Jumat, 22 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal

Pembuat Upal Ikut Diringkus

11 Oktober 2019, 12: 30: 59 WIB | editor : Amin Fauzie

UANG PALSU: Kapolres Lamongan, AKBP Feby DP Hutagalung, meminta tersangka Heri Susanto mempraktikkan cara mengelabui korban agar percaya dengan penggandaan uangnya.

UANG PALSU: Kapolres Lamongan, AKBP Feby DP Hutagalung, meminta tersangka Heri Susanto mempraktikkan cara mengelabui korban agar percaya dengan penggandaan uangnya. (ANJAR DWI PRADIPTA/JAWA POS RADAR LAMONGAN)

Share this      

LAMONGAN, Radar Lamongan -  Kasus penipuan penggandaan uang palsu (upal) di wilayah Kecamatan Ngimbang dan sekitarnya, berhasil diungkap tuntas.

Terakhir, pembuat upal yang diringkus. Dia adalah Romlan, 55, asal Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kecamatan Kenjeran, Surabaya. Tersangka diamankan di rumahnya.

‘’Penangkapan sudah lengkap. Setelah dukun, penyedia uang palsu, serta pencari pasien dan pembuat uang palsu telah diamankan,’’ kata Kapolres Lamongan, AKBP Feby DP Hutagalung.

Seperti diberitakan, polisi menemukan 2.989 lembar pecahan uang palsu Rp 100 ribu dan 102 lembar pecahan uang palsu Rp 50 ribu di rumah kontrakan di Desa Ngirik, Kecamatan Ngimbang. Uang tersebut digunakan menjerat korban yang bermimpi bisa kaya mendadak tanpa usaha.

Enam tersangka yang diringkus saat itu, Sinto, 39, asal Desa Kepel, Kecamatan Ngetos dan Supari, 45, asal Desa Sidorejo, Kecamatan Ngoro, Jombang; Heri Susanto, 58, asal Desa Sumber Tengah, Kecamatan Kalisat, Jember; dan Ahmad Hamid, 38, asal Temenggungan, Kecamatan Silomerto Wonosobo. Dua tersangka lainnya, Pariyanto, 36, dan Sampun, 42, keduanya asal Desa Sambikerep, Kecamatan Rejoso, Nganjuk.

Selain mengamankan upal, polisi juga menyita 8 emas batangan palsu, satu tas ransel merah, selembar kain putih dan merah, serta kardus untuk praktik.

Menurut Kapolres, para tersangka merencanakan dua bulan sebelum mencari kontrakan rumah. Setelah mendapatkan tempat, Romlan menyetujui transaksi dengan para korban dilakukan malam hari. Sebab, kualitas uang hasil cetakan melalui print tidak begitu bagus. Upal tersebut juga dimasukkan ke kardus untuk mengelabui korban agar percaya.

‘’Untuk korban, belum ada yang melaporkan ke polres. Tapi tak menutup kemungkinan sudah ada korbannya,’’ ujarnya.

Printer dan tinta ikut diamankan petugas sebagai barang bukti. ‘’Jadi jumlah uang palsu yang diamankan sebanyak Rp 304 juta,’’ kata Kapolres.

Menurut dia, uang hasil pencetakan sangat mudah diketahui ketidakasliannya. Sebab, lebih pudar, tidak seperti uang asli yang beredar.

Feby menduga tersangka kurang pengalaman dalam mencetak uang palsu. ‘’Membeli printer dan peralatan lainnya untuk mencetak, serta ongkosnya Rp 8 juta,’’ imbuhnya.

Romlan di hadapan petugas mengatakan, dirinya mengenal Sinto karena pernah bekerja di Nganjuk setahun yang lalu. Sinto datang ke rumahnya untuk meminta tolong dibuatkan uang palsu Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu.

‘’Saya membuat uang ini sudah 7 bulan yang lalu dan meminta jangan sampai diedarkan karena takut tertangkap,’’ ujarnya.

Versi dia, Sinto ingin mencetak uang palsu untuk permainan di rumah. Karena ongkosnya sangat menggiurkan, dia akhirnya mengerjakan order tersebut.

‘’Saya cetak. Uang asli di-scan dan di-print menggunakan kerta HVS,’’ katanya.

Sementara Heri Susanto di hadapan petugas mengatakan, dirinya dihubungi Sinto. Dia diminta berperan sebagai dukun palsu saat ada pasien.

Heri bertugas memerlihatkan uang palsu yang ditutup dengan kain putih dan merah. Agar terkesan meyakinkan, korban diminta menjalani ritual.

‘’Saya sendiri gak baca doa apa – apa. Hanya saja, mulut bergerak nampak seperti doa,’’ ujarnya.

Tawaran dari Sinto tersebut tak ditolaknya karena Heri dijanjikan mendapat bayaran Rp 200 juta bersama tersangka lainnya. Padahal secara logika, modal Rp 304 juta upal bila digunakan penggandaan, maka hanya mendapatkan Rp 152 juta. 

‘’Saya bekerja sebagai mindring baju sehari – hari di wilayah rumah,’’   aku Heri.

(bj/mal/yan/jar/min/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia