Kamis, 23 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Kecamatan Balen Ada 61 Balita

Setahun 800 Balita Stunting

24 Oktober 2019, 11: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

BUTUH GERAK CEPAT: Beberapa ibu mengajak putra-putrinya saat pencegahan stunting di Desa Sidobandung, Kecamatan Balen kemarin (23/10).

BUTUH GERAK CEPAT: Beberapa ibu mengajak putra-putrinya saat pencegahan stunting di Desa Sidobandung, Kecamatan Balen kemarin (23/10). (CHAHYA SYLVIANITA/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Temuan 800 balita stunting baru selama setahun ini menjadi pekerjaan berat yang harus dituntaskan. Terutama untuk menurunkan prevalensinya. Data tersebut per September 2018 hingga September 2019.

Sedangkan, di Kecamatan Balen, dari 23 desa, terdapat 61 balita stunting. Butuh komitmen dan kerja keras untuk menurunkan angka stunting. Berdasar data dinas kesehatan (dinkes), ada 6.941 balita stunting di Bojonegoro. Data tersebut bukan hanya selama setahun. Namun merupakan kalkulasi dari keseluruhan data stunting.

’’Indikasi kinerja utama ada pada 800 balita stunting. Tapi, sisanya 6.141 tetap harus diselesaikan. Jadi saya yakin peningkatan sumber daya manusia (SDM) dengan penanganan stunting ini sangat baik,’’ kata Bupati Anna Mu’awanah saat mendatangani penanganan stunting di Desa Sidobandung, Kecamatan Balen, kemarin (23/10).

Bu Anna mengatakan, Bojonegoro harus melakukan gerakan cepat dengan penanganan maksimal. Dalam artian, terdata berapa jiwa bisa diselamatkan dari stunting. Mulai dari melihat tempat tinggal, pekerjaan orang tua, dan kehidupan ekonomi.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinkes Fitri Munika Pitaloka mengatakan, setiap tahun harus dapat menurunkan angka stunting meski tidak ada target. Sebab, stunting berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM).

Fitri mengatakan, sebanyak 694 balita beserta ibu diundang. Sedangkan, kegiatan difokuskan pada balita berumur dua tahun pertama yang memiliki tanda-tanda stunting. Kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) menjadi pengaruh terbesar penyumbang angka stunting.

’’Setiap tahun harus bisa menurunkan angka stunting. Sebab, akan ada evaluasi mengukur indikator kinerja seperti yang dikatakan Ibu Bupati tadi,’’ ucap perempuan yang merangkap sebagai humas dinkes ini.

Disinggung mengenai data per kecamatan? Dia menjelaskan, akhir tahun akan dipaparkan. Sebab, saat ini baru data sekilas, dan akhir tahun waktunya evaluasi.

Perlu diketahui, angka kehamilan di Bojonegoro sebanyak 19.000 dan membutuhkan pemahaman semenjak janin agar stunting bisa dicegah dan penanganan cepat. Sebab, 2017 ada 5.755 balita stunting. Pada 2018 naik menjadi 7.050. Kembali turun pada 2019 menjadi 6.941.

Menurut dia, penanganan kepada balita khususnya bayi pada 1000 hari pertama. Mulai dari masa kehamilan, melahirkan, sampai bayi berusia dua tahun menjadi penanganan pertama. Faktor kebersihan dan kesehatan rumah, gizi baik, sanitasi baik, ASI eksklusif hingga enam bulan, memberi makanan pengganti ASI atau MPASI, dan imunisasi lengkap termasuk vitamin A menjadi cara penanganan stunting.

Camat Kecamatan Balen Husnan mengatakan, dari 23 desa di Kecamatan Balen ditemukan 61 balita stunting. Dia mengatakan, perlu kesadaran bersama dari seluruh kader pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK) di desa Kecamatan Balen.

’’Semoga 2020, 61 balita stunting bisa berkurang,’’ katanya.

Menurutnya, menurunkan angka stunting ada dua cara. Pertama, berkolaborasi dengan dinkes, kepala puskesmas, dan bidan desa. Kedua, melakukan edukasi kepada ibu-ibu akan memiliki anak.

(bj/cs /rij/yan/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia