Senin, 09 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

Dirikan Gapura Bambu, Warga Jenu Tolak Kilang

05 November 2019, 11: 45: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

BENTUK PROTES: Gapura bambu yang didirikan warga Dusun Pomahan, Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu sebagai bentuk penolakan kilang GRR.

BENTUK PROTES: Gapura bambu yang didirikan warga Dusun Pomahan, Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu sebagai bentuk penolakan kilang GRR. (Yudha Satria Aditama/Jawa Pos Radar Tuban)

Share this      

TUBAN, Radar Tuban – Warga terus melakukan perlawanan terhadap pembebasan lahan kilang Grass Root Refinery (GRR) PT Pertamina Rosneft Tuban. Saat ini, pengukuran lahan masih menyisakan lahan milik 60 warga  Desa Sumurgeneng dan Desa Wadung, keduanya di Kecamatan Jenu yang menolak pendirian kilang di desanya.

Sebagai bentuk penolakan, warga kedua desa tersebut mendirikan gapura bambu setinggi tiga meter di pintu gerbang Dusun Pomahan, Desa Sumurgeneng. Tertulis, Selamat Datang di Kawasan Lahan Pertanian Produktif, Tidak Dijual. Pendirian gapura tersebut merupakan aksi lanjutan warga yang sebelumnya turun ke jalan desa untuk menggelar arak-arakan baliho dan papan kayu berisi penolakan pendirian kilang.

Korlap aksi Munasih mengatakan, pendirian gapura merupakan bentuk penolakan warga untuk menjual lahannya. Kepada Jawa Pos Radar Tuban, dia mengatakan bersama 60 warga lain sikukuh menolak berbagai aktivitas Pertamina Rosneft di lahannya. Pada tulisan penolakan di masing-masing lahan, Munasih berharap tak ada lagi negosiasi harga. ‘’Kami capek ditanya kapan menjual lahan, jadi kami tegaskan bahwa lahan kami tidak akan pernah dijual,’’ tegas dia.

Warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu itu mengatakan, alasan penolakan pendirian kilang karena sebagian besar lahan di desanya adalah tanah produktif. Di lahan yang dimiliki, per bidang bisa menghasilkan sayur dan buah yang melimpah. ‘’Kami tidak tergiur iming-iming apa pun. Kami hanya ingin bertani dengan damai, jadi mohon negara menghormati keputusan petani,’’ kata dia mengiba.

Sasmito Didik, warga Desa Wadung menambahkan, warga yang tak rela menjual tanahnya untuk kilang beralasan karena lahannya sangat produktif. Menurut dia, sebidang lahan seluas 4 ribu meter persegi bisa menghasilkan lombok 3,5 kwintal sekali panen. Saking suburnya, rata-rata tiap panen bisa sepuluh kali petik. ‘’Banyak lahan yang per bidangnya menghasilkan 8 kuintal, kalau dirupiahkan setiap empat bulan sekali dapat Rp 30 – 40 juta,’’ jelas dia.

Menurut Sasmito, lahan di desanya sangat subur. Saat kemarau seperti sekarang ini, mereka sukses memanen kacang, jagung, tomat, bawang merah, semangka, melon dan lainnya. Dia memastikan tak sepetak lahan produktif di desanya yang puso atau gagal panen. ‘’Tanah kami subur, sampai kapan pun tidak akan kami jual,’’ tegas dia. 

Project Coordinator Kilang GRR Tuban Kadek Ambara Jaya mengatakan, pihak Pertamina Rosneft menghormati dan menghargai setiap aspirasi dan aksi warga. Dia memastikan pendirian Kilang GRR tetap berlanjut. ‘’Pertamina menghargai warga yang belum bisa menerima proyek strategis nasional itu, namun sebagai BUMN yang diberikan mandat, kami tetap melanjutkan (pendirian kilang),’’ ujar dia melalui WhatsApp (WA). 

Pejabat kelahiran Bali itu mengaku akan melakukan pendekatan dengan warga. Salah satunya melalui forum diskusi untuk mencari solusi. Tujuan akhirnya agar proyek kerja sama Indonesia dan Rusia itu tetap bisa direalisasikan. 

Bagaimana jika warga tetap menolak menjual lahannya? Kadek tidak memberikan jawaban. Dia hanya mengatakan akan menyelesaikan sengketa lahan tersebut dengan merujuk Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum.

(bj/yud/ds/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia