Sabtu, 25 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

54 Penderita TB-MDR, 10 Orang Meninggal

30 Oktober 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Penderita tuberkulosis (TB) paru berstatus multi drug-resistant (TB-MDR) mengalami kenaikan. Tahun ini ada 13 penderita TB-MDR. Namun, sejak 2013 hingga 2019 sudah ada 10 dari 54 penderita TB-MDR yang nyawanya terenggut.

Tapi, ada juga tujuh penderita yang sembuh. Penderita TB-MDR yang meninggal disebabkan berhenti minum obat (drop out). “Kuncinya sembuh dari penyakit TB tidak boleh putus minum obat secara rutin. Kalau sudah TB-MDR, penderita wajib minum obat paling lama dua tahun,” kata Kepala Seksi (Kasi) Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Whenny Dyah.

Karena itu ketika statusnya masih penderita TB, dianjurkan kepada penderita jangan sampai berhenti minum obat selama enam bulan. Apabila berhenti minum obat, bisa menjadi TB-MDR.

Whenny, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa jumlah penderita TB-MDR sejak 2013 hingga 2019 alami kenaikan. Di antaranya, pada 2013 ada 1 penderita; 2014 (2 penderita); 2015 (5 penderita); 2016 (7 penderita); 2017 (17 penderita); 2018 (9 penderita); dan 2019 (13 penderita).

“Kemauan penderita TB untuk sembuh harus tinggi, karena memang banyak yang bosan harus rutin minum obat. Sehingga mangakibatkan virusnya berubah menjadi TB-MDR,” jelasnya.

Sementara itu, target temuan penderita TB tahun ini sebanyak 2.377 kasus. Per Oktober ini sudah ada 1.324 kasus atau sekitar 55 persen. Whenny mengatakan, dalam kurun waktu dua bulan ini tak menutup kemungkinan ada lonjakan jumlah kasus. Karena biasanya pengumpulan data dari beberapa puskesmas belum valid. Masih ada perubahan.

Selain itu, diupayakan juga tahun depan menambah alat tes cepat molekuler agar bisa lekas mengetahui hasil dari pengecekan dahak. Saat ini, baru ada dua alat di Bojonegoro, yakni di RSUD dr Sosodoro Djatikoesoemo dan Puskesmas Dander. Program 1-15 juga terus digalakkan. Petugas puskesmas akan mengecek 15 orang di sekeliling 1 orang penderita TB.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Totok Ismanto menambahkan, penderita TB masih kerap mendapat stigma masyarakat. Sehingga, kesembuhan penderita butuh dukungan orang terdekat. Saling menjaga dengan selalu menggunakan masker.

Ia mengimbau agar kondisi rumah tidak lembap. Biarkan sinar matahari masuk ke rumah. Justru sinar matahari mampu membunuh bakteri TB. “Perlu adanya pendampingan keluarga agar si penderita TB tak berhenti minum obat,” tegasnya.

(bj/gas/rij/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia