Sabtu, 25 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Peristiwa
Jadi Momok, Belum Sebulan Terjadi 26 Kebakara

Korsleting Listrik, Siapa Harus Mencegah?

24 Oktober 2019, 10: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

JADI MOMOK: Warga berusaha memadamkan api yang membakar rumah Lasdi, warga Desa Palembon, Kecamatan Kanor, kemarin sore.

JADI MOMOK: Warga berusaha memadamkan api yang membakar rumah Lasdi, warga Desa Palembon, Kecamatan Kanor, kemarin sore. (Istimewa)

Share this      

Kebakaran seakan menjadi momok dalam bulan ini. Hingga 23 Oktober 2019, sudah terjadi 26 kejadian kebakaran. Di antaranya menimpa 9 rumah, 6 kandang, 10 titik lahan, dan 1 gudang oven tembakau. Korsleting listrik masih mendominasi.

KEPANIKAN mendadak terjadi di permukiman warga RT 03/RW 02 Desa Palembon, Kecamatan Kanor, kemarin (23/10) sore. Warga bergegas keluar rumah dan memadamkan api yang membakar rumah Lasdi, 60.

Sekitar pukul 15.15 itu, sinar matahari masih terik. Tiupan angin membuat rumah berbahan kayu itu ludes dengan cepat. Warga berusaha memadamkan kobaran api. Mulai menyiram dengan air, hingga memotong pohon pisang agar api tak menjalar.

Kebakaran yang melanda rumah Lasdi ini diduga karena paginya, korban membakar kabel di utara rumah. Jaraknya sekitar 10 meter. Sebelum pergi mencari barang bekas, korban sudah memadamkannya. Diduga api dari sisa membakar kabel, karena waktu ditinggal asap masih mengepul.

Kejadian ini menambah daftar panjang kebakaran dalam sebulan ini. Berdasar data dihimpun Jawa Pos Radar Bojonegoro, hingga 23 Oktober, terhitung sudah terjadi 26 kejadian kebakaran. Di antaranya menimpa 9 rumah, 6 kandang, 10 titik lahan, dan 1 gudang oven tembakau. Mengacu data itu, dikalkulasi, per hari ada kebakaran.

Penyebab kebakaran masih didominasi korsleting listrik, yakni 10 kali. Sedangkan, penyebab lainnya, 9 kali lupa matikan api usai bakar sampah, dan 5 kali lupa matikan kompor.

Diperlukan edukasi secara masif terkait mewaspadai korsleting listrik. Terutama Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sebab, korban kebakaran tentu akan merugi besar. Kehilangan rumah dan harta benda.

Menanggapi banyaknya penyebab kebakaran rumah atau kandang akibat korsleting listrik, Humas PLN Bojonegoro Hekso Wisoto mengatakan, bahwa para pelanggan seharusnya selalu menggunakan kabel, stop kontak, dan saklar berlabel SNI (standar nasional Indonesia).

Pihaknya selalu memantau apabila terjadi kebakaran yang disebabkan korsleting listrik. “Jangan lupa juga periksa ukuran kabel yang digunakan sesuai dengan kemampuan hantar arus listrik,” ungkap dia.

Selain itu, tugas serta wewenang PLN hanya sebatas KWH ampere listrik ke jaringan dan tagihan listrik pelanggan. PLN tak memiliki wewenang terkait instalasi listrik pelanggan. Karena itu, pelanggan PLN diimbau agar mengikuti saran yang dijelaskan di atas guna meminimalisasi terjadinya korsleting listrik.

Hal senada diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Pemadaman Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Bojonegoro Sukirno, bahwa di setiap lokasi kejadian kebakaran rumah atau kandang akibat korsleting listrik memang selalu ditemui kabel-kabel listrik tidak SNI.

Pun kerap kali ketika ada penambahan daya listrik, si pelanggan PLN tak menyesuaikan kabel berdasarkan daya listriknya. “Biasanya ada rumah yang daya listriknya 450 volt-ampere (VA), lalu suatu ketika kondisi ekonomi keluarga naik, daya listrik dinaikkan jadi 1.300 (VA), seharusnya kabel yang digunakan harus diganti menyesuaikan daya listriknya,” terangnya.

Terkait jumlah kasus kebakaran akibat korsleting listrik, memang kerap melanda bangunan rumah. Tetapi, ada juga yang disebabkan lupa mematikan kompor. Pun ada beberapa kasus disebabkan regulator gas elpiji bocor, lalu tersambar api.

(bj/gas/rij/yan/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia