Tuban tidak membiarkan begitu saja    puluhan baliho dan gapura bertuliskan penolakan terhadap kilang minyak Grass Root Refinery (GRR) bertebaran di Desa Sumurgeneng dan Wadung, keduanya di Kecamatan Jenu. Kemarin (5/11),  30 personel aparat penegak peraturan daerah (perda) mencopoti baliho dan gapura. 

Penurunan dua atribut tersebut sempat mendapat perlawanan dari puluhan warga. Mereka protes dan menyatakan tulisan penolakan kilang tersebut murni aspirasi masyarakat yang tidak ingin menjual lahannya untuk proyek  PT Pertamina Rosneft. Perlawanan warga tersebut sia-sia. Petugas bersikukuh membersihkan seluruh atribut penolakan. Habis  tanpa sisa.  ''Itu aspirasi warga, mengapa dicabut,'' teriak Munasih, warga  Sumurgeneng berusaha menghalangi action petugas satpol PP.

Kepala Satpol Tuban PP Hery Muharwanto mengatakan, pencopotan baliho dan gapura tersebut untuk menciptakan keamanan dan ketertiban kawasan proyek strategis nasional tersebut. Menurut Hery, seluruh baliho yang dipasang warga berbau provokasi dan dapat menimbulkan potensi konflik.

Mantan sekretaris satpol PP setempat itu kepada Jawa Pos Radar Tuban mengklaim hanya mencopot 15 baliho dan 1 gapura. ‘’Kami tertibkan karena pemasangannya di tempat umum. Tidak boleh fasilitas umum dikuasai seperti itu,’’ tegas dia.

Perlu diketahui, baliho dan gapura bertuliskan penolakan kilang GRR dipasang sekitar 60 warga Sumurgeneng dan Wadung sejak Jumat (1/11). Sebelum memasang gapura, mereka melakukan aksi mengarak baliho dan spanduk berisi penolakan kilang. Pada tulisan yang dipasang di pinggir lahan dua desa tersebut, mereka menegaskan menolak negosiasi harga. Juga menolak pemasangan patok di lahan mereka.

Puluhan warga mengaku tidak menjual lahannya karena masih ingin bertani di lahan subur milik mereka. Baliho dan gapura tersebut hanya bertahan tiga hari sejak dipasang Jumat. Sebab, kemarin (5/11) spanduk dan gapura tersebut dibersihkan aparat satpol PP.

(bj/yud/ds/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia