Selasa, 10 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal
Pemilik asal Tuban, Tiga Karyawan Buron

Tiga Bulan Beroperasi, Pabrik Arak Digerebek

23 Oktober 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

DIGEREBEK: Alat penyulingan pembuatan arak. Kapolres meninjau lokasi pabrik arak di Desa Semenpinggir, Kapas, kemarin (22/10).

DIGEREBEK: Alat penyulingan pembuatan arak. Kapolres meninjau lokasi pabrik arak di Desa Semenpinggir, Kapas, kemarin (22/10). (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Pabrik arak di Desa Semenpinggir, Kecamatan Kapas, digerebek. Rumah sekaligus gudang berukuran sekitar 13x18 meter itu tak disangka memproduksi minuman keras.

Pemiliknya Panji, 26, warga Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Ia mengontrak rumah milik Suwito sejak tiga bulan lalu. Selama tiga bulan beroperasi, Panji memproduksi arak sekitar 15 kali. Sasaran arak itu akan dijual ke Kabupaten Jombang.

Kapolres AKBP Ary Fadli meninjau lokasi pabrik arak tersebut kemarin (22/10). Penggerebekan pabrik ditemukan 24 drum baceman atau berisi air sedang difermentasi. Per drum berisi air baceman 190 liter. Totalnya berisi air baceman 4.560 liter.

Selain drum, kepolisian menyita alat penyulingan atau proses membuat arak. Gudang beratap seng itu juga ditemukan arak siap edar. Jumlahnya 12 dus. Per dus berisi 12 botol ukuran 1,5 liter. Juga, menyita 18 plastik gula merah dengan isi 25 kilogram per bungkus, 60 lembar dus bekas, 8 bungkus ragi, 2 buah fermipan, 1.008 botol kosong, dan alat suling.

“Nantinya air baceman yang berjumlah 190 liter itu disuling menghasilkan miras arak sebanyak 54 liter. Pelaku ini selama tiga bulan sudah 15 kali produksi,” ujar kapolres saat konferensi pers di tempat kejadian perkara (TKP) kemarin (22/10) pagi.

Dia menjelaskan, proses fermentasi air dicampur gula merah, ragi, dan fermipan butuh sekitar 4 sampai 5 hari. Air baceman itu melalui proses penyulingan menghasilkan arak. Usai disuling, arak dimasukkan ke kemasan botol ukuran 1,5 liter. Lalu, ia bungkus ke dalam dus. Per dus seharga Rp 230 ribu atau Rp 19 ribu per botolnya.

Kepada Kapolres, Panji menyatakan mengeluarkan modal sekitar Rp 16 juta. Apabila dihitung berdasarkan jumlah 24 drum yang dimilikinya. Diperkirakan sebanyak 4.560 liter air baceman itu ketika disuling menghasilkan 1.296 liter arak. Ketika sudah dalam kemasan botol ukuran 1,5 liter, jumlahnya 864 botol.

Kemudian botol-botol masuk kemasan per dusnya 12 botol, jumlahnya 72 dus. Jadi ditaksir omzet pelaku sekitar Rp 16.560.000 per produksi.

Adapun, pelaku tidak berjalan sendirian. Menurut kapolres, masih ada tiga karyawan ikut membantu memproduksi arak. Diketahui ketiga karyawannya berasal dari Kabupaten Tuban.

Alasan pelaku memilih lokasi di Kecamatan Kapas karena di Tuban cukup kesulitan mencari lokasi. “Ketiga pelaku lainnya masih dalam pengejaran. Ketiganya warga Tuban,” tegas Ary, sapaannya.

Arak tersebut, menurut Panji, dipasarkan di wilayah Jombang. Dia kirim dus-dusan. Lalu di Jombang tinggal diecer. Arak buatan pelaku tidak laku di wilayah Bojonegoro maupun Tuban, hasil sulingannya keruh karena gunakan bahan gula merah. Sedangkan, di wilayah Bojonegoro atau Tuban para pembeli arak lebih suka bening seperti air mineral karena gunakan bahan gula pasir.

Sementara itu, pelaku sempat mempraktikkan proses pembuatan arak kepada kapolres. Pun menunjukkan kadar alkohol pada arak buatan pelaku dengan menggunakan alat alkohol meter.

“Ketika kami cek menggunakan alat alkohol meter milik pelaku, diketahui kadar alkoholnya kisaran 15-18 persen,” imbuhnya.

Atas perbuatannya, Panji terancam hukuman 15 tahun penjara. Panji dijerat pasal 204 KUHP dan pasal 137 ayat 1 dan pasal 135 UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.

(bj/gas/rij/yan/cho/min/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia