Senin, 09 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Atlet Bola Tangan Lamongan yang Lolos PON XX

Usai Berlatih, Jadi Penyanyi di Kafe

Oleh: AUDINA HUTAMA PUTRI

30 Oktober 2019, 14: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

RAIH PERUNGGU DI PRA PON: Natasha Aprina Abdillah menunjukkan penghargaan yang diraihnya.

RAIH PERUNGGU DI PRA PON: Natasha Aprina Abdillah menunjukkan penghargaan yang diraihnya. (DOKUMENTASI PRIBADI FOR JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

NATASHA Aprina Abdillah pekan lalu ikut menyumbangkan medali perunggu bagi Jawa Timur di ajang Pra Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Purwokerto. Timnya berhak mendapatkan tiket PON di Papua tahun depan.

Bola tangan belum populer seperti olahraga lainnya. Saat kuliah, Natasha Aprina Abdillah, 22, lebih memilih menekuni olahraga futsal. Dara yang akrab disapa Sasa itu mulai mengenal bola tangan setelah diajak senior sekaligus pelatih Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI) Kabupaten Lamongan, Sugeng Tri Atmojo.

‘’Sekitar tahun 2016 diajak Mas Sugeng ikut memperkuat tim bola tangan Lamongan. Latihan sekali dua kali, kemudian ikut ekshebisi PON di Bandung. Tapi saat itu belum dapat juara,’’ kenangnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (29/10).

Kesan pertama Sasa saat menyaksikan olahraga bola tangan hampir sama dengan futsal. Bedanya, menggunakan tangan untuk memindahkan bola. Sasa optimistis bisa memainkan bola tangan. Meskipun, dia tak menguasa olahraga bola ‘’tangan’’ lainnya, basket.

Setelah mencoba bermain, dia merasa enjoy dan tertarik untuk menekuninya. Perlahan-lahan, Sasa beralih meninggalkan futsal yang juga membawanya berprestasi.

‘’Saat masih main futsal, saya pernah juara dua di ajang kejurnas (kejuaraan tingkat nasional). Mungkin sekitar tahun 2016 atau 2017,’’ ujar dara berambut cepak ini.

Saat bermain bola tangan, Sasa kerap mendapat tugas di posisi center, wing kanan atau kiri, dan effort. Dia lebih suka di posisi center dan wing kanan. Jika di posisi center, maka Sasa dapat mengatur jalanan permainan timnya. Sedangkan di posisi wing kanan, dia bisa melancarkan shooting dengan mudah ke gawang lawan.

Selama menggeluti bola tangan, Sasa merasakan olahraga tersebut olahraga full body contact. Pemain harus terus bergerak. Setiap pergerakan memiliki grade masing-masing. Sementara di futsal, pergerakan tubuh hanya mengikuti lawan.

‘’Bola tangan itu fokus dengan lawan dan bola. Lalu semua fisik mulai bagian upper, middle, dan lower berperan. Sedangkan futsal hanya bagian middle dan lower. Awalnya saya kira sulit gerakannya karena semi basket. Sedangkan saya tidak pernah ikut basket. Gerak badan dan step-nya sangat berbeda,’’ tutur mahasiswi jurusan kepelatihan olahraga ini.

Sebelum terpilih menjadi salah satu pemain untuk memerkuat tim bola tangan Jawa Timur, Sasa harus menjalani seleksi panjang sejak Januari. Mulai seleksi di tingkat kabupaten hingga provinsi. Sasa dan tiga atlet bola tangan asal Kota Soto lainnya lolos seleksi dan diwajibkan mengikuti bimbingan khusus (bimsus).

‘’Bimsus diadakan di Surabaya. Latihan biasanya hanya tiga jam. Tapi dua bulan terakhir sebelum Pra PON, ditambah jadi dua kali pagi dan sore,’’ ujarnya.

Selama bimsus, Sasa tidak kesulitan mengatur waktunya. Apalagi, dia merupakan mahasiswa semester akhir yang tidak terlalu padat kegiatan kuliahnya.

Seusai berlatih, malam hari Sasa harus mempersiapkan diri untuk melakoni pekerjaan sebagai penyanyi reguler kafe-kafe di Surabaya. Justru dengan berolahraga, dapat membantu staminanya saat bernyanyi.

‘’Penyanyi butuh olahraga untuk mengolah napas,’’ tutur penyanyi bergenre pop ini.

Dalam Pra PON, 20 - 24 Oktober, Sasa menjalani tiga kali pertandingan. Saat babak semifinal, tim bola tangan putri Jawa Timur melawan Kalimantan Timur yang merupakan lawan terberat.

‘’Karena postur tubuh pemainnya rata-rata kecil. Sehingga punya passing, catching, dan shooting yang mumpuni. Back true-nya bagus dan perpindahan bolanya cepat,’’ tuturnya.

Meskipun dinyatakan berhak mengikuti PON XX di Papua tahun depan, Sasa mengaku belum tahu kapan pemusatan latihan daerah (puslatda) dimulai. Sebagai warga Lamongan, dia merasa bangga dipercaya untuk memperkuat tim bola tangan Jawa Timur di ajang olahraga bergengsi dan menarget bisa membawa pulang medali emas. Dia berharap para pemain bola tangan dari Lamongan lainnya lebih bersemangat dalam menekuni olahraga tersebut.

Menekuni pendidikan olahraga dan menjadi atlet, bukan berarti dia memiliki cita-cita sebagai olahragawan. Sasa justru bercita-cita menjadi pengusaha dan penyanyi.

‘’Saya ingin jadi pengusaha. Sambil terus menyanyi juga. Sudah terlalu tua kalau jadi atlet,’’ tutur dara asal Kecamatan Deket ini.

(bj/din/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia