Senin, 09 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Hamil Duluan, 50 Anak Ajukan Dispensasi Nikah

28 Oktober 2019, 15: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

Ilustrasi

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan – Diam-diam kasus hamil di luar nikah anak-anak di bawah umur cukup banyak di Lamongan. Dalam 10 bulan terakhir tercatat ada 50 pemohon dispensasi menikah di Pengadilan Agama (PA) Lamongan. Sebagian besar dengan alasan hamil di luar nikah.

Humas PA Lamongan, Achmad Sofwan mengatakan, pemohon dispensasi nikah didominasi dari pihak perempuan dengan latar pendidikan terakhir SD dan SMP. Sedangkan pihak laki-laki memiliki latar pendidikan terakhir beragam. Mereka terpaksa menikah karena pihak perempuan yang masih belia hamil di luar nikah.

‘’Akibat pengaruh teknologi dan pergaulan bebas. Di mana anak-anak bisa mengakses gambar atau video yang tidak senonoh. Dari situ ‘kan mereka kepikiran untuk mencoba hal tersebut tanpa berpikir akibatnya. Sesuai perundangan, yang diperbolehkan menikah, minimal laki-laki usia 19 tahun dan perempuan 16 tahun,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (27/10).

Dalam persidangan, lanjut dia, orang tua atau wali yang paling banyak dicecar pertanyaan oleh hakim. Karena mereka yang paling bertanggung jawab atas kasus pernikahan dini. Majelis hakim bisa mempertimbangkan asas manfaat dan mudarat dari permohonan yang diajukan. Jika sifatnya sebagai solusi untuk kemaslahatan keluarga, maka asas manfaatlah yang akan diambil. Namun jika sifatnya darurat untuk mendapatkan kepastian (legalisasi), maka asas mudarat yang akan diambil.

Dia menjelaskan, pasangan yang menikah dalam usia belia juga rentan bercerai karena faktor ekonomi. Mayoritas pihak laki-laki belum memiliki penghasilan yang cukup untuk menafkahi istrinya. Hakim dalam persidangan juga akan menyinggung perencanaan finansial saat mereka sudah menikah nanti. ‘’Biasanya akan di-back up orang tuanya dulu sampai nanti punya penghasilan tetap. Ada pula pihak laki-laki yang sudah punya tabungan atau warisan dari orang tuanya yang dirasa cukup untuk menjamin kebutuhan rumah tangganya,’’ ungkapnya. (din/feb)

(bj/din/feb/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia