Minggu, 15 Dec 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Tuban
Pesan Ulama pada Haul Ponpes Langitan

Jaga Ideologi dan Tradisi

11 Oktober 2019, 13: 00: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

ULAMA DAN UMARO: Kodam V Brawijaya Mayor Jenderal TNI R. Wisnoe Prasetja Boedi bersama para ulama dan habaib pada puncak Peringatan Haul ke-49 KH Abdul Hadi Zahid di Ponpes Langitan, Widang kemarin (10/10).

ULAMA DAN UMARO: Kodam V Brawijaya Mayor Jenderal TNI R. Wisnoe Prasetja Boedi bersama para ulama dan habaib pada puncak Peringatan Haul ke-49 KH Abdul Hadi Zahid di Ponpes Langitan, Widang kemarin (10/10). (AHMAD ATHOILLAH/JAWA POS RADAR TUBAN)

Share this      

TUBAN, Radar Tuban – Puncak Peringatan Haul  ke-49 KH Abdul Hadi Zahid beserta para masyayikh Ponpes Langitan, Widang yang berlangsung kemarin (11/10) dihadiri ribuan jamaah. Baik santri, alumni, maupun masyarakat dari sejumlah daerah.

Puncak peringatan haul yang berlangsung di kompleks ponpes yang menjadi salah satu kiblat politik nasional tersebut dimulai sekitar pukul 12.00. Diawali pembacaan salawat, kemudian dilanjut dengan rotibul haddad, yasin, tahlih, dan mauidhotul hasanah oleh KH Ali Mashuri (Gus Ali) dan Habib Umar al-Muthohar dari Semarang.

Hadir dalam haul tersebut, Komandan Kodam V Brawijaya Mayor Jenderal TNI R. Wisnoe Prasetja Boedi, para pejabat forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda) di lingkup pemkab setempat, serta para ulama, dan habaib dari dalam dan luar Tuban.
Gus Ali muapun Habib Umar dalam mauidhoh-nya menyampaikan pentingnya menjaga ideologi, kemapanan ekonomi, dan tradisi. Ditegaskan Gus Ali, sebuah organisasi akan kuat jika memiliki ideologi yang kuat. Begitu juga dengan kemapanan ekonomi. Organisasi harus memiliki akar yang kuat serta kuat dalam menjaga tradisi atau budaya. ‘’Budaya orang NU salawatan, tahlilan, dan manakiban. Ini adalah tradisi NU, harus terus dijaga jika ingin organisasi NU ini kuat,’’ tegas dia.

Sementara itu, Habib Umar menambahkan, selain menjaga ideologi, kemampanan ekonomi, dan tradisi atau budaya, warga NU juga harus mengedepankan kebijaksanaan dan etika. Yakni, pantes atau tidak pantes. ‘’(Warga NU) harus bijaksana. Bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Bukan soal boleh atau tidak boleh (halal-haram), tapi pantes atau tidak. Sehingga akan menjadi orang yang bijaksana,’’ tuturnya. Selain itu, Habib Umar juga menegaskan pentingnya mengedepankan musyawarah.

(bj/tok/ds/yan/min/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia