Minggu, 15 Dec 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Bojonegoro
ADD Desa di Kecamatan Gayam Tertinggi

Gayam dan Mojodelik Tembus Rp 3,6 M

Camat Sarankan Kades Hati-Hati

30 Oktober 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Pemerintah desa (pemdes) di Kecamatan Gayam, mendapatkan alokasi dana desa (ADD) paling besar. Kenaikannya sekitar dua kali lipat di penghujung tahun ini. Tentu, aparatur desa di kawasan ring pengeboran minyak dan gas bumi (migas) ini harus kerja lebih keras.

Berdasar data, total anggaran ADD di Kecamatan Gayam tembus Rp 25 miliar. Dari 12 desa di kecamatan setempat, Desa Gayam dan Desa Mojodelik mendapat pagu ADD lebih dari Rp 3 miliar. Sedangkan desa lainnya, rerata mendapat pagu lebih dari Rp 1,5 miliar.

Data tersebut mengacu Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 33 Tahun 2019 tentang perubahan atas Perbup Nomor 6 Tahun 2019, tentang Besaran Sementara Alokasi Dana Desa (ADD) Bagi Hasil Pajak Daerah, dan Bagi Hasil Retribusi Daerah, yang disahkan 21 Oktober lalu.

''Tertinggi tetap di Gayam. Salah satu sebabnya karena penghasil migas,'' kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Bojonegoro Djuono Poerwiyanto.

Dia menuturkan, besaran ADD antardesa berbeda. Sebab, untuk menentukan besarannya mengacu beberapa indikator. Selain jumlah penduduk, juga dari kontribusi desa terhadap pendapatan pemerintah.

Kenaikan ADD ini diharapkan bisa mempercepat pembangunan. Sebab, kenaikan di penghujung tahun ini, jika tak segera diserap, dikhawatirkan menjadi sisa lebih pembiayaan anggaran (silpa). Terutama untuk desa di Kecamatan Gayam.

Sebab, nominal ADD di masing-masing desa di Kecamatan Gayam itu lebih dari Rp 1,5 miliar sampai dengan Rp 3,5 miliar. ''Sudah saya kumpulkan. Dan saya minta untuk hati-hati,'' tegas Camat Gayam Agus Hariyana.

Dia menuturkan, sesuai hasil koordinasi dengan kepala desa di Kecamatan Gayam, diminta tidak digunakan untuk fisik saja. Sebab, mendekati akhir tahun ini, sudah mulai masuk musim hujan. Sehingga potensi keterlambatan pekerjaan cukup besar.

Agus menyarankan, jika digunakan fisik diarahkan bukan untuk pembuatan, sebaliknya perawatan. ''Misalnya pengecatatan balai desa. Atau program pemberdayaan masyarakat,'' ujar pria yang sebelumnya menjabat sekretaris dinas perdagangan ini. (msu/rij)

(bj/msu/rij/yan/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia