Senin, 09 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features
Menggembala Lebah Madu di Musim Kemarau

Membaca Tanda Alam dari Menurunnya Produksi Madu

Oleh: M. NURKOZIM

27 Oktober 2019, 14: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

SERING PINDAH:  Peternakan lebih madu di Desa Sidobandung, Kecamatan Balen yang baru sepuluh hari berada di desa setempat.

SERING PINDAH: Peternakan lebih madu di Desa Sidobandung, Kecamatan Balen yang baru sepuluh hari berada di desa setempat. (MOCHAMAD NURKOZIM/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

PETERNAK lebah madu ini ibarat penggembala ternak. Mereka nomaden atau berpindah-pindah tempat. Terutama pada musim kemarau seperti sekarang ini. Harus dipilih tempat yang memiliki banyak tanaman berbunga.

Jarum jam menunjukkan pukul 13.30 ketika Jawa Pos Radar Bojonegoro tiba di sebuah area peternakan madu nomaden di Desa Sidobandung, Kecamatan Balen. Peternakan madu tersebut berbeda dengan budidaya lebah madu pada umumnya yang menempati kawasan perkebunan dengan pepohonan sekitar yang lebat. Di Sidobandung, peternakan madu berada di area pohon jati. Lokasinya hanya berjarak sekitar 500 meter dari timur pemukiman warga. Persisnya di tepi jalan menuju Desa Mayangkawis, Kecamatan Balen.

Di bawah pohon-pohon jati tersebut ditempatkan 130 kotak kayu tempat bersarangnya lebah penghasil madu. ‘’Di sini, kami baru sepuluh hari,’’ ujar Mulyono, penjaga peternakan tersebut.

Dia menerangkan, lokasi tersebut dipilih karena masih banyak tanaman berbunga. Terutama bunga yang tumbuh liar. ''Itu sangat membantu produktifitas lebah,'' ujar dia. Ya, tumbuhan berbunga menjadi faktor terpenting dalam beternak lebah.
Tanpa memberi makan, lebah-lebah tersebut akan mencari makanan sendiri. Yakni, sari bunga di sekitar lokasi peternakan.

Wahyu Sertyawan, pengelola peternakan itu menambahkan, pemilihan lokasi tidaklah mudah. Apalagi pada musim kemarau seperti sekarang ini. Sebab, tak banyak tumbuhan berbunga pada musim kemarau. ‘’Kalau di lokasi yang kering ya lebahnya bisa tidak produktif,’’ tutur pria asal Kecamatan Purwosari itu.
Karena itulah, beternak lebah madu seperti dirinya tidak bisa permanen. Harus berpindah-pindah tempat dalam waktu tertentu. Itu karena mengikuti kondisi lokasi.

Jika produktivitas lebah menurun, itu berarti tanda alam yang mengharuskan lokasi budidaya segera pindah ke tempat yang lebih banyak bunganya.
Madu yang dihasilkan lebah baru bisa dipanen setiap dua minggu sekali. Wahyu mengatakan,  130 kotak budidaya lebah madu bisa menghasilkan sekitar 200--300 liter madu madu.

(bj/zim/ds/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia