Minggu, 15 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal
Cabuli Bocah 6 Tahun, Mbah To Divonis 8 Tahun

Siswi SMP Korban Pencabulan Diskors Tiga Minggu

29 Oktober 2019, 15: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

LAMONGAN – Sa, 14, siswi SMP asal wilayah utara yang menjadi korban pemerkosaan dan penganiayaan dari pacarnya, Ma, 17, tidak diizinkan bersekolah dulu. Dia diskors pihak sekolahnya selama tiga minggu, terhitung sejak 14 Oktober lalu.

Seksi Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Lamongan, Suparkan, menuturkan, pekan lalu pihaknya ke dinas pendidikan (disdik) setempat. Pihaknya meminta korban tetap bisa mendapatkan haknya untuk bersekolah, meskipun proses hukum masih berjalan.

‘’Mt (kepala sekolahnya Sa) ternyata memberikan surat skors selama tiga minggu langsung ke anaknya tanpa memanggil orang tuanya terlebih dulu. Jadi orang tua juga kaget kenapa langsung diskors?,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (28/10).

Suparkan mengklaim bersama tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) telah menemui Mt. Versi dia, Mt mengaku menyesal telah memberikan skorsing sepihak terhadap Sa.

‘’Skorsing itu masukan dari komite, bukan murni dari kepsek (kepala sekolah). Mt mengaku khilaf jika keputusan skorsing itu kurang sesuai. Namun dia bersedia memberi rekomendasi pindah sekolah ke tempat lain. Minggu depan Sa sudah mulai sekolah lagi,’’ imbuhnya.

Orang tua Sa saat ini telah mendaftarkan putrinya ke SMP lain. Kemarin (28/10) Mt juga hadir di Pengadilan Negeri (PN) Lamongan. Dia diperiksa sebagai saksi. Saat hendak dikonfirmasi awak media, dia menghindar serta enggan berkomentar.

Sementara itu, Mbah To, 70, dinyatakan majelis hakim PN Lamongan terbukti melakukan pencabulan terhadap tetangganya yang berusia enam tahun. Kemarin (28/10), kakek asal kecamatan di wilayah barat Lamongan itu  divonis pidana penjara selama delapan tahun dan denda Rp 100 juta subsider tiga bulan kurungan. Vonis tersebut lebih ringan daripada tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sri Septi Haryanti, pidana penjara selama sepuluh tahun dan denda Rp 100 juta subsider tiga bulan kurungan.

 ‘’Menyatakan terdakwa Mbah To terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya sebagaimana dalam dakwaan ke satu penuntut umum,’’ kata hakim.

Usai mendengar vonis dari majelis hakim yang terdiri atas Agus Akhyudi, Agusty Hadi Widarto, dan Jantiani Longli Naetasiitu, kakek dua cucu tersebut lantas berkonsultasi dengan penasihat hukumnya. ‘’Pikir-pikir Pak,’’ jawab Mbah To.

Jika selama sepekan belum menentukan sikap, maka terdakwa dianggap menerima putusan tersebut.

(bj/din/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia