Senin, 09 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Ekskavasi Perahu Kunio, Arkeolog Mojokerto Temukan Koin dan Peluru

06 November 2019, 20: 09: 12 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

ADA BENDA KUNO LAIN: Perahu kuno yang semakin terlihat kerangkanya setelah air Bengawan Solo di sekitar benda tersebut dikuras. Pekerja juga menemukan koin mata uang Hindia Belanda 1902 dan 1909.

ADA BENDA KUNO LAIN: Perahu kuno yang semakin terlihat kerangkanya setelah air Bengawan Solo di sekitar benda tersebut dikuras. Pekerja juga menemukan koin mata uang Hindia Belanda 1902 dan 1909. (Anjar D. Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan – Ekskavasi perahu kuno yang diduga peninggalan zaman Belanda di Desa Mertani, Kecamatan Karanggeneng, dilanjutkan kemarin (5/11). Hasilnya, ditemukan sejumlah benda kuno seperti koin, peluru, dan kayu untuk landasan.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto, Wicaksono Dwi Nugroho, mengatakan, perahu dimaksimalkan diangkat hari ini (6/11). Temuan sementara, terdapat tiga perahu membujur dari barat. Dua dari tiga perahu baja tersebut disambung menggunakan pengait baja. Sehingga, panjangnya sekitar 7,6 meter.

Sementara koin yang ditemukan, berupa mata uang Hindia Belanda 1902 dan 1909. Nilainya 2,5 sen. Sedangkan peluru yang ada masih melekat di teropong, sehingga dikategorikan aktif. “Kita coba angkat hari ini untuk melihat ukuran pastinya sebelum diserahkan ke pemkab setempat,” ujarnya.

Kepala UPT Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Mojokerto, Andi Muhammad Said, menjelaskan, pusat bersedia memfasilitasi pengangkatan. Sebab, daerah tidak ada anggaran. Setelah diangkat, nantinya perahu diberikan ke pemkab dan diletakkan di museum setempat. Perahu ini dikategorikan jenis perahu perang. Namun, perahu tersebut bisa digunakan penumpang dan perdagangan.

Perahu baja itu diindikasikan digunakan saat perang dunia I. Pengangkatan perahu bakal lebih memvalidkan data.

Andi menilai pembuangan air secara manual menggunakan diesel kurang efektif. Alasannya, waktu yang diperlukan lebih lama. Dia akan mengomunikasikan dengan pemkab untuk menggunakan alat berat supaya lebih mudah dalam menguliti tanah yang ada di perahu. “Kalau secara manual memang bias, sepertinya lebih lama. Jadi coba langsung menggunakan alat berat,” jelasnya.

Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan, Mifta Alamudin, menuturkan, pembuangan air disiapkan dua diesel. Keduanya sudah beroperasi sejak Senin. Jika dibutuhkan alat berat untuk memudahkan, maka pihaknya bisa mengomunikasikan. Sebab, sebelumnya ada pembahasan lintas OPD untuk meminjam alat berat.

(bj/jar/rka/yan/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia