Jumat, 22 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro
Dua Perempuan Dinikahi Oknum JAD

Endus Jaringan Teroris di Bojonegoro

18 Oktober 2019, 12: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

ANTISIPASI: Ali Fauzi saat memberi pemaparan terkait antisipasi teroris, kemarin (17/10) di Kecamatan Kanor.

ANTISIPASI: Ali Fauzi saat memberi pemaparan terkait antisipasi teroris, kemarin (17/10) di Kecamatan Kanor. (M. NURCHOLISH/JAWA POS RADAR BOJONEGORO)

Share this      

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Ali Fauzi, mantan kombatan Bom Bali II memastikan antisipasi terhadap teroris di wilayah Bojonegoro diperlukan. Sesuai data yang dikantonginya, ada dua perempuan asal Bojonegoro yang menikah dengan oknum diduga tergabung dengan jaringan Jamaah Asharut Daulah (JAD).

Sehingga, pemerintah Kota Ledre ini diminta tetap waspada tentang penyebaran paham teroris. Sebab, perekrutan jaringan tersebut tak perlu bertatap muka langsung. Sebaliknya, bisa dilakukan melalui media sosial (medsos).

Hal itu disampaikan Ali Fauzi saat saat berdiskusi tentang Menyingkap Tabir Misteri Penusuk Menteri di Kecamatan Kanor kemarin (17/10). ’’Bojonegoro belum aman, karena ada dua perempuan yang dinikahi oleh oknum diduga tergabung jaringan teroris,’’ kata pria sebagai Direktur Lingkar Perdamaian itu.

Ali Fauzi menuturkan, langkah pencegahan jaringan teroris harus digalakkan, tidak bisa dilakukan sendirian oleh aparat kepolisian atau TNI. Sebaliknya, menggandeng semua elemen masyarakat. Sebab, perekrutan calon pengantin pelaku teror, saat ini lebih mudah dibanding dengan era awal-awal jaringan jamaah islamiyah. Jaringan JAD saat ini, bisa dilakukan tanpa tatap muka.

Namun, cukup melalui medsos, sehingga gerakannya tidak tampak. ’’Tapi ada kriteria khusus yang tergabung dalam jaringan itu,’’ tandas adik terpidana Bom Bali I, Amrozi itu.

Pria akrab disapa Manzi itu menceritakan, kriteria orang tergabung jaringan teroris, memiliki paham pemerintah dan semua penyelenggaranya itu salah. Dan, oknum tersebut memiliki banyak nama.

Selain itu, hidupnya berpindah-pindah. Dan kecenderungannya tidak suka berinteraksi dengan orang di sekitarnya. ’’Mereka (jaringan teroris) itu tertutup,’’ ungkap pria tinggal di Desa Trenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan itu.

Sementara itu, Kapolres Bojonegoro AKBP Ary Fadli akan mengedepankan langkah pencegahan. Sehingga jika terendus adanya warga Bojonegoro tergabung jaringan teroris, akan dilakukan pendekatan persuasif.

Dengan mengedepankan dialog, pencegahan konflik, pemberdayaan pemuda, melakukan kesetaraan gender, dan menjaga keamanan dunia maya dari paham radikal. ’’Kami akan mengedepankan soft approach,’’ kata polisi berpangkat dua melati di pundaknya itu.

(bj/msu/rij/yan/cho/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia